Kilas Java, Surabaya - Timbunan sampah plastik kemasan, terutama jenis multilayer yang sulit didaur ulang dan nyaris tak memiliki nilai ekonomi, masih menjadi persoalan laten dalam sistem pengelolaan sampah di Indonesia.
Di tengah kompleksitas itu, tiga mahasiswa Universitas Airlangga (UNAIR) menawarkan pendekatan berbasis sistem melalui inovasi bernama Netra, sebuah reuse jar yang dirancang untuk digunakan hingga 50 kali.
Inovasi tersebut digagas oleh Ridhwan Fadly Saputra (FST 2022), Farrelindra Nadhif Islami (FTMM 2024), dan Muhammad Dafi Aritama (FST 2024). Atas gagasan itu, mereka meraih 4th Place Winner dalam ajang GreenGeneration: Sustainable Case Competition yang diselenggarakan oleh Nestle Indonesia Company pada 16 Februari 2026. Kompetisi berskala internasional tersebut diikuti lebih dari 3.600 tim dari berbagai negara.
Ridhwan, yang memimpin tim bernama Bismillah Sukses, menjelaskan bahwa Netra tidak berdiri sebagai produk tunggal. Sistem ini dilengkapi refill machine yang terintegrasi dengan outlet mitra serta kode QR unik pada setiap jar untuk memantau siklus penggunaan dari hulu hingga hilir.
Dengan skema tersebut, produsen, mitra distribusi, dan konsumen berada dalam satu arsitektur sistem yang memungkinkan pelacakan sekaligus pengendalian penggunaan kemasan.
Menurut Ridhwan, problem utama sampah plastik tidak semata terletak pada material, melainkan pada absennya sistem yang menghubungkan seluruh aktor dalam rantai pasok. Selama ini, kemasan multilayer cenderung berakhir di tempat pembuangan akhir karena tidak ekonomis untuk dipilah dan didaur ulang. Transisi menuju kemasan berkelanjutan, kata dia, menuntut desain ekosistem yang menyatukan kepentingan produsen, konsumen, hingga pengelola sampah dalam satu mekanisme yang terukur.
Kompetisi GreenGeneration, lanjutnya, mendorong peserta melihat persoalan secara strategis dan menyeluruh.
Tantangan terbesar bukan hanya merumuskan inovasi, melainkan membangun model bisnis dan alur implementasi yang realistis dalam waktu terbatas. Dalam proses itu, tim UNAIR mengandalkan kolaborasi lintas jurusan untuk menyatukan perspektif teknis dan manajerial.
Sebagai satu-satunya perwakilan UNAIR yang menembus 20 besar dan melaju ke babak final, mereka harus menyusun kerangka solusi terintegrasi dalam tempo singkat.
Pembagian tugas dilakukan berdasarkan kompetensi masing-masing anggota. Pendekatan tersebut memungkinkan tim merumuskan desain solusi yang tidak berhenti pada ide, tetapi juga mempertimbangkan aspek operasional, monitoring, dan keberlanjutan finansial.
Bagi Ridhwan, pengalaman tersebut menegaskan pentingnya kolaborasi multidisipliner dalam menjawab real case problem di sektor industri. Inovasi, menurut dia, hanya akan relevan apabila mampu menjembatani kebutuhan pasar dengan urgensi lingkungan, serta didukung arsitektur sistem yang dapat dijalankan secara konkret. (Nay)

