Kilas Java, Surabaya — Hujan yang mengguyur kawasan Rungkut tak menghalangi warga Rungkut Mapan Barat (RMB), RW 08, Rungkut Tengah, untuk menggelar Halalbihalal dengan penuh kekhidmatan. Kegiatan yang telah menjadi agenda tahunan ini kembali berlangsung hangat, menegaskan kuatnya ikatan sosial di tengah kehidupan perkotaan.
Sejak awal acara, suasana kebersamaan sudah terasa. Warga dari berbagai lapisan hadir, mulai dari tokoh masyarakat hingga perangkat lingkungan. Kegiatan semakin semarak dengan penampilan Flying Band Humaira, grup rebana dari Muslimat RMB yang membawakan nuansa religius sekaligus kultural.
Ketua panitia Hari Siswanto menegaskan bahwa Halalbihalal bukan sekadar seremoni pasca-Idulfitri. Lebih dari itu, kegiatan ini menjadi ruang sosial untuk mempererat hubungan antarwarga yang dalam keseharian kerap dibatasi kesibukan masing-masing.
Menurutnya, interaksi langsung seperti ini penting untuk membangun rasa saling mengenal dan memperkuat solidaritas lingkungan. Dalam lingkup perumahan, kedekatan sosial bukan hanya soal komunikasi, tetapi juga tentang membangun kepercayaan dan rasa aman bersama.
Halalbihalal di RMB menjadi contoh bagaimana tradisi keagamaan bertransformasi menjadi instrumen sosial yang efektif. Warga tidak hanya saling memaafkan, tetapi juga memperbarui komitmen kebersamaan. Di tengah karakter masyarakat urban yang cenderung individual, forum seperti ini menjadi penyeimbang yang menjaga nilai kolektif tetap hidup.
Kegiatan ini juga dihadiri lurah, pengurus RW dan RT, serta takmir Masjid As-Shobirin. Kehadiran mereka memperlihatkan adanya keterhubungan antara struktur formal dan kehidupan sosial warga yang berjalan harmonis.
Dalam tausiah, Ustaz Abdul Wahid Al-Faizin menegaskan bahwa Halalbihalal memiliki makna mendalam dalam ajaran Islam. Ia menjelaskan bahwa setiap kesalahan antarmanusia tidak cukup diselesaikan dengan ucapan, tetapi membutuhkan ketulusan dan tindakan nyata.
Ia mengingatkan, hubungan dengan sesama manusia atau habluminannas menuntut tanggung jawab moral yang lebih konkret. Berbeda dengan hubungan kepada Allah yang dapat ditempuh melalui taubat, relasi sosial membutuhkan proses saling memaafkan secara langsung.
Selain itu, ia juga menguraikan empat amalan yang dapat menjaga kualitas spiritual seorang muslim. Yakni konsisten menjalankan salat sunah, menjaga salat berjamaah, rutin berpuasa sunnah tiga hari setiap bulan, serta gemar bersedekah.
Di lingkungan perumahan seperti RMB, Halalbihalal bukan hanya tradisi tahunan, melainkan ruang strategis untuk merawat kohesi sosial. Dari kegiatan sederhana ini, terbangun komunikasi, empati, dan kepedulian yang menjadi fondasi kehidupan bertetangga.
Hujan yang turun sepanjang acara justru memperkuat kesan hangat. Warga tetap bertahan, saling menyapa, dan larut dalam suasana kekeluargaan yang kian jarang ditemukan di tengah ritme kota yang serba cepat. (Nayla).

