Kilas Java, Probolinggo - Upaya transisi energi bersih di kawasan pesisir Indonesia memasuki babak baru. Institut Teknologi Sepuluh Nopember atau Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) bersama mitra dari Inggris mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) apung nearshore pertama di Indonesia melalui proyek Solar2Wave. Lokasi percontohan dipusatkan di Gili Ketapang, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur, Jumat, 13 Februari 2026.
Proyek ini merupakan kolaborasi pemerintah Indonesia dan Inggris melalui lembaga inovasi Innovate UK. PLTS berkapasitas 27,2 kilowatt tersebut dirancang untuk beroperasi di wilayah pesisir dangkal atau nearshore, dengan karakteristik perairan yang relatif tenang namun tetap terpapar dinamika laut.
Ketua Tim Peneliti Solar2Wave Indonesia, Prof I Ketut Aria Pria Utama, mengatakan kunjungan lapangan dilakukan untuk memastikan kesiapan teknis sekaligus menguji koordinasi lintas mitra. Menurut dia, pembagian peran dalam proyek ini berjalan sesuai desain awal.
Selain ITS dan Innovate UK, proyek melibatkan Universitas Pattimura, Cranfield University, Orela Shipyard, Gerbang Multindo Nusantara, Achelous Energy, HelioRec, serta pemerintah desa setempat.
“Dalam satu bulan ke depan, fasilitas ini ditargetkan dapat dimanfaatkan masyarakat. Kami ingin memastikan kebermanfaatannya tidak berhenti pada instalasi, tetapi berlanjut pada pengelolaan yang berkelanjutan,” ujarnya.
PLTS apung tersebut diharapkan mengurangi ketergantungan warga terhadap pembangkit berbasis diesel yang selama ini menjadi sumber listrik utama di wilayah kepulauan.
Selain menekan biaya operasional bahan bakar, sistem ini juga ditujukan untuk memperkuat ketahanan energi lokal dan menurunkan emisi karbon dalam jangka panjang.
Model pengelolaan energi akan diserahkan kepada Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) berbadan hukum.
Skema ini dipilih agar masyarakat memiliki kontrol langsung atas distribusi dan pemanfaatan listrik, termasuk untuk mendukung aktivitas ekonomi seperti produksi es balok bagi nelayan.
Innovation Lead Energy Innovate UK, Jillian Henderson, menilai proyek ini bukan sekadar demonstrasi teknologi.
Ia menyebut tantangan utama terletak pada proses adaptasi sosial dan komunikasi teknologi kepada masyarakat pesisir. “Teknologi hanya akan efektif jika dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh pengguna,” kata dia.
Kepala Desa Gili Ketapang, Monir, menyambut baik inisiatif tersebut. Menurut dia, ketersediaan listrik yang lebih stabil akan membantu aktivitas penyimpanan hasil tangkapan ikan, sehingga nelayan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada pasokan energi berbasis solar.
Secara strategis, proyek Solar2Wave selaras dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin energi bersih dan terjangkau, penanganan perubahan iklim, serta kemitraan global.
Lebih jauh, model PLTS apung nearshore ini diproyeksikan dapat direplikasi di berbagai wilayah pesisir Indonesia yang memiliki tantangan serupa: akses energi terbatas, biaya logistik tinggi, dan ketergantungan pada bahan bakar fosil.
Jika skema ini berhasil, Gili Ketapang bukan hanya menjadi lokasi uji coba, melainkan rujukan nasional bagi pengembangan energi terbarukan berbasis laut.
Bagi ITS, proyek ini mempertegas peran kampus bukan semata pusat pendidikan, melainkan simpul inovasi yang menjembatani riset, industri, dan kebutuhan riil masyarakat. (Nay).



