Kilas Java, Surabaya – Prosesi wisuda periode ke-261 Universitas Airlangga berlangsung khidmat dan penuh makna di Airlangga Convention Center, Kampus MERR-C, Sabtu (11/4/2026). Ribuan wisudawan dari jenjang diploma, sarjana, magister, hingga doktor resmi dikukuhkan dalam suasana yang sarat haru, refleksi, sekaligus optimisme menatap masa depan.
Momentum kelulusan ini tidak sekadar seremoni akademik. Di balik toga yang dikenakan, tersimpan perjalanan panjang penuh disiplin, tekanan, serta pengorbanan yang tidak hanya dirasakan mahasiswa, tetapi juga keluarga, terutama orang tua.
Perwakilan wisudawan dari Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP), Melvin Hermawan, menyampaikan pidato yang menggugah emosi. Ia menekankan bahwa perjalanan akademik di UNAIR telah menempa mahasiswa menjadi pribadi yang lebih tangguh dan adaptif. Baginya, kampus bukan sekadar ruang belajar, melainkan ruang pembentukan karakter dan identitas.
“Menjadi bagian dari UNAIR adalah kehormatan. Kampus ini bukan hanya tempat menimba ilmu, tetapi rumah kedua yang menyimpan jejak perjuangan kami,” ujarnya di hadapan ribuan peserta wisuda.
Melvin juga menggarisbawahi pentingnya memegang teguh nilai “Excellence with Morality” sebagai fondasi utama lulusan UNAIR. Menurutnya, kompetensi akademik harus berjalan seiring dengan integritas moral, terutama dalam menghadapi kompleksitas dunia kerja dan dinamika sosial ke depan.
Ia menggambarkan optimisme terhadap masa depan para lulusan yang diyakini akan mengambil peran strategis dalam berbagai sektor.
Dalam perspektifnya, lulusan UNAIR tidak hanya dituntut unggul secara intelektual, tetapi juga memiliki tanggung jawab etis dalam memimpin perubahan.
Suasana berubah semakin emosional ketika Melvin menyampaikan pesan khusus kepada para orang tua. Ia menegaskan bahwa keberhasilan hari ini merupakan akumulasi dari pengorbanan yang sering kali tak terlihat.
“Hari ini kami berdiri dengan toga yang terasa berat. Bukan karena bahannya, tetapi karena di dalamnya ada pengorbanan bapak dan ibu,” tuturnya, disambut suasana haru di ruang wisuda.
Di sisi lain, penguatan peran alumni turut menjadi sorotan dalam prosesi tersebut. Sekretaris Pengurus Pusat Ikatan Alumni UNAIR, Aniek Dwi Deviyanti, hadir memberikan pembekalan strategis kepada para lulusan. Ia menegaskan bahwa wisuda bukanlah akhir, melainkan titik awal kontribusi nyata di tengah masyarakat.
Menurut Aniek, lulusan UNAIR memiliki tanggung jawab untuk membawa nilai-nilai akademik ke dalam praktik kehidupan profesional. Ia juga menekankan pentingnya membangun jejaring sebagai modal sosial yang krusial di era kompetisi global.
Para wisudawan secara resmi diterima sebagai bagian dari keluarga besar Ikatan Alumni UNAIR. Melalui sistem keanggotaan yang terintegrasi, para lulusan didorong untuk aktif dalam jejaring alumni, baik di tingkat nasional maupun internasional.
IKA UNAIR saat ini terus memperkuat konsolidasi data alumni, termasuk yang berada di luar negeri. Langkah ini dinilai strategis untuk memperluas kolaborasi lintas sektor serta memperkuat kontribusi alumni dalam pembangunan.
Aniek juga mengingatkan bahwa kehadiran alumni di ruang publik harus mencerminkan nilai-nilai luhur almamater. Integritas, etika, dan tanggung jawab sosial menjadi aspek yang tidak terpisahkan dari identitas Ksatria Airlangga.
Dalam dinamika global yang semakin kompleks, lulusan perguruan tinggi dituntut tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu menjaga keseimbangan antara kompetensi dan moralitas dalam setiap peran yang dijalankan. (Nay).

