KILAS JAVA, SIDOARJO - Harapan melihat sabit tipis penanda awal Ramadan pupus di langit Jawa Timur. Rukyatul hilal yang digelar Kantor Wilayah Kementerian Agama Provinsi Jawa Timur, Selasa (17/2/2026), tak membuahkan hasil.
Dari 21 titik pengamatan yang tersebar di berbagai kabupaten/kota, tidak satu pun tim melaporkan kemunculan hilal.
Pemantauan dilakukan bertepatan dengan 29 Sya’ban 1447 H. Namun secara astronomis, posisi hilal masih berada di bawah ufuk mar’i saat matahari terbenam. Artinya, bulan belum mungkin terlihat, baik dengan mata telanjang maupun alat bantu optik.
Data Tim Kemasjidan dan Hisab Rukyat Bidang Urusan Agama Islam Kanwil Kemenag Jatim mencatat tinggi hilal masih negatif.
Elongasinya pun belum memenuhi standar kriteria Menteri Agama Brunei, Indonesia, Malaysia, dan Singapura (MABIMS), yakni tinggi minimal 3 derajat dan elongasi minimal 6,4 derajat. Dengan parameter itu, peluang rukyat praktis tertutup.
Kepala Kanwil Kemenag Jatim, Akhmad Sruji Bahtiar, memastikan hasil pengamatan di seluruh titik seragam. “Hilal tidak terlihat karena posisinya masih di bawah ufuk. Dengan demikian, bulan Sya’ban digenapkan menjadi 30 hari,” ujarnya.
Laporan dari Jawa Timur telah dikirim ke Kementerian Agama RI sebagai bahan Sidang Isbat di Jakarta. Penentuan resmi 1 Ramadan 1447 H tetap menunggu keputusan pemerintah pusat.
“Kami mengimbau masyarakat menunggu dan mengikuti hasil Sidang Isbat,” tambahnya.
Adapun 21 lokasi rukyat meliputi Kota Blitar serta Kabupaten Pacitan, Banyuwangi, Probolinggo, Tuban, Madiun, Jombang, Gresik, Lumajang, Blitar, Jember, Trenggalek, Sampang, Ngawi, Pasuruan, Malang, Bondowoso, Mojokerto, Sumenep, Lamongan, dan Ponorogo.
Rukyatul hilal melibatkan unsur Kementerian Agama, hakim Pengadilan Agama, organisasi kemasyarakatan Islam, BMKG, ahli falak, perguruan tinggi, pondok pesantren, hingga tokoh agama. Sinergi ini dilakukan untuk memastikan proses berjalan objektif dan sesuai kaidah syariat serta regulasi.
Secara perhitungan hisab, awal Ramadan 1447 H diperkirakan jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026. Namun kepastian tetap menunggu pengumuman resmi pemerintah.
Dengan hasil ini, skema istikmal atau penyempurnaan bulan menjadi konsekuensi logis. Publik kini menanti ketukan palu Sidang Isbat sebagai penanda resmi dimulainya ibadah puasa. (Nay).



