Notification

×

Iklan

Iklan

Ribuan Siswi SMP Jadi Target Edukasi Menstruasi, WINGS–UNICEF Turun Tangan

Rabu, 22 April 2026 | April 22, 2026 WIB Last Updated 2026-04-22T10:02:03Z
Kilas Java, Jakarta – Di balik rutinitas sekolah, ada persoalan yang kerap luput dari perhatian: menstruasi masih menjadi alasan sebagian remaja putri absen dari kelas. Bukan semata karena kondisi fisik, tetapi juga karena minimnya edukasi dan fasilitas sanitasi yang belum memadai.

Fakta tersebut menjadi alarm bagi WINGS Group Indonesia yang berkolaborasi dengan UNICEF melalui program WINGS for UNICEF. Bersama produk Hers Protex, mereka meluncurkan rangkaian edukasi Manajemen Kebersihan Menstruasi (MKM) di sekolah.

Program ini menyasar 20 SMP di Kabupaten Bandung Barat dan Makassar dengan target menjangkau 2.000 siswi serta jumlah yang sama dari kalangan orang tua. Melalui kampanye Generasi Bersih Sehat, edukasi diberikan secara langsung untuk membekali remaja putri dengan pemahaman yang benar tentang menstruasi.

Selama ini, menstruasi masih kerap dianggap sebagai topik sensitif di lingkungan sekolah. Akibatnya, banyak remaja putri menghadapi pengalaman pertama menstruasi dengan rasa cemas dan minim informasi. Situasi ini diperparah oleh keterbatasan fasilitas sanitasi yang belum memenuhi standar.

Data Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset dan Teknologi tahun 2022 mencatat rasio toilet sekolah masih jauh dari ideal, yakni 1:85 untuk siswa laki-laki dan 1:74 untuk perempuan. Ketimpangan ini menunjukkan bahwa akses sanitasi layak di lingkungan pendidikan masih menjadi tantangan nasional.

Marketing Manager Paper Product Category WINGS Group Indonesia, Stella Eidelina, menekankan pentingnya edukasi sejak dini. Menurutnya, pemahaman yang tepat tidak hanya membantu remaja putri menjaga kebersihan selama menstruasi, tetapi juga meningkatkan rasa percaya diri saat beraktivitas di sekolah.

Persoalan ini juga mendapat perhatian serius dari UNICEF Indonesia. Water Sanitation and Hygiene Specialist UNICEF Indonesia, Muhammad Zainal, mengungkapkan bahwa satu dari tujuh anak perempuan di Indonesia memilih tidak masuk sekolah saat menstruasi. 

Angka tersebut mencerminkan masih adanya hambatan nyata dalam akses pendidikan yang setara.

Ia menegaskan bahwa edukasi harus berjalan seiring dengan penyediaan lingkungan yang mendukung. Sekolah tidak hanya dituntut menyediakan fasilitas sanitasi yang layak, tetapi juga membangun ruang aman agar siswi dapat menjalani menstruasi tanpa stigma.

Dari sisi kesehatan, dr. Dinda Derdameysia, Sp.OG., menilai edukasi menstruasi memiliki peran penting dalam membentuk kesiapan remaja menghadapi pubertas. 

Pemahaman yang benar akan membantu mereka mengenali perubahan tubuh sekaligus menjaga kebersihan secara optimal.

Pelaksanaan program dijadwalkan berlangsung pada Mei hingga Juli 2026 melalui sosialisasi di sekolah, edukasi kesehatan, serta penguatan peran orang tua. Inisiatif ini juga menjadi bagian dari upaya memperluas akses air, sanitasi, dan kebersihan (WASH) di lingkungan pendidikan.

Kolaborasi ini sekaligus mempertegas bahwa isu menstruasi bukan sekadar persoalan pribadi, melainkan bagian dari hak dasar pendidikan dan kesehatan yang perlu mendapat perhatian serius lintas sektor. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update