AUN-SAN dan VOX Meeting UNAIR Dorong Kampus ASEAN Libatkan Suara Mahasiswa Hadapi Tantangan Global
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA – Perhelatan The 7th AUN-SAN (ASEAN University Network-Student Affairs Network) Annual Meeting dan 2nd VOX Meeting di Universitas Airlangga (UNAIR) resmi berakhir. Forum tersebut meneguhkan komitmen perguruan tinggi di kawasan ASEAN untuk mengintegrasikan perspektif mahasiswa dalam penyusunan kebijakan institusi guna menghadapi dinamika kompetisi global.
Malam penutupan yang berlangsung pada Sabtu (5/9/2026) di Ruang THE IX Kampus-MERR C UNAIR berjalan dengan suasana penuh kebersamaan. Delegasi mahasiswa dari berbagai negara ASEAN menampilkan beragam produk budaya, mulai dari tari tradisional hingga pertunjukan budaya lainnya.
Tidak hanya menjadi ruang pertukaran gagasan, kegiatan tersebut juga memperlihatkan hubungan erat antarmahasiswa ASEAN melalui interaksi dan kolaborasi lintas negara.
Direktur Airlangga Global Engagement (AGE) Irfan Wahyudi SSos MComms PhD menilai tema Future Skills, Global Markets menjadi relevan dengan tantangan yang dihadapi mahasiswa saat ini. Menurutnya, perguruan tinggi perlu menyusun strategi penguatan keterampilan kerja, literasi digital, pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) secara bertanggung jawab, serta memperluas mobilitas mahasiswa lintas batas negara.
Irfan menyebut negara-negara ASEAN menghadapi persoalan yang serupa, mulai dari percepatan transformasi teknologi, perubahan kebutuhan pasar kerja, isu keberlanjutan, hingga ketimpangan sosial.
Dalam kondisi tersebut, ia menilai forum VOX Meeting memiliki peran penting karena menghadirkan perspektif langsung dari mahasiswa sebagai bagian utama dari ekosistem pendidikan tinggi.
“Mahasiswa tidak seharusnya disiapkan hanya untuk masa depan, tapi juga harus memiliki suara dalam membentuknya. Kebijakan kemahasiswaan yang baik diperluas ketika universitas mau mendengarkan mahasiswanya dan mengubah gagasan menjadi tindakan yang bermakna,” ujar Irfan.
Ia juga berharap jejaring AUN-SAN dapat berkembang lebih jauh dan menghasilkan dampak yang lebih konkret bagi perguruan tinggi di kawasan ASEAN.
“Sebuah jejaring menjadi bermakna ketika ia bergerak melampaui sekadar pertukaran informasi, dan mulai menciptakan solusi bersama, standar bersama, serta peluang bersama,” katanya.
Sementara itu, mahasiswa Program Studi Ilmu Hubungan Internasional Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UNAIR, Eugenius Nathaniel Christoffany, menjadi salah satu perwakilan yang membawa gagasan mengenai optimalisasi AI dan digitalisasi untuk menciptakan dampak sosial.
Bersama timnya, Nathan berhasil meraih penghargaan Best Ideas Innovation dalam forum tersebut. Ia menilai perkembangan AI merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari, khususnya di kawasan Asia Tenggara, sehingga diperlukan pendekatan adaptif dalam menghadapinya.
Menurut Nathan, penggunaan AI tidak seharusnya dibatasi melalui pelarangan, melainkan diarahkan melalui sistem pendidikan yang mampu menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi.
“Solusi dari kami adalah jangan pernah melakukan pelarangan terhadap penggunaan AI. Daripada melarang, kita harus mengubah sistem penilaian dari pihak universitas. Penting juga dipahami bahwa penggunaan AI ini tidak hanya untuk mahasiswa, tetapi juga harus dikuasai oleh seluruh tenaga pendidik dan dosen,” papar Nathan.
Berbekal pengalaman akademik global dalam mempelajari keberagaman budaya, Nathan berharap nilai positif dari kegiatan AUN-SAN dan VOX Meeting dapat terus disebarluaskan. Ia berharap semakin banyak mahasiswa di Asia Tenggara yang terdorong untuk berpartisipasi dalam forum serupa pada tahun-tahun mendatang. (Nayla).