Notification

×

Iklan

Iklan

Polteknaker Siapkan Lulusan Hadapi Era AI dan Green Jobs 2026

Selasa, 28 April 2026 | April 28, 2026 WIB Last Updated 2026-04-28T16:24:30Z
KILAS JAVA, JAKARTA — Laju perubahan dunia kerja kian tak terbendung. Digitalisasi, kecerdasan buatan, hingga transisi menuju ekonomi hijau membentuk lanskap baru yang menuntut kesiapan sumber daya manusia. 

Kementerian Ketenagakerjaan melalui Politeknik Ketenagakerjaan (Polteknaker) merespons dinamika itu dengan memperkuat pembekalan mahasiswa agar lebih adaptif dan relevan dengan kebutuhan industri.

Upaya tersebut diwujudkan melalui kegiatan penyuluhan jabatan bertajuk Future-Proofing Your Career: Navigating the Green Job Wave 2026 yang digelar di Jakarta, Senin (27/4/2026). 

Forum ini diikuti mahasiswa dan alumni sebagai ruang temu antara dunia pendidikan dan realitas pasar kerja yang terus bergerak.

Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Pembinaan Penempatan Tenaga Kerja dan Perluasan Kesempatan Kerja (Binapenta dan PKK) Kemnaker, Estiarty Haryani, menegaskan bahwa perubahan tidak lagi berjalan linier, melainkan eksponensial. Kondisi tersebut menuntut kesiapan individu sejak dini, bukan hanya dalam aspek akademik, tetapi juga kapasitas adaptasi.

Menurut Estiarty, mahasiswa perlu membangun fleksibilitas berpikir dan kemauan belajar berkelanjutan. Dunia kerja, kata dia, tidak lagi memberi ruang bagi kompetensi yang statis. Kreativitas, kemampuan memecahkan masalah, serta kesiapan menghadapi ketidakpastian menjadi bekal utama.

Ia juga menyoroti pentingnya pemahaman terhadap kebutuhan industri. Kesenjangan antara dunia pendidikan dan dunia kerja masih menjadi tantangan klasik. Karena itu, pendekatan pembelajaran harus semakin kontekstual dan berbasis kebutuhan riil pasar tenaga kerja.

Dalam catatan Kemnaker, Polteknaker menunjukkan tren positif dalam menghasilkan lulusan siap kerja. Tingkat serapan alumni yang relatif tinggi menjadi indikator bahwa kurikulum yang diterapkan mulai selaras dengan kebutuhan industri, termasuk sektor kewirausahaan yang semakin berkembang.

Namun, perubahan lanskap pekerjaan turut memunculkan kebutuhan kompetensi baru. Sejumlah profesi yang kini banyak dicari antara lain full stack engineer, data scientist, spesialis pemasaran digital, pengelola media sosial, kreator konten, hingga human resources business partner. Profesi tersebut lahir dari kombinasi kemajuan teknologi dan perubahan perilaku industri.

Estiarty mengingatkan bahwa pola karier masa depan tidak lagi bersifat tunggal. Pergeseran lintas bidang menjadi hal lumrah seiring munculnya peluang baru. Karena itu, mahasiswa diimbau tidak membatasi diri pada satu jalur profesi tertentu.

Selain aspek teknis, kemampuan nonteknis juga dinilai krusial. Komunikasi efektif, kepemimpinan, kolaborasi, serta ketahanan mental menjadi kompetensi pelengkap yang menentukan keberhasilan di dunia kerja modern. Adaptasi terhadap teknologi juga tidak bisa ditawar, mengingat hampir seluruh sektor kini terdigitalisasi.

Direktur Polteknaker Yoki Yulizar menambahkan bahwa transformasi dunia kerja tidak hanya didorong oleh digitalisasi dan otomatisasi, tetapi juga arah pembangunan berkelanjutan. Konsep ekonomi hijau, menurut dia, membawa implikasi langsung terhadap struktur ketenagakerjaan.

Ia menjelaskan bahwa perubahan model bisnis yang lebih ramah lingkungan akan melahirkan jenis pekerjaan baru sekaligus menggeser kebutuhan tenaga kerja lama. Hal itu menuntut kesiapan institusi pendidikan untuk menyesuaikan kurikulum dan metode pembelajaran.

Melalui pembekalan semacam ini, Polteknaker berupaya memastikan lulusannya tidak sekadar siap kerja, tetapi juga mampu membaca arah perubahan. 

Kesiapan tersebut mencakup penguasaan teknologi, sensitivitas terhadap isu keberlanjutan, serta kemampuan beradaptasi dalam ekosistem kerja yang terus berevolusi. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update