Abdul Rohim: Pesantren Harus Jadi Benteng Akhlak di Era Teknologi dan AI
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA - Perkembangan teknologi informasi yang bergerak semakin cepat membawa tantangan baru bagi generasi muda. Di tengah derasnya arus informasi dan kemunculan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI), kemampuan menyaring informasi dinilai menjadi semakin penting agar perkembangan teknologi tidak berujung pada pergeseran akhlak dan moralitas.
Pembina Majelis Ar-Rohimin, Tambak Dalam Baru 1B, Surabaya, H. Abdul Rohim, mengatakan kemajuan teknologi merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari perkembangan suatu negara.
Namun, kemajuan tersebut tetap membutuhkan batas dan penyaringan, terutama ketika bersentuhan dengan kehidupan generasi muda.
“Kita memang tidak bisa memungkiri kemajuan teknologi saat ini, dan itu memang sudah bagian dari pertumbuhan suatu negara manapun di dunia, namun yang harus dilakukan adalah jangan terlalu larut dalam euforia teknologi, harus ada filter dari semua itu,” kata Abdul Rohim dalam wawancara eksklusif usai acara malam tirakatan.
Menurut dia, perkembangan teknologi tanpa dibarengi pengetahuan agama berpotensi memengaruhi akhlak dan moralitas generasi muda.
Karena itu, pendidikan agama dinilai memiliki posisi penting dalam membentuk cara berpikir dan sikap anak-anak ketika berhadapan dengan dunia digital.
Abdul Rohim menilai majelis taklim dan pondok pesantren memiliki peran penting dalam menghadapi kondisi tersebut.
Majelis taklim, menurut dia, setidaknya dapat memberikan pemahaman kepada masyarakat mengenai sikap yang semestinya dikedepankan ketika berselancar di dunia maya.
Sementara pondok pesantren, kata dia, sejak dahulu telah menjadi salah satu tempat yang berperan dalam menjaga akhlak dan moral manusia Indonesia.
“Jangan lupakan sejarah, ketika peristiwa 10 November dulu, yang menjadi penggerak lahirnya resolusi jihad adalah muncul dari pesantren dan para ulama,” tuturnya.
Bagi Abdul Rohim, sejarah tersebut menjadi pengingat bahwa perjalanan kemerdekaan Indonesia tidak dapat dilepaskan dari darah dan patriotisme.
Semangat itu, menurut dia, perlu menjadi bagian dari cara bangsa menghadapi tantangan setelah 81 tahun Indonesia merdeka.
Kini, ketika teknologi berkembang semakin cepat dan sulit dibendung, peran pondok pesantren dinilai perlu mendapat perhatian.
Perubahan zaman membawa perubahan pada generasi, termasuk dalam proses belajar dan cara menerima informasi.
“Ada yang namanya, generasi X, generasi Y atau generasi milenial, Gen Z, Gen Alpha hingga Gen Beta, ini semua perubahan dan perkembangan zaman yang tidak bisa kita pungkiri,” katanya.
Perbedaan generasi tersebut, menurut Abdul Rohim, menuntut adanya kedewasaan dalam menghadapi perubahan.
Kemajuan teknologi tidak cukup hanya diikuti dengan kemampuan menggunakan perangkat dan mengakses informasi, tetapi juga harus disertai kemampuan memahami dan menyaring informasi yang diterima.
Ia meyakini kemerdekaan Indonesia yang telah memasuki usia 81 tahun seharusnya menjadi momentum untuk menghadapi berbagai tantangan menuju Indonesia Emas.
Abdul Rohim juga melihat program pemerintah saat ini sebagai bagian dari upaya menjawab tantangan perkembangan teknologi informasi. Namun, keberhasilan program tersebut tetap bergantung pada masyarakat dan pihak-pihak yang menjalankannya.
Menurut dia, program pemerintah tidak akan berjalan secara sempurna apabila terdapat oknum yang justru merusak pelaksanaannya.
Persoalan tersebut, kata Abdul Rohim, kembali berkaitan dengan perkembangan teknologi informasi, terutama setelah kehadiran AI.
Masyarakat dinilai perlu memiliki kemampuan menyaring informasi agar tidak menerima begitu saja setiap informasi yang beredar.
Jika informasi diterima tanpa penyaringan, ia khawatir hal tersebut dapat menumbuhkan ketidakpercayaan masyarakat terhadap pemerintah.
“Ini kembali lagi kepada cara kita memberikan didikan kepada anak-anak kita, apakah kita akan membiarkan anak-anak kita terseret arus teknologi, atau kita mendidik mereka dengan cara memasukkan mereka ke pesantren,” tegasnya.
Dalam pandangannya, pesantren memiliki posisi penting sebagai benteng bagi generasi muda agar akhlak dan moral tetap terjaga di tengah perubahan zaman.
Abdul Rohim juga menyinggung munculnya kabar miring mengenai pondok pesantren. Menurut dia, informasi tersebut tidak semestinya digeneralisasi karena persoalan yang terjadi dapat berkaitan dengan segelintir oknum.
Ia mengibaratkan kondisi itu dengan kenyataan bahwa seribu kebaikan dapat rusak hanya karena satu kesalahan. Karena itu, informasi mengenai pesantren maupun isu lainnya perlu dilihat secara proporsional dan tidak diterima begitu saja.
“Ini yang saya maksudkan, bahwa semua informasi yang ada di media sosial jangan ditelan mentah-mentah, harus ada filter di situ, bagaimana caranya?, itu tadi, bersikap dewasa, matang dalam berpikir, harus punya pandangan jauh ke depan, apa dan bagaimana hal itu terjadi, kroscek dulu kebenarannya, baru kita menarik kesimpulan,” ujarnya.
Dalam konteks tersebut, peran pondok pesantren dalam pembangunan insan berakhlak ditempatkan bukan semata sebagai lembaga pendidikan agama, tetapi sebagai ruang pembentukan sikap dalam menghadapi perubahan zaman.
Pendidikan agama menjadi dasar agar generasi muda tidak hanya mampu mengikuti perkembangan teknologi, tetapi juga memiliki pertimbangan dalam menentukan apa yang layak diterima dan dilakukan.
Menurut Abdul Rohim, keberadaan majelis taklim, pengajian, mimbar selawat, serta berbagai kegiatan syiar Islam dapat menjadi titik awal untuk membangun kedewasaan dalam menghadapi perkembangan zaman.
Hal itu sekaligus menjadi ruang bagi masyarakat untuk menggali ilmu agama dari sumber yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan. (Ir).