Inovasi Olahan Matoa UNAIR Buka Peluang UMKM Baru bagi Mama Suku Arfak di Manokwari
0 menit baca
KILAS JAVA, MANOKWARI – Tim Ekspedisi Patriot (TEP) Universitas Airlangga (UNAIR) mendorong pengembangan potensi pangan lokal di Kabupaten Manokwari melalui inovasi olahan buah matoa. Dalam pendampingan yang berlangsung pada 5-15 Agustus 2026, tim yang dipimpin Mhd Zamal Nasution, SSi MSc PhD bersama tim berhasil menginisiasi pengembangan Distrik Warmare sebagai kawasan pengolahan dodol matoa.
Program tersebut menjadi bagian dari upaya pemberdayaan kelompok UMKM, khususnya perempuan atau mama, dengan melibatkan puluhan mama dari Suku Arfak.
Melalui pelatihan pengolahan pangan berbasis buah matoa, masyarakat setempat mulai mengembangkan berbagai produk turunan yang berpotensi menjadi komoditas unggulan Papua Barat.
Pelatihan tersebut menjadi pengalaman pembinaan pertama bagi warga di kampung tersebut. Meski demikian, proses transfer keterampilan berjalan dengan baik karena para mama Suku Arfak telah memiliki pengalaman dasar dalam mengolah pangan tradisional, salah satunya papeda.
“Pelatihan ini dimulai pada sore menjelang malam dengan sebanyak 20 mama Suku Arfak berkumpul di lokasi pelatihan, rumah Mama Ain. Mereka terlihat antusias mengikuti pelatihan kreasi dari buah matoa ini,” ujar Zamal.
Menurut Zamal, kemampuan dasar dalam mengolah papeda menjadi modal penting dalam proses pembelajaran. Tekstur papeda yang mengental dan kenyal saat dimasak memiliki prinsip pengolahan yang serupa dengan teknik pembuatan dodol maupun selai.
“Kemiripan proses ini membuat transfer ilmu dan penguasaan keterampilan baru berjalan lancar,” jelasnya.
Dari pelatihan tersebut, para mama berhasil menciptakan sejumlah inovasi berbahan dasar matoa. Produk yang dikembangkan antara lain dodol matoa dengan tekstur lembut, selai matoa dengan perpaduan buah nanas segar, es krim, stik renyah, hingga olahan kacang gurih.
Kreasi pangan tersebut juga dikembangkan melalui pemanfaatan bahan herbal untuk menghasilkan teh matoa. Selain itu, inovasi lain dilakukan dengan memadukan sambal khas lokal dan buah matoa sehingga menghasilkan cita rasa pedas manis yang khas.
Pengembangan produk olahan matoa ini tidak hanya diarahkan untuk meningkatkan keterampilan masyarakat, tetapi juga membuka peluang terbentuknya sentra UMKM Kampung Dodol Matoa di Warmare.
Dalam jangka pendek, kemampuan tersebut dimanfaatkan untuk menyediakan sajian dan hidangan dalam menyambut perayaan Natal dan tahun baru.
Sementara dalam jangka panjang, sentra produksi tersebut diproyeksikan mampu memperkuat posisi matoa sebagai produk unggulan olahan pangan khas Papua Barat.
Zamal menyebut, pengembangan pangan lokal juga memiliki peran dalam mendukung peningkatan kualitas gizi masyarakat. Produk turunan matoa yang dibuat secara rumah tangga dapat menjadi alternatif konsumsi sehat dibandingkan ketergantungan terhadap makanan olahan pabrik atau ultra-processed food yang kaya gula tambahan dan zat pengawet.
“Konsumsi berbagai produk turunan matoa buatan rumah dihadirkan sebagai alternatif sehat untuk menghilangkan ketergantungan masyarakat terhadap makanan olahan pabrik atau ultra-processed food yang kaya akan gula tambahan dan zat pengawet,” tutur Zamal.
Menurutnya, pembiasaan konsumsi makanan sehat dan bergizi yang diolah dari bahan lokal dapat menjadi salah satu langkah dalam menekan risiko gizi buruk, stunting, serta malnutrisi di Papua Barat secara berkelanjutan.
Program pendampingan ini juga mencerminkan keterlibatan masyarakat lokal dalam membangun kemandirian ekonomi berbasis potensi daerah. Pengembangan olahan matoa di Distrik Warmare menjadi bagian dari dukungan terhadap sejumlah target Sustainable Development Goals (SDGs), yakni SDG 12 tentang Responsible Consumption and Production, SDG 1 No Poverty, SDG 5 Gender Equality, SDG 8 Decent Work and Economic Growth, serta SDG 15 Life on Land. (Nayla).