Kilas Java, Surabaya - Fakultas Teknologi Maju dan Multidisiplin Universitas Airlangga melalui Instrumentation and Energy Research Community (IMERCY) menggelar kegiatan pengabdian masyarakat di kawasan Astana Jabal Sirr, Desa Wotanmasjedong, Kabupaten Mojokerto. Dalam kegiatan yang berlangsung sejak 20 Februari hingga 15 Maret 2026 itu, tim IMERCY memasang teknologi pengering hasil panen berbasis energi matahari bernama Smart Solar Dryer Dome.
Program ini dirancang sebagai respons atas persoalan yang kerap dihadapi petani setempat, terutama dalam proses pengeringan hasil panen yang sangat bergantung pada kondisi cuaca. Hujan yang datang tiba-tiba sering membuat komoditas pertanian gagal kering dan berujung pada turunnya kualitas produk.
Person in charge The 6th Innovillage, Alfananda Ardiansyah, mengatakan teknologi tersebut menjadi solusi untuk meminimalkan kerugian petani akibat proses pengeringan yang tidak optimal.
Ia menjelaskan bahwa selama ini hasil panen petani sering mengalami kerusakan atau tidak mencapai tingkat kekeringan yang dibutuhkan ketika musim hujan datang. Kondisi itu berdampak langsung pada harga jual di tingkat pengepul.
“Alasan kami melaksanakan kegiatan pengmas di Desa Wotanmasjedong adalah untuk mengatasi permasalahan hasil panen petani yang sering tidak kering atau rusak akibat hujan. Apabila hasil panen tidak kering, maka harga jual di pengepul akan menurun. Namun apabila kering dan memiliki kualitas bagus, hasil panen seperti jahe dapat diolah menjadi bubuk,” ujar Alfananda.
Smart Solar Dryer Dome yang dipasang oleh tim IMERCY merupakan alat pengering berbasis energi matahari dengan bentuk menyerupai rumah kaca. Perangkat ini dirancang untuk mempercepat proses pengeringan berbagai komoditas pangan dengan memanfaatkan panas alami matahari yang terperangkap di dalam ruang pengering.
General Manager IMERCY, Muhammad Naufal Al-Hasani, menjelaskan bahwa teknologi yang mereka kembangkan tidak hanya mengandalkan sinar matahari. Sistem ini juga dilengkapi dengan teknologi Internet of Things untuk memantau kondisi suhu di dalam ruang pengering secara real time.
Selain itu, alat tersebut memiliki fasilitas heater yang menggunakan sumber energi baru terbarukan. Fitur ini memungkinkan proses pengeringan tetap berlangsung ketika intensitas sinar matahari berkurang.
“Kami menerapkan Smart Solar Dryer Dome pada kegiatan pengmas setelah sebelumnya melaksanakan survei di lokasi. Setelah melalui diskusi dan perancangan, akhirnya kami sepakat menerapkan teknologi tersebut. Keunggulan teknologi yang kami buat terletak pada penambahan sistem IoT untuk mengetahui suhu ruangan di rumah pengering dan adanya heater untuk menunjang proses pengeringan,” kata Naufal.
Penerapan teknologi ini mulai menunjukkan dampak bagi aktivitas pertanian di Desa Wotanmasjedong. Dengan sistem pengering yang lebih stabil, petani dapat menjaga kualitas hasil panen agar tetap baik sebelum dijual atau diolah lebih lanjut.
Sejumlah komoditas yang sebelumnya dijual dalam bentuk bahan mentah kini berpotensi diolah menjadi produk bernilai tambah. Jahe, misalnya, dapat diproses menjadi bubuk setelah melalui proses pengeringan yang optimal.
Selain membantu menjaga mutu hasil panen, keberadaan Smart Solar Dryer Dome juga mendorong petani untuk mulai mengembangkan berbagai komoditas lain. Beberapa di antaranya adalah tanaman obat keluarga serta beragam jenis buah yang membutuhkan proses pengeringan sebelum dipasarkan atau diolah lebih lanjut. (Nay).

