Notification

×

Iklan

Iklan

Dies Natalis Unusa, Risma Tekankan Peran Perguruan Tinggi dalam Pembangunan Berkelanjutan

Kamis, 02 Juli 2026 | Juli 02, 2026 WIB Last Updated 2026-07-02T06:53:48Z
Kilas Java, Surabaya — Tri Rismaharini menilai perguruan tinggi memegang posisi penting dalam menentukan arah pembangunan berkelanjutan di Indonesia. Menurut dia, kampus tidak cukup hanya menghasilkan lulusan dan publikasi ilmiah, tetapi juga harus mampu menghadirkan solusi atas berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat.

Pandangan itu disampaikan Risma saat menjadi pembicara utama dalam Sidang Terbuka Senat Akademik Dies Natalis ke-13 Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa), Kamis (2/7). Dalam pidatonya, mantan Menteri Sosial tersebut menekankan bahwa Sustainable Development Goals (SDGs) harus diterjemahkan menjadi kebijakan dan program yang dapat diukur dampaknya.

"Keberhasilan pembangunan berkelanjutan hanya dapat dicapai apabila seluruh pemangku kepentingan bekerja bersama. Perguruan tinggi menjadi salah satu aktor utama karena memiliki kekuatan pada pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat," kata Risma.

Menurut mantan Wali Kota Surabaya itu, tantangan pembangunan saat ini semakin kompleks. Persoalan kemiskinan, layanan kesehatan, kualitas pendidikan, perubahan iklim, hingga tata kelola pemerintahan memerlukan pendekatan lintas sektor. 

Karena itu, perguruan tinggi memiliki ruang strategis untuk melahirkan inovasi sekaligus menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menjawab kebutuhan tersebut.

Risma mengatakan, implementasi SDGs seharusnya tidak berhenti sebagai dokumen perencanaan. Agenda pembangunan berkelanjutan perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum, penelitian, tata kelola kampus, serta program pengabdian kepada masyarakat. Kampus juga perlu memperluas kemitraan dengan pemerintah, dunia usaha, organisasi masyarakat, dan komunitas agar hasil riset dapat diimplementasikan secara lebih luas.

Ia mengaku pengalaman memimpin Pemerintah Kota Surabaya dan Kementerian Sosial menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan publik tidak pernah bisa dilakukan oleh satu institusi. Kolaborasi menjadi prasyarat agar sebuah kebijakan menghasilkan dampak sosial, ekonomi, dan lingkungan secara bersamaan.

Dalam kesempatan itu, Risma turut menyoroti capaian Unusa pada Times Higher Education (THE) Impact Rankings 2026. Unusa berhasil menempati peringkat ke-86 dunia pada indikator SDGs 3 atau Good Health and Wellbeing.

"Sungguh tidak mudah untuk mencapai peringkat tersebut. Saya percaya Unusa dengan jaringan rumah sakit dalam YARSIS serta kerja sama dengan pondok pesantren menjadi bahan pertimbangan dalam penilaian tersebut," ujarnya.

Menurut Risma, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa perguruan tinggi Indonesia memiliki peluang memperoleh pengakuan internasional apabila mampu mengintegrasikan pendidikan, riset, inovasi, dan pelayanan kepada masyarakat dalam satu ekosistem.

Namun, ia mengingatkan bahwa pemeringkatan bukanlah tujuan utama. Yang lebih penting adalah memastikan capaian akademik tersebut berkontribusi terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat, baik melalui layanan kesehatan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, maupun penguatan pembangunan yang berkelanjutan.

Ia juga mendorong perguruan tinggi untuk memperluas jejaring kerja sama, baik di dalam maupun luar negeri. Menurut Risma, kolaborasi yang semakin luas akan memperbesar peluang inovasi kampus berkembang menjadi solusi yang dapat diterapkan di tengah masyarakat.

Dies Natalis ke-13 Unusa tahun ini mengusung tema "Transformasi UNUSA Menuju Kampus Berdampak dan Berkelanjutan melalui Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs)". 

Tema tersebut menjadi pijakan bagi Unusa untuk memperkuat kontribusi pendidikan tinggi dalam mendukung agenda pembangunan berkelanjutan di tingkat nasional maupun global. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update