Psikolog UNAIR: Orang Tua Harus Jadi Digital Mentor, Bukan Sekadar Melarang Gawai
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA – Hari Anak Nasional (HAN) 2026 menjadi pengingat bahwa fondasi utama tumbuh kembang anak tidak semata ditentukan oleh pendidikan formal atau kelengkapan fasilitas. Kualitas hubungan yang dibangun di dalam keluarga justru menjadi penentu kemampuan anak mengelola emosi, membangun empati, hingga menjalin relasi sosial yang sehat di masa depan.
Di tengah perubahan sosial yang dipicu perkembangan teknologi dan lahirnya Generasi Alpha, pola pengasuhan pun dituntut beradaptasi. Orang tua tidak lagi cukup berperan sebagai pemberi aturan, tetapi juga perlu menjadi pendamping yang mampu memahami kebutuhan emosional anak.
Dosen Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Dr. Primatia Yogi Wulandari, S.Psi., M.Si., Psikolog, mengatakan tantangan pengasuhan di Indonesia saat ini telah bergeser. Persoalan utama bukan lagi sebatas bagaimana mendisiplinkan anak, melainkan membangun hubungan yang hangat, aman, dan responsif di dalam keluarga.
Menurut Primatia, masih banyak orang tua yang memandang bentakan atau hukuman fisik sebagai bagian dari proses mendidik. Padahal, tujuan pengasuhan bukan menciptakan kepatuhan tanpa berpikir, melainkan membentuk anak yang mandiri, tangguh, dan sehat secara psikologis.
"Bukti ilmiah menunjukkan bahwa pengasuhan yang responsif, penuh kehangatan, sekaligus memiliki batasan yang jelas lebih efektif dalam membentuk pengelolaan emosi, rasa percaya diri, dan kemampuan anak menyelesaikan masalah," ujarnya.
Ia menjelaskan, pola asuh responsif menempatkan komunikasi sebagai fondasi utama. Anak akan lebih terbuka menyampaikan pikiran maupun perasaannya ketika merasa didengar, dihargai, dan tidak dihakimi.
Karena itu, orang tua disarankan membiasakan komunikasi dua arah secara konsisten. Salah satu langkah sederhana yang dapat diterapkan ialah active listening, yakni memberi kesempatan kepada anak menyelesaikan ceritanya sebelum orang tua memberikan tanggapan atau nasihat. Selain itu, memvalidasi emosi anak juga menjadi bagian penting agar mereka merasa aman mengungkapkan perasaannya.
Primatia menilai budaya komunikasi yang masih bersifat hierarkis di banyak keluarga Indonesia sering kali membuat anak enggan menyampaikan pendapat karena khawatir dianggap membangkang.
"Memberi ruang kepada anak untuk berpendapat tidak mengurangi kewibawaan orang tua. Sebaliknya, hal itu memperkuat kelekatan atau attachment sehingga anak akan mencari orang tuanya ketika menghadapi persoalan," katanya.
Selain membangun komunikasi yang sehat, perkembangan teknologi juga menghadirkan tantangan baru dalam pengasuhan. Kehadiran Generasi Alpha yang tumbuh bersama perangkat digital menuntut orang tua memiliki pendekatan berbeda terhadap penggunaan teknologi.
Primatia mengatakan pembatasan penggunaan gawai saja tidak lagi memadai. Orang tua perlu memahami dunia digital anak sekaligus mendampingi mereka agar mampu menggunakan teknologi secara bertanggung jawab. Risiko seperti kecanduan gawai, paparan konten negatif, hingga perundungan siber membutuhkan keterlibatan aktif keluarga.
"Pendekatan yang paling sesuai adalah ketika orang tua mampu berperan sebagai digital mentor, bukan sekadar digital police, sehingga anak belajar menggunakan teknologi secara sehat dan aman," ujarnya.
Ia juga menyoroti meningkatnya fenomena parental burnout yang dipicu tekanan media sosial. Tidak sedikit orang tua merasa harus memenuhi standar pengasuhan yang tampak sempurna di ruang digital, sehingga memunculkan kelelahan emosional.
Di sisi lain, budaya sharenting atau membagikan aktivitas anak di media sosial juga perlu disikapi secara bijak. Menurut Primatia, setiap unggahan akan meninggalkan jejak digital yang dapat bertahan hingga anak dewasa.
"Sebelum mengunggah konten tentang anak, orang tua sebaiknya mempertimbangkan kepentingan terbaik anak, hak privasi, dan jejak digital yang akan tetap ada hingga mereka dewasa," tuturnya.
Momentum Hari Anak Nasional, menurut Primatia, menjadi kesempatan bagi setiap keluarga untuk meninjau kembali kualitas kehadiran orang tua dalam kehidupan anak. Di tengah kesibukan dan distraksi teknologi, waktu yang dihabiskan bersama anak tanpa gangguan gawai menjadi salah satu bentuk investasi yang paling berharga bagi perkembangan psikologis mereka.
"Anak tidak membutuhkan orang tua yang sempurna, melainkan orang tua yang hadir. Luangkan waktu tanpa gangguan gawai untuk mendengarkan dan mendampingi mereka, sebab keluarga yang aman adalah kunci membesarkan generasi cerdas dan sehat secara mental," ujar Primatia. (Nayla).