Notification

×

Iklan

Iklan

Maestro Keramik Muchlis Arif Hidupkan Kembali Ruang Seni di Kota Batu

Senin, 18 Mei 2026 | Mei 18, 2026 WIB Last Updated 2026-05-18T13:54:22Z
KILAS JAVA, KOTA BATU – Di sebuah ruang studio yang dipenuhi aroma tanah basah dan jejak-jejak pembakaran keramik, tangan Muchlis Arif bergerak tenang membentuk lempung menjadi karya. Sentuhannya tidak sekadar menciptakan benda seni, melainkan merekam perjalanan batin yang telah berlangsung lebih dari tiga dekade. Dari material sederhana bernama tanah liat, lahir jejak pengabdian panjang yang kini mengantarkannya diakui sebagai maestro keramik Indonesia.

Bagi Muchlis Arif, tanah liat bukan hanya medium artistik. Material itu telah menjelma sahabat perjalanan hidup, ruang kontemplasi, sekaligus cermin dari proses kreatif yang tidak pernah berhenti tumbuh.

“Saya dan tanah liat memiliki hubungan panjang,” ujar Arif.

Perjalanan berkesenian yang dimulai sejak era 1990-an membuat Arif melewati seluruh tahapan penting dalam dunia seni rupa. Mulai dari pencarian gagasan, proses penciptaan, pameran, apresiasi publik, hingga transaksi karya. Konsistensi itu membentuk identitasnya sebagai salah satu keramikus yang memiliki jejak kuat dalam perkembangan seni keramik Indonesia.

Karya-karyanya kini menjadi koleksi sejumlah museum seni di Tanah Air. Namun, pengakuan tersebut tidak lahir dari jalan yang mudah. Seni keramik, menurutnya, merupakan cabang seni yang tidak memiliki ruang sebesar seni rupa lainnya.

“Pameran seni keramik bisa dihitung jari, berbeda dengan seni rupa lain,” katanya.

Kesadaran atas sempitnya ruang apresiasi itu justru mendorong Arif memperluas gerak. Dari Studio Mata Hati yang sebelumnya berfokus pada seni keramik, ia kemudian membangun Satu Hati Art Space di Kota Batu. 

Ruang kreatif tersebut tidak hanya menampung keramik, tetapi juga seni lukis, seni logam, seni kertas, seni tekstil, hingga seni grafis.

Arif ingin menciptakan ekosistem seni yang lebih inklusif. Baginya, ruang seni tidak boleh berdiri eksklusif untuk satu medium semata, melainkan harus menjadi titik temu berbagai disiplin kreatif agar saling menghidupi.

“Sebenarnya kegiatan seperti ini dulu sudah pernah kami lakukan. Sekarang kami hidupkan lagi dengan ruang yang lebih luas,” jelasnya.

Di balik perjalanan panjang itu, tersimpan kisah emosional yang masih membekas dalam ingatan Arif. Saat mempersiapkan pembukaan Satu Hati Art Space, ia sempat menitikkan air mata ketika melihat glindingan, alat pengangkut tanah liat yang telah digunakannya sejak awal merintis studio.

“Tadi pagi saya sempat menangis melihat glindingan itu,” kenangnya.

Benda sederhana tersebut mengingatkannya pada masa-masa awal membangun studio keramik di gang sempit bersama saudara kembarnya, Roo, pemilik Kaliwatu. Saat itu mereka harus menurunkan tanah liat dari truk dan mengangkutnya secara manual ke dalam studio.

“Kami tidak pernah berpikir ini bisnis. Kami hanya ingin menyenangkan dan bermanfaat bagi orang lain,” tuturnya.

Kenangan itu menjadi penanda bahwa perjalanan Muchlis Arif tidak dibangun dari ambisi popularitas maupun keuntungan ekonomi. Semua berangkat dari relasi personal dengan tanah liat dan keyakinan bahwa seni harus memiliki manfaat sosial.

Semangat tersebut kini diabadikan melalui program bertajuk Jatuh Cinta: Totalitas pada Sebuah Pengabdian. Sebuah lembaga yayasan mengusulkan nama Muchlis Arif sebagai maestro keramik Indonesia melalui program Arsip Karya dan Pikiran Maestro yang diajukan ke kementerian terkait.

Sebagai bagian dari program tersebut, katalog perjalanan berkesenian Arif dijadwalkan terbit pada 24 Agustus mendatang. Katalog itu memuat dokumentasi karya sejak 1990 hingga hari ini, sekaligus memperlihatkan eksplorasi artistik yang terus berkembang dari masa ke masa.

“Di situ terlihat eksplorasi berkesenian saya,” ujarnya.

Rangkaian menuju pameran puncak digelar di Satu Hati Art Space mulai 8 hingga 23 Mei 2026. Selain pameran, Arif juga menghadirkan berbagai kegiatan edukatif untuk memperluas pemahaman publik tentang seni keramik.

Bagi Arif, gelar maestro tidak berhenti sebagai simbol pencapaian artistik. Predikat itu membawa tanggung jawab moral agar seni keramik tidak hanya dipandang sebagai karya estetis atau komoditas ekonomi, melainkan medium yang memiliki dampak sosial dan nilai edukatif.

“Intinya, saya dengan lempung mengabdi untuk apa saja, siapa saja, dan di mana saja,” katanya.

Pandangan tersebut diwujudkan melalui program Creativity Training Guru Kreatif yang digelar bersama sejumlah sekolah. Melalui media tanah liat dan pendekatan motivasional, Arif mengajak guru maupun siswa memahami pola pikir kreatif dalam menyelesaikan persoalan institusi dan kehidupan sehari-hari.

Menurutnya, simulasi kreativitas sangat penting diterapkan tidak hanya di lingkungan pendidikan, tetapi juga perusahaan, komunitas, maupun institusi yang mengalami kebuntuan dalam pengembangan produk dan strategi pemasaran.

Dalam pandangan Arif, seni keramik memiliki cakupan yang jauh lebih luas dibanding sekadar kriya. Ia melihat keramik sebagai medium edukasi, pengembangan sumber daya manusia, hingga bagian dari konsep deep tourism yang menghubungkan seni, budaya, dan pengalaman personal.

“Keramik bisa menjadi fondasi ekosistem seni budaya yang berkelanjutan,” ujarnya.

Karena itu, tanah liat tidak pernah diposisikan sekadar material pembentuk benda pakai atau dekorasi. Di tangan Muchlis Arif, tanah liat menjelma ruang dialog, pembelajaran, dan perjumpaan antarmanusia.

Melalui kelas pottery dan pelatihan kreatif yang rutin digelar, ia membangun interaksi langsung dengan masyarakat. Seni, menurutnya, harus hadir sebagai jembatan yang membuka perspektif baru tentang kehidupan, kreativitas, dan ketekunan.

Pameran Jatuh Cinta: Totalitas pada Sebuah Pengabdian menjadi penanda perjalanan panjang tersebut. Pameran itu tidak hanya memamerkan karya dua dimensi maupun tiga dimensi berbahan keramik, tetapi juga memperlihatkan bagaimana konsistensi dapat melahirkan bahasa artistik yang kuat.

Selama puluhan tahun, Muchlis Arif memilih setia pada tanah liat. Dari material yang sederhana itu, ia membangun perjalanan seni, ruang pendidikan, hingga ekosistem budaya yang terus hidup di Kota Batu. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update