Kilas Java, Surabaya - Di tengah perdebatan panjang soal relevansi pendidikan vokasi dalam pembangunan sumber daya manusia, kisah Adinda Putri menghadirkan jawaban yang konkret. Bukan dalam bentuk jargon kebijakan, melainkan lewat lintasan karier yang ditempa oleh kompetensi, disiplin, dan keberanian mengambil risiko.
Lulusan Program Studi D3 Bahasa Inggris Fakultas Vokasi Universitas Airlangga ini kini menempati posisi presenter sekaligus produser berita di BeritaSatu.
Peran ganda tersebut menuntut lebih dari sekadar kemampuan tampil di layar. Ia harus menguasai logika editorial, manajemen liputan, hingga pengambilan keputusan cepat di ruang redaksi—sebuah wilayah kerja yang keras, kompetitif, dan nyaris tanpa toleransi bagi mediokritas.
Adinda adalah representasi human capital yang dibangun melalui jalur terapan.
Sejak mahasiswa, ia tidak semata mengejar indeks prestasi, melainkan menginvestasikan waktu dan energi untuk mengasah keterampilan komunikasi, public speaking, dan kepercayaan diri. Kampus vokasi, baginya, bukan ruang menunggu, tetapi laboratorium pembentukan profesional.
Pengalaman menjadi finalis Miss Indonesia 2015 memperluas spektrum sosial dan profesionalnya. Ajang tersebut tidak hanya menguji penampilan, tetapi juga kemampuan berpikir, berargumen, dan mengelola tekanan publik.
Dari sana, Adinda mulai dikenal sebagai figur komunikasi yang mampu menjembatani pesan dengan audiens luas—sebuah modal penting dalam industri media.
Sebelum menyelesaikan studi, Adinda telah direkrut Televisi Republik Indonesia. Selama tujuh tahun di lembaga penyiaran publik itu, ia menjalani fase akumulasi modal manusia: dari reporter lapangan hingga presenter. Ia juga mengisi ruang-ruang lain di industri kreatif, mulai dari penyiar radio, model iklan, host, aktris serial, hingga pengajar.
Diversifikasi peran ini membentuk fleksibilitas, daya tahan, dan kemampuan adaptasi—tiga kualitas utama dalam pasar kerja modern.
Namun Surabaya, yang memberinya banyak peluang, lambat laun berubah menjadi zona nyaman. “Aku sadar, kalau ingin tumbuh, aku harus keluar,” ujarnya.
Keputusan pindah ke Jakarta bukan sekadar perpindahan geografis, melainkan strategi mobilitas karier. Di ibu kota, kompetisi lebih padat, standar lebih tinggi, dan kegagalan menjadi risiko harian.
Delapan bulan terakhir, Adinda bergabung dengan BeritaSatu. Ia memulai dari posisi reporter dan presenter, sebelum kemudian dipercaya menjadi produser. Dalam struktur kerja ini, ia tidak lagi hanya menjadi wajah berita, tetapi juga otak di baliknya.
Ia menentukan sudut pandang liputan, menyusun alur siaran, dan memastikan berita memiliki nilai informasi sekaligus relevansi publik.
“Sekarang aku mengelola semuanya sendiri,” tuturnya. Kalimat itu merangkum pergeseran peran dari tenaga kerja operasional menjadi pengelola nilai.
Di luar redaksi, Adinda memilih untuk mengembalikan pengetahuan yang ia miliki ke ruang pendidikan. Ia menjadi dosen praktisi di Fakultas Vokasi UNAIR dan pengajar modeling.
Ia menyusun kurikulum secara mandiri, berbasis kebutuhan industri dan penguatan kapasitas personal peserta. Baginya, pendidikan adalah proses reproduksi human capital yang harus kontekstual, bukan seremonial.
Komitmen tersebut diperluas lewat pendirian komunitas CakapBerbicara pada 2024. Komunitas ini tidak berhenti pada pelatihan public speaking, tetapi juga membuka akses kerja nyata bagi anggotanya.
Mereka dilibatkan dalam berbagai kegiatan profesional sebagai perwara, pemateri, dan pengajar melalui kerja sama dengan institusi pendidikan, radio, dan mitra eksternal lainnya. Dalam praktik ini, Adinda memposisikan komunitas sebagai ekosistem pembelajaran sekaligus inkubator sosial.
Kerja di dunia media juga menuntut ketangguhan fisik. Ia pernah meliput arus mudik dengan mengelilingi tol Jawa Timur dalam kondisi berpuasa dan cuaca ekstrem.
Momen mimisan di tengah liputan menjadi pengingat bahwa produksi berita kerap menuntut pengorbanan personal. Dari pengalaman itu, ia belajar pentingnya manajemen energi dan disiplin menjaga kesehatan.
Bagi Adinda, ketidaknyamanan adalah bagian tak terpisahkan dari proses pembentukan profesional. “Situasi yang menuntut akan memaksa kita berkembang,” ujarnya.
Pernyataan itu mencerminkan etos kerja yang bertumpu pada kesadaran diri, bukan keluhan struktural.
Kisah Adinda Putri memperlihatkan bahwa human capital tidak lahir dari gelar semata, tetapi dari proses panjang pembelajaran, kerja keras, dan keberanian keluar dari zona nyaman.
Pendidikan vokasi, dalam konteks ini, berfungsi sebagai mesin awal—bukan akhir—dari perjalanan profesional. Dari kampus ke ruang redaksi nasional, lintasan itu dibangun oleh kompetensi yang terus diperbarui, bukan privilese yang diwariskan. (Red).



