Relawan ITS Temukan Kisah Haru Korban Gempa NTT: Anak SD Tetap Berharap Kembali Sekolah
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA - Tiga pekan setelah gempa melanda sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur (NTT), Tim Satgas Kemanusiaan Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) masih bergerak menyalurkan bantuan bagi para korban terdampak bencana.
Di tengah proses pemulihan yang belum usai, para relawan menemukan berbagai kisah tentang ketangguhan warga yang bertahan dalam kondisi serba terbatas.
Tim Satgas Kemanusiaan ITS menjangkau lima kabupaten di NTT, yakni Sikka, Nagekeo, Ende, Manggarai Barat, dan Manggarai Timur. Sejumlah wilayah masih menghadapi gempa susulan, sementara sebagian korban masih menunggu bantuan.
Tim ITS dijadwalkan berada di NTT selama satu bulan untuk mendukung penanganan pascabencana. Bantuan yang disalurkan meliputi tenda terpal, selimut, tas berisi bahan pokok, obat-obatan, vitamin, hingga perlengkapan kebersihan.
Selain itu, para relawan juga membantu pembangunan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan dasar masyarakat terdampak.
Salah satu anggota Tim Satgas Kemanusiaan ITS, Ahmad Ramadhani Prakoso, terlibat langsung dalam pendistribusian bantuan logistik. Ia bersama tim menemukan sejumlah kondisi warga yang membutuhkan perhatian lebih, salah satunya ketika melakukan penyisiran wilayah pada malam hari di Kabupaten Nagekeo.
Sekitar pukul 22.00 waktu setempat, Dhani, sapaan Ahmad Ramadhani Prakoso, bersama tim berkeliling di sekitar lokasi terdampak gempa. Saat melintas di sebuah tikungan gelap, seorang anak usia sekolah dasar memanggil mereka dari kejauhan.
Dhani kemudian menghampiri sumber suara tersebut. Di bawah tebing yang dikelilingi persawahan mati, ia menemukan sekitar 11 keluarga yang berkumpul dalam kondisi kedinginan. Rumah mereka telah runtuh akibat gempa sehingga mereka terpaksa bertahan dengan menggunakan karung goni sebagai selimut.
Di antara warga tersebut terdapat sejumlah lansia yang sedang sakit. Melihat kondisi itu, Dhani dan tim segera menyalurkan 11 tenda terpal beserta selimut kepada keluarga yang membutuhkan.
Bantuan tersebut disambut hangat oleh para korban. Mereka menjamu para relawan dengan teh dan menyampaikan rasa terima kasih atas bantuan yang diberikan.
“Kami dijamu hangat dengan teh dan mereka berulang kali berterima kasih,” ujar Dhani.
Kisah lain terjadi di Pos Kota Sambirampas yang menjadi salah satu lokasi basecamp Tim Satgas Kemanusiaan ITS. Seorang anak berusia sekitar tujuh tahun bernama Lalang datang mendekati para relawan sambil memperhatikan logistik yang dibawa tim.
Lalang kemudian bertanya kepada Dhani apakah salah satu tas tersebut diperuntukkan untuk dirinya. Ia mengaku sudah tidak memiliki tas dan seragam sekolah karena seluruh perlengkapan sekolahnya tertimbun bersama rumah yang runtuh akibat gempa.
Saat itu, ayah Lalang sedang sakit, sementara ibunya bekerja di kebun.
“Kami sudah tak punya tas, baju seragam, semua tertimbun di rumah runtuh kami, Bang,” kata Lalang.
Bagi Dhani, cerita Lalang menjadi pengalaman yang membekas. Di tengah kehilangan akibat bencana, anak tersebut masih menunjukkan keinginannya untuk kembali bersekolah. Dhani kemudian memberikan tas tersebut kepada Lalang.
Penyaluran bantuan kepada korban gempa NTT menjadi bagian dari komitmen ITS dalam mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya poin ke-3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta poin ke-11 tentang Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan. (Nayla).