Notification

×

Iklan

Unusa dan UHT Luncurkan 5 PPDS Berbasis Hiperbarik dan Maritim, Jawab Krisis Dokter Spesialis

Senin, 23 Februari 2026 | Februari 23, 2026 WIB Last Updated 2026-02-23T12:05:51Z
KILAS JAVA, SURABAYA — Dua perguruan tinggi di Surabaya meluncurkan Program Pendidikan Dokter Spesialis (PPDS) secara bersama. Momentum yang digelar di Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) itu menandai penguatan pendidikan dokter spesialis berbasis kolaborasi dan diferensiasi keilmuan.

Peluncuran tersebut melibatkan Universitas Hang Tuah (UHT) Surabaya, yang menghadirkan lima program studi spesialis dari Fakultas Kedokterannya. 

UHT menempatkan terapi hiperbarik dan pendekatan kemaritiman sebagai kekhasan utama. Diferensiasi ini diarahkan untuk menjawab kebutuhan layanan kesehatan masyarakat pesisir dan kepulauan, sejalan dengan karakter Indonesia sebagai negara maritim.

Lima program spesialis itu mencakup Ilmu Kesehatan Anak, Anestesiologi dan Terapi Intensif, Jantung dan Pembuluh Darah, Obstetri dan Ginekologi, serta Bedah. Masing-masing dirancang dengan integrasi terapi oksigen hiperbarik dalam praktik klinisnya.

Pada program Ilmu Kesehatan Anak, pengembangan diarahkan pada terapi pediatrik neurohiperbarik untuk mendukung penanganan gangguan neurologis anak. 

Layanan ini ditopang fasilitas NICU dan Ambulans NETS atau Neonatal Emergency Transport System yang terintegrasi, guna memastikan stabilisasi dan transportasi neonatal risiko tinggi berlangsung cepat dan aman.

Program Anestesiologi dan Terapi Intensif menempatkan terapi oksigen hiperbarik sebagai bagian tata laksana pasien kritis di unit perawatan intensif. 

Kompetensi pelayanan juga diperluas hingga konteks Kapal Rumah Sakit, untuk mendukung sistem kesehatan maritim dan penanganan kegawatdaruratan di wilayah kepulauan.

Adapun spesialis Jantung dan Pembuluh Darah mengusung konsep kedokteran jantung maritim. Integrasi terapi hiperbarik diterapkan pada kasus kardiovaskular tertentu, sekaligus memperkuat aspek kesehatan jantung bagi masyarakat pesisir dan pelaut. 

Pada spesialis Obstetri dan Ginekologi, terapi hiperbarik dikembangkan sebagai inovasi pendukung tata laksana klinis tertentu dengan penekanan pada keselamatan pasien dan praktik berbasis bukti. Sementara pada bidang Bedah, terapi hiperbarik dimanfaatkan sebagai terapi adjuvan dalam kasus bedah vaskular untuk mempercepat penyembuhan luka dan meningkatkan oksigenasi jaringan.

Rektor Unusa, Triyogi Yuwono, menyebut peluncuran bersama ini sebagai simbol kolaborasi strategis antarperguruan tinggi dalam memperkuat layanan kesehatan nasional. Ia menilai pembukaan PPDS bukan sekadar ekspansi akademik, melainkan pernyataan komitmen untuk menghadirkan pendidikan dokter spesialis yang adaptif dan berbasis keunggulan institusi.

Menurut dia, kolaborasi menjadi kunci dalam menjawab tantangan transformasi sistem kesehatan nasional, termasuk persoalan kekurangan dan distribusi dokter spesialis yang belum merata.

Rektor UHT, Avando Bastari, menyatakan peluncuran lima PPDS tersebut merupakan dukungan konkret terhadap agenda pemerintah mempercepat pemenuhan dokter spesialis. Ia menekankan bahwa persoalan kesehatan Indonesia bukan hanya menyangkut jumlah tenaga medis, tetapi juga relevansi kompetensi dan pemerataannya di wilayah kepulauan.

UHT, kata dia, mengambil posisi strategis dengan membangun pendidikan spesialis berbasis kemaritiman dan terapi hiperbarik. Pendekatan ini diarahkan untuk memperkuat sistem pertahanan kesehatan nasional, terutama bagi masyarakat pesisir, daerah terpencil, dan kawasan kepulauan.

Ia menambahkan, lulusan PPDS UHT diharapkan tidak hanya unggul secara klinis, tetapi juga memiliki perspektif geopolitik kesehatan maritim. Dokter spesialis, menurut dia, harus siap bertugas di rumah sakit rujukan nasional, kapal rumah sakit, hingga wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Dekan Fakultas Kedokteran UHT, Benny Jovie, menyebut kehadiran lima PPDS itu sebagai respons akademik terhadap kebutuhan riil bangsa. Ia menegaskan integrasi terapi hiperbarik di berbagai bidang menjadi kekuatan unik fakultasnya.

FK UHT, kata dia, tidak sekadar mencetak spesialis, tetapi membangun ekosistem keilmuan yang adaptif terhadap tantangan masa depan, termasuk kegawatdaruratan maritim dan penyakit dengan kompleksitas tinggi. Fakultas tersebut menargetkan diri sebagai pusat pengembangan kedokteran hiperbarik dan maritim di Indonesia. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update