Notification

×

Iklan

Iklan

ITS Siapkan Skema Cepat Profesi Insinyur, Respon Tantangan Teknologi dan Industri Masa Depan

Minggu, 15 Maret 2026 | Maret 15, 2026 WIB Last Updated 2026-03-15T04:59:21Z
Kilas Java, Surabaya - Komitmen memperkuat peran strategis insinyur dalam pembangunan nasional terus diperkuat oleh Institut Teknologi Sepuluh Nopember. Salah satunya melalui forum Dialog Keinsinyuran yang digelar Program Studi Program Profesi Insinyur ITS bersama Persatuan Insinyur Indonesia di Gedung Rektorat ITS, Jumat (13/3/2026) sore.

Forum tersebut menjadi ruang diskusi penting bagi akademisi, praktisi, serta organisasi profesi dalam merumuskan arah penguatan profesi insinyur di Indonesia, terutama di tengah tuntutan transformasi teknologi dan kebutuhan pembangunan nasional.

Rektor ITS, Bambang Pramujati, mengungkapkan bahwa kampus teknik terbesar di Indonesia timur itu tengah mengkaji skema percepatan pendidikan profesi insinyur bagi lulusan sarjana teknik. 

Skema tersebut memungkinkan lulusan S1 teknik langsung melanjutkan ke pendidikan profesi insinyur dengan durasi sekitar satu tahun.

Menurutnya, jumlah lulusan sarjana teknik di Indonesia sebenarnya cukup besar. Namun, tidak semua melanjutkan hingga memperoleh gelar insinyur profesional.

“Lulusan sarjana teknik sebenarnya cukup banyak, tetapi yang melanjutkan hingga menjadi insinyur masih relatif sedikit,” ujarnya.

Melalui skema percepatan tersebut, mahasiswa diharapkan dapat menyelesaikan pendidikan sarjana dan profesi insinyur dalam waktu sekitar lima tahun. Langkah ini dinilai penting untuk meningkatkan jumlah insinyur profesional yang dibutuhkan dalam pembangunan nasional.

Selain itu, Bambang menilai program tersebut berpotensi mendorong peningkatan Engineering Index pemerintah hingga mencapai 28 persen.

Ia juga menyoroti perubahan besar dalam praktik keinsinyuran yang menuntut paradigma baru. Insinyur masa depan tidak hanya dituntut memiliki kemampuan teknis, tetapi juga menguasai pendekatan multidisipliner seperti STEM, efisiensi energi, serta pemanfaatan teknologi cerdas.

Di sisi lain, praktik keinsinyuran juga harus memperhatikan aspek inklusivitas, termasuk keberpihakan terhadap kesetaraan gender dan akses bagi penyandang disabilitas.

Bambang menegaskan bahwa pendidikan profesi insinyur tidak sekadar menjadi proses sertifikasi administratif. Program tersebut merupakan gerbang penting dalam membangun profesionalisme praktik keinsinyuran.

“Akselerasi perlu dilakukan agar Indonesia mampu menyiapkan insinyur paripurna yang mendukung visi Indonesia Emas,” ujarnya.

Guru Besar Teknik Mesin ITS itu juga menyoroti sejumlah isu strategis yang dihadapi dunia keinsinyuran. Di antaranya kesenjangan antara inovasi yang dihasilkan perguruan tinggi dengan kebutuhan industri, pentingnya menjaga integritas serta etika profesi, hingga pesatnya perkembangan teknologi yang harus dikelola secara bijak oleh para insinyur.

Ia berharap para insinyur Indonesia mampu menjawab tantangan tersebut melalui profesionalisme, inovasi, dan tanggung jawab sosial.

Sejalan dengan agenda tersebut, ITS juga berencana membahas penerapan World Engineering Forum Government Engineering Index pada tahun ini. 

Indeks tersebut dirancang untuk mengukur praktik keinsinyuran dalam pembangunan daerah sekaligus memperkuat kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah.

Sementara itu, Wakil Ketua Umum Persatuan Insinyur Indonesia, Agus Taufik Mulyono, menegaskan bahwa profesi insinyur memiliki tanggung jawab besar dalam memastikan keselamatan, kesehatan, serta keberlanjutan pembangunan bagi masyarakat.

Menurutnya, praktik keinsinyuran harus dijalankan oleh tenaga profesional yang memiliki kompetensi memadai serta mematuhi kode etik profesi.

“Praktik keinsinyuran harus dijalankan oleh tenaga profesional yang memiliki kompetensi serta mematuhi kode etik profesi,” tegasnya.

Upaya penguatan profesi insinyur tersebut juga selaras dengan komitmen ITS dalam mendukung agenda pembangunan global melalui United Nations pada program Sustainable Development Goals. Terutama pada tujuan keempat tentang pendidikan berkualitas, tujuan kesembilan terkait industri, inovasi, dan infrastruktur, serta tujuan ketujuh belas mengenai kemitraan dalam mencapai pembangunan berkelanjutan.

Dialog keinsinyuran tersebut menjadi bagian dari langkah ITS memperkuat sinergi antara dunia akademik, organisasi profesi, dan pemerintah dalam menyiapkan sumber daya insinyur yang adaptif terhadap dinamika teknologi serta kebutuhan pembangunan masa depan. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update