Kilas Java, Jakarta - Isu perombakan Kabinet Merah Putih di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming Raka terus bergulir. Spekulasi tentang siapa saja yang berpeluang mengisi kursi menteri menjadi perbincangan rutin di ruang-ruang politik.
Di antara sejumlah nama yang disebut, Danang Wicaksana Sulistya termasuk figur yang mulai diperhitungkan.
Nama anggota DPR RI Fraksi Gerindra ini mengemuka dalam berbagai pemberitaan terkait potensi masuknya kader partai ke lingkar eksekutif. Ia juga disebut sebagai salah satu alumni SMA Taruna Nusantara yang dinilai memiliki peluang masuk kabinet.
Dalam konteks konsolidasi kekuasaan pasca-Pilpres 2024, kemunculan nama Danang memperlihatkan adanya kecenderungan memberi ruang bagi kader yang dinilai matang secara politik dan teknokratis.
Secara politik, Danang Wicaksana Sulistya merupakan bagian dari generasi awal Partai Gerindra.
Ia ikut membangun partai sejak periode 2007–2008 dan bertahan melewati tiga kekalahan Prabowo sebelum kemenangan 2024. Dalam lanskap politik Indonesia yang kerap diwarnai pragmatisme dan mobilitas cepat, konsistensi jangka panjang seperti ini bukan perkara biasa.
Loyalitas itu kini dibarengi posisi strategis. Selain menjadi anggota DPR RI, Danang menjabat Ketua DPD Partai Gerindra Daerah Istimewa Yogyakarta. Perannya di parlemen, khususnya di Komisi V yang membidangi infrastruktur dan perhubungan, membuat namanya kerap muncul dalam pembahasan isu konektivitas, pembangunan jalan, hingga pemulihan pascabencana.
Latar belakang teknik sipil dan pengalaman sebagai kontraktor memberi nilai tambah tersendiri. Ia tidak hanya berbicara pada tataran normatif, tetapi juga teknis.
Dalam sejumlah rapat kerja dan pernyataan publik, Danang menyoroti pentingnya percepatan rehabilitasi infrastruktur dasar agar distribusi logistik dan bantuan dapat berjalan efektif di wilayah terdampak bencana. Ia juga mendorong optimalisasi program Inpres Jalan Daerah sebagai instrumen memperkuat konektivitas antarwilayah.
Di luar infrastruktur, perhatian Danang tertuju pada isu transmigrasi. Ia mendorong agar kawasan transmigrasi tidak lagi diposisikan sebagai proyek pinggiran, melainkan sebagai simpul pertumbuhan ekonomi baru.
Modernisasi pertanian, penguatan infrastruktur dasar, serta akses pasar menjadi agenda yang ia tekankan. Pandangan ini beririsan dengan gagasan kedaulatan pangan yang menjadi salah satu prioritas pemerintahan Prabowo Subianto.
Dalam diskursus ideologi, Danang pernah menjelaskan posisi Partai Gerindra yang menjadikan konsep Trisakti sebagai pedoman arah kebijakan. Ia mengurai prinsip kedaulatan politik, kemandirian ekonomi, dan kepribadian dalam kebudayaan sebagai fondasi program partai.
Kemampuan menjembatani bahasa ideologis dan bahasa kebijakan teknis menunjukkan kapasitas komunikasi publik yang relatif matang.
Faktor jaringan politik juga tak bisa diabaikan. Sebagai alumni SMA Taruna Nusantara Angkatan V, Danang berada dalam jejaring yang sama dengan sejumlah tokoh nasional seperti Sugiono, Agus Harimurti Yudhoyono, dan Prasetyo Hadi.
Dalam konteks pemerintahan, jejaring semacam ini kerap menjadi modal koordinasi dan kepercayaan.
Namun peluang itu tidak tanpa tantangan. Rekam jejak kekalahan dalam dua kontestasi pilkada di Sleman dapat menjadi catatan kritis.
Meski demikian, dalam praktik politik Indonesia, pengalaman kalah kerap menjadi ruang pembelajaran dan konsolidasi ulang. Alih-alih mundur, Danang tetap bertahan dan memperluas perannya di tingkat nasional.
Dari sisi popularitas, namanya belum seintens figur-figur Gerindra yang rutin tampil di layar kaca.
Namun di kalangan internal partai dan sejumlah pengamat, ia dinilai sebagai tipe pekerja struktural. Tidak terlalu menonjol di panggung, tetapi aktif di isu-isu substantif seperti infrastruktur, padat karya, dan konektivitas wilayah.
Jika Presiden Prabowo Subianto memutuskan memasukkan Danang ke dalam kabinet, langkah itu dapat dibaca sebagai penegasan dua hal.
Pertama, penghargaan terhadap kader yang tumbuh bersama partai dalam jangka panjang. Kedua, upaya memadukan loyalitas politik dan kapasitas teknis dalam model kabinet berbasis kompetensi.
Pada akhirnya, apakah Danang Wicaksana Sulistya benar-benar akan duduk di kursi menteri masih bergantung pada kalkulasi politik Presiden.
Namun profilnya memperlihatkan satu kecenderungan: munculnya figur-figur partai yang berupaya memadukan ideologi, teknokrasi, dan kerja senyap. Dalam dinamika kabinet Prabowo-Gibran, tipologi semacam ini berpotensi menjadi elemen penting dalam memastikan agenda pembangunan berjalan konsisten dan terukur. (Nay).



