Kilas Java, Surabaya - Majelis Senat Akademik Perguruan Tinggi Negeri Badan Hukum (PTN-BH) menggelar Sidang Paripurna di Gedung Airlangga Convention Center (ACC), Kampus MERR-C Universitas Airlangga (UNAIR), Jumat (6/2/2026).
Forum strategis ini mempertemukan pimpinan dan anggota senat akademik dari berbagai PTN-BH se-Indonesia untuk merumuskan arah kebijakan pendidikan tinggi di tengah dinamika global yang kian kompleks.
Sidang paripurna tersebut menghadirkan tokoh nasional Dr (HC) Drs H Muhammad Jusuf Kalla sebagai pembicara utama. Wakil Presiden RI ke-10 dan ke-12 itu memaparkan materi bertajuk Aspek Ekonomi Makro terhadap Perkembangan Pendidikan Tinggi dan SDM Unggul.
Tema ini dinilai krusial karena kondisi ekonomi global yang fluktuatif berimplikasi langsung terhadap tata kelola, pembiayaan, hingga daya saing perguruan tinggi nasional.
Dalam paparannya, Jusuf Kalla menegaskan bahwa pendidikan tinggi dan ekonomi makro memiliki hubungan yang saling memengaruhi.
Stabilitas ekonomi, menurut dia, menjadi fondasi utama bagi penguatan riset, inovasi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia lulusan perguruan tinggi.
Ia menjelaskan, tanpa dukungan ekonomi yang kokoh, perguruan tinggi akan menghadapi keterbatasan dalam mengembangkan kapasitas akademik, infrastruktur pendidikan, maupun ekosistem riset yang berkelanjutan.
“Pertumbuhan ekonomi yang stabil memungkinkan negara berinvestasi lebih besar pada pendidikan dan riset. Sebaliknya, pendidikan tinggi yang kuat akan melahirkan sumber daya manusia unggul yang menjadi motor penggerak pertumbuhan ekonomi,” ujar Jusuf Kalla.
Lebih lanjut, Jusuf Kalla menekankan pentingnya keberpihakan kebijakan ekonomi nasional terhadap sektor pendidikan tinggi sebagai investasi jangka panjang.
Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia tidak dapat dilepaskan dari perencanaan ekonomi yang terarah, konsisten, dan berkelanjutan.
Ia juga mengingatkan agar perguruan tinggi tidak berjalan dalam pola lama. Perubahan lanskap ekonomi global, disrupsi teknologi, serta tuntutan industri menuntut kampus untuk lebih adaptif dan responsif.
“Perguruan tinggi harus mampu membaca arah perkembangan ekonomi global. Kurikulum, riset, dan inovasi harus disesuaikan dengan kebutuhan zaman. Jika tidak adaptif, kita akan tertinggal dalam persaingan global,” tegasnya.
Sidang Paripurna Majelis Senat Akademik PTN-BH ini menjadi ruang refleksi sekaligus konsolidasi peran strategis perguruan tinggi dalam pembangunan nasional.
Berbagai pandangan dan gagasan yang disampaikan para pakar dan profesor diharapkan mampu memperkuat sinergi antara kebijakan ekonomi dan pendidikan tinggi.
Melalui forum ini, PTN-BH diharapkan semakin berperan sebagai lokomotif pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang unggul, inovatif, dan berdaya saing global, sekaligus menjadi pilar penting dalam menopang pertumbuhan ekonomi nasional yang berkelanjutan. (Red).



