Notification

×

Iklan

Iklan

Budaya K3 Masih Rapuh, Menaker Soroti Keselamatan Kerja di Industri

Selasa, 10 Februari 2026 | Februari 10, 2026 WIB Last Updated 2026-02-10T13:16:31Z
Kilas Java, Muara Enim — Masih tingginya angka kecelakaan kerja menjadi sinyal bahwa Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) belum sepenuhnya berakar sebagai budaya di lingkungan industri Indonesia. Keselamatan, selama ini, kerap dimaknai sebatas kepatuhan administratif terhadap aturan, bukan sebagai bagian dari cara berpikir dan bertindak sehari-hari di tempat kerja.

Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menilai, persoalan utama K3 bukan terletak pada kurangnya regulasi, melainkan pada lemahnya internalisasi nilai keselamatan dalam sistem kerja. Tanpa perubahan paradigma, aturan hanya akan menjadi formalitas yang kehilangan daya lindungnya.

“K3 tidak cukup dimaknai sebagai kepatuhan terhadap aturan. Keselamatan harus menjadi budaya kerja. Manusia harus dipandang sebagai bagian dari solusi, bukan sebagai sumber masalah,” ujar Yassierli saat mengunjungi PT Bukit Asam di Muara Enim, Sumatera Selatan, Senin, 9 Februari 2026.

Menurut Yassierli, kecelakaan kerja hampir selalu merupakan akumulasi dari kegagalan sistem, mulai dari desain kerja, prosedur operasional, hingga pengendalian risiko yang tidak berjalan efektif. Menyederhanakan kecelakaan sebagai kesalahan individu justru menutup peluang perbaikan yang lebih mendasar.

Ia menegaskan, kesalahan manusia bukan akar persoalan, melainkan indikator adanya celah dalam sistem keselamatan. Karena itu, pendekatan K3 perlu bergeser dari pola menyalahkan pekerja ke upaya memperkuat sistem yang melindungi manusia.

Untuk mendorong transformasi tersebut, pemerintah mendorong penerapan lima strategi penguatan budaya K3. Pertama, edukasi berkelanjutan agar keselamatan dipahami sebagai kebutuhan, bukan kewajiban. Kedua, keterlibatan aktif pekerja dalam perencanaan dan pengawasan keselamatan. Ketiga, perbaikan sistem dan pemanfaatan teknologi keselamatan yang adaptif. Keempat, penegakan aturan yang konsisten. Kelima, evaluasi berkelanjutan berbasis pembelajaran dari insiden.

Pendekatan ini, kata Yassierli, menempatkan keselamatan sebagai hasil dari sistem yang dirancang secara sadar dan dijalankan secara konsisten, bukan sekadar reaksi setelah kecelakaan terjadi.

“Kesalahan manusia bukan penyebab utama kecelakaan. Itu tanda bahwa sistem belum cukup kuat. Maka perbaikan harus dilakukan terus-menerus,” ujarnya.

Lebih jauh, Yassierli menekankan pentingnya membangun budaya pelaporan yang terbuka dan bebas dari stigma. Organisasi yang sehat, menurut dia, adalah organisasi yang mampu belajar dari insiden, bukan yang sibuk mencari kambing hitam.

Dengan menghilangkan budaya saling menyalahkan, perusahaan diharapkan dapat memperkuat ketangguhan sistem keselamatan kerja sekaligus meningkatkan produktivitas jangka panjang. Dalam konteks ini, keselamatan bukan lagi biaya, melainkan investasi strategis bagi keberlanjutan industri. (Red).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update