Notification

×

Iklan

Iklan

Universitas Terbuka Perkuat Kampung Lali Gadget sebagai Ruang Bermain dan Belajar Anak

Rabu, 24 Juni 2026 | Juni 24, 2026 WIB Last Updated 2026-06-24T13:24:58Z
KILAS JAVA, SIDOARJO — Hamparan sawah, halaman terbuka, permainan tradisional, dan interaksi langsung antarteman kini menjadi pemandangan yang semakin jarang ditemukan dalam keseharian sebagian anak. Meningkatnya penggunaan gawai membuat ruang bermain alami kian menyempit. Kondisi itu menjadi perhatian berbagai pihak yang mendorong penguatan Kampung Lali Gadget di Desa Pagerngumbuk, Kecamatan Wonoayu, Kabupaten Sidoarjo.

Upaya tersebut dibahas dalam Focus Group Discussion (FGD) yang digelar Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Terbuka pada Selasa, 23 Juni 2026. Forum ini mempertemukan pengelola Kampung Lali Gadget, pemerintah desa, pendamping lokal, orang tua, tokoh masyarakat, pemuda, serta tim pengabdian untuk merumuskan arah pengembangan kawasan sebagai ruang bermain dan belajar anak berbasis alam serta permainan tradisional.

Ketua FGD, Prof. Dr. Tri Dyah Prastiti, M.Pd., mengatakan perkembangan teknologi digital tidak dapat dihindari. Namun, anak-anak tetap membutuhkan ruang untuk beraktivitas secara langsung agar tumbuh secara seimbang, baik dari sisi fisik, sosial, maupun emosional.

“Tujuan kegiatan ini bukan menjauhkan anak sepenuhnya dari teknologi, tetapi membantu mereka membangun keseimbangan. Anak tetap perlu memiliki kesempatan bermain secara aktif, berinteraksi langsung, dan belajar dari pengalaman nyata,” ujarnya.

Kampung Lali Gadget lahir dari inisiatif masyarakat yang prihatin terhadap semakin tingginya intensitas penggunaan gawai pada anak. Melalui berbagai aktivitas luar ruang dan permainan tradisional, anak-anak diajak untuk bergerak, berkomunikasi, bekerja sama, berkreasi, serta mengenal lingkungan dan budaya lokal yang mulai terpinggirkan oleh aktivitas digital.

Dalam forum diskusi, peserta menyampaikan beragam pandangan mengenai kebutuhan anak-anak di lingkungan desa. Orang tua menyoroti pentingnya ruang bermain yang aman dan mendidik, sementara pengelola memaparkan berbagai program yang telah berjalan beserta tantangan yang masih dihadapi, mulai dari keterbatasan fasilitas hingga kebutuhan peningkatan kapasitas pendamping.

Sejumlah masukan juga mengemuka terkait pentingnya menghadirkan kegiatan yang sesuai dengan kelompok usia anak. Permainan tidak hanya dipandang sebagai sarana hiburan, tetapi juga medium pembelajaran yang mampu menumbuhkan keterampilan sosial, kepemimpinan, kreativitas, kemampuan komunikasi, hingga penguatan karakter.

Para peserta FGD sepakat bahwa Kampung Lali Gadget perlu terus dikembangkan menjadi ruang yang lebih ramah anak, aman, nyaman, dan edukatif. Penguatan fasilitas belajar luar ruang dinilai penting untuk menunjang berbagai aktivitas yang mendorong anak belajar melalui pengalaman langsung.

Selain sarana fisik, peran pendamping menjadi perhatian utama dalam pengembangan program. Pendamping tidak hanya bertugas mengawasi jalannya kegiatan, tetapi juga menciptakan suasana belajar yang menyenangkan, menjaga keselamatan anak, serta membantu menanamkan nilai-nilai positif yang terkandung dalam setiap permainan.

Dari hasil diskusi, sejumlah agenda pengembangan disepakati bersama. Di antaranya revitalisasi fasilitas belajar alam terbuka, penguatan permainan tradisional sebagai media edukasi, penyusunan kegiatan pembelajaran yang lebih terstruktur, peningkatan kompetensi pendamping, serta penguatan tata kelola program agar keberlanjutan Kampung Lali Gadget dapat terjaga.

Forum tersebut juga menegaskan pentingnya kolaborasi antara masyarakat, pemerintah desa, dan perguruan tinggi dalam membangun ruang tumbuh yang sehat bagi anak-anak. 

Melalui sinergi tersebut, Kampung Lali Gadget diharapkan mampu menjadi model pembelajaran berbasis komunitas yang menghadirkan pengalaman bermain, belajar, dan bersosialisasi secara seimbang di tengah derasnya arus digitalisasi kehidupan anak. (Ny).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update