KILAS JAVA, SURABAYA — Upaya membangun tradisi literasi yang tidak sekadar formalitas akademik terus digencarkan Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa). Salah satunya melalui peringatan Hari Puisi Nasional yang digelar dengan pendekatan multidimensi: intelektual, artistik, sekaligus reflektif, Selasa (28/4/2026).
Bertempat di Ruang Theater Lantai 2 Kampus C, kegiatan ini menghadirkan kuliah pakar sastra, diskursus literasi, parade pembacaan puisi, hingga peluncuran buku karya dosen. Tidak sekadar seremoni, forum ini dirancang sebagai ruang temu antara gagasan, ekspresi, dan pengalaman estetik.
Tema yang diangkat, Puisi sebagai Sarana Berpikir Kritis dan Reflektif, menjadi benang merah yang menegaskan posisi sastra dalam lanskap pendidikan tinggi. Mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), dosen, hingga pegiat sastra Jawa Timur terlibat aktif dalam dinamika kegiatan tersebut.
Peringatan Hari Puisi Nasional sendiri berakar pada momentum wafatnya Chairil Anwar pada 28 April 1949. Sosok yang dikenal sebagai pelopor Angkatan ’45 itu tidak hanya meninggalkan jejak estetika, tetapi juga semangat kebebasan berpikir yang terus relevan hingga kini. Tahun ini, peringatan tersebut memasuki usia ke-77.
Di tengah momentum itu, Unusa meluncurkan buku kumpulan puisi berjudul Belajar Mencintai-Mu karya Dr. Suharmono Kasiyun. Buku tersebut menawarkan pembacaan ulang tentang cinta, tidak dalam pengertian sempit, melainkan sebagai pengalaman eksistensial yang melibatkan relasi manusia dengan diri, sesama, dan dimensi spiritual.
Dekan FKIP Unusa, Nafiah, menekankan bahwa literasi harus dipahami sebagai praktik berpikir, bukan sekadar kemampuan teknis. Dalam konteks itu, puisi memiliki kekuatan untuk mengasah sensitivitas intelektual sekaligus memperluas horizon pemahaman mahasiswa terhadap realitas.
Ia menilai, ruang-ruang seperti ini penting untuk menjaga agar tradisi akademik tidak terjebak pada rutinitas administratif. Kampus, menurutnya, harus menjadi ruang produksi gagasan yang hidup, terbuka, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Peluncuran buku karya dosen juga menjadi indikator bahwa kultur akademik terus bergerak. Dosen tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga produsen pengetahuan dan karya kreatif yang dapat diakses publik luas.
Kegiatan ini turut menghadirkan sejumlah tokoh sastra dan media Jawa Timur, seperti Aming Aminoedin, Toto Sonata, Amang Mawardi, serta Riadi Ngasiran. Kehadiran mereka memperkaya diskusi tentang posisi sastra dalam membentuk karakter, kepekaan sosial, dan nilai kemanusiaan.
Dialog yang terbangun tidak hanya bersifat teoritik, tetapi juga menyentuh pengalaman praksis para pelaku sastra.
Hal ini memberikan perspektif yang lebih utuh bagi mahasiswa dalam memahami peran sastra di tengah perubahan sosial yang cepat.
Parade pembacaan puisi menjadi salah satu titik yang menyedot perhatian peserta. Mahasiswa dan sastrawan tampil bergantian, menghadirkan ragam ekspresi, mulai dari pembacaan konvensional hingga eksplorasi performatif yang lebih eksperimental.
Atmosfer ruang pertunjukan terasa dinamis, memperlihatkan bagaimana puisi tidak kehilangan relevansinya sebagai medium komunikasi ide dan emosi. Interaksi antara pembaca dan audiens menciptakan pengalaman kolektif yang memperkuat makna kegiatan.
Melalui rangkaian agenda tersebut, Unusa berupaya merawat kesinambungan antara tradisi intelektual dan ekspresi artistik.
Pendekatan ini sekaligus menjadi bagian dari strategi kampus dalam membangun ekosistem pendidikan yang tidak hanya berbasis ilmu pengetahuan, tetapi juga nilai-nilai kemanusiaan yang lebih luas. (Nayla).

