Notification

×

Iklan

Iklan

Mahasiswa ITS Kembangkan Pestisida Nano, Lebih Tahan Hujan dan Sinar Matahari

Senin, 29 Juni 2026 | Juni 29, 2026 WIB Last Updated 2026-06-29T07:59:04Z
KILAS JAVA, SURABAYA – Ketergantungan sektor pertanian pada pestisida kerap dihadapkan pada persoalan efektivitas. Bahan aktif yang mudah terurai akibat paparan sinar matahari dan larut terbawa hujan membuat penyemprotan harus dilakukan berulang. 

Kondisi itu mendorong mahasiswa Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan sistem penghantar pestisida berbasis nanoteknologi yang diklaim mampu menjaga stabilitas bahan aktif sekaligus meningkatkan efisiensi penggunaannya.

Inovasi tersebut diberi nama DNF@S-MSN-CS smart delivery pesticide. Teknologi ini memodifikasi pestisida berbahan aktif dinotefuran yang selama ini banyak digunakan petani untuk mengendalikan hama tanaman.

Peneliti DNF@S-MSN-CS Putri Mulia Hafiy Dzikrullah mengatakan dinotefuran memiliki kelemahan karena mudah mengalami degradasi ketika terpapar sinar ultraviolet. 

Selain itu, bahan aktifnya juga gampang tercuci air hujan sehingga daya kerjanya menurun sebelum memberikan hasil yang optimal.

"Permasalahan itu juga dipengaruhi pelepasan bahan aktif yang belum berlangsung secara terkontrol," kata mahasiswa Departemen Teknik Kimia Industri (DTKI) ITS yang akrab disapa Fide.

Melalui pendekatan nanoteknologi, tim peneliti memanfaatkan silika sebagai media pembawa bahan aktif, kemudian melapisinya menggunakan kitosan. 

Lapisan tersebut berfungsi melindungi dinotefuran dari pengaruh cuaca sekaligus mengatur pelepasan bahan aktif agar berlangsung lebih bertahap.

Formulasi itu dibuat dalam bentuk partikel berukuran sangat kecil sehingga penyebaran pestisida menjadi lebih merata dan daya lekatnya pada permukaan tanaman meningkat. 

Dengan karakteristik tersebut, efektivitas penyemprotan diharapkan lebih tinggi dibandingkan formulasi pestisida konvensional.

Kepala Seksi Pelayanan Teknis UPT Proteksi Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jawa Timur Ari Ika Sari menyebut inovasi tersebut berpotensi mendukung penggunaan pestisida secara lebih hemat. 

Menurut dia, efisiensi penggunaan bahan kimia menjadi salah satu langkah penting untuk menekan dampak terhadap lingkungan.

Ari juga melihat peluang pengembangan teknologi nano di sektor pertanian masih terbuka luas. Konsep penghantar cerdas seperti yang dikembangkan mahasiswa ITS dapat diterapkan pada berbagai produk lain, mulai dari agen pengendali hayati hingga zat pengatur tumbuh tanaman.

Dosen pembimbing penelitian Nurul Faizah mengatakan riset tersebut merupakan implementasi pendidikan vokasi yang mengedepankan penyelesaian persoalan nyata di lapangan. 

Ia berharap pengembangan teknologi tidak berhenti pada tahap penelitian, tetapi dapat diteruskan menuju pengujian skala industri agar manfaatnya dapat dirasakan petani.

Teknologi DNF@S-MSN-CS dikembangkan tidak hanya untuk meningkatkan efektivitas pengendalian hama, tetapi juga mendukung praktik pertanian yang lebih berkelanjutan. 

Pengurangan penggunaan pestisida dinilai sejalan dengan target Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada aspek produksi dan konsumsi yang bertanggung jawab serta perlindungan ekosistem daratan. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update