Notification

×

Iklan

Tiga Kasus Bunuh Diri Remaja Beruntun, Akademisi UNAIR Soroti Tekanan Ruang Digital

Rabu, 25 Februari 2026 | Februari 25, 2026 WIB Last Updated 2026-02-25T08:49:01Z
Kilas Java, Surabaya -  Rentetan kasus bunuh diri yang melibatkan remaja dan pelajar dalam waktu berdekatan mengguncang kesadaran publik. Di Nusa Tenggara Timur, sejumlah mahasiswa dilaporkan mengakhiri hidupnya. 

Demak dikejutkan aksi siswa sekolah dasar yang ditemukan gantung diri. Bandung pun berduka setelah seorang pelajar tewas diduga dipicu persoalan relasi asmara.

Peristiwa-peristiwa tersebut bukan sekadar tragedi individual. Ada lanskap sosial yang lebih luas, yang tengah berubah cepat dan tidak selalu ramah bagi generasi muda. 

Ketua Ikatan Sarjana Komunikasi Indonesia Jawa Timur sekaligus dosen Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga, Suko Widodo, menilai rangkaian kejadian itu mencerminkan tekanan psikososial yang makin kompleks.

Menurut dia, remaja hari ini tidak lagi hidup dalam satu ruang sosial. Mereka berada dalam dua dunia sekaligus: ruang fisik dan ruang digital. 

“Anak-anak hari ini hidup dalam dua ruang sekaligus: ruang fisik dan ruang digital. Tekanan di ruang digital bisa berlangsung tanpa jeda, 24 jam, dan sering tidak disadari orang tua maupun guru,” ujarnya.

Ruang digital, lanjutnya, menghadirkan dinamika yang berbeda dari interaksi tatap muka. Di sana, ekspektasi sosial dibentuk oleh arus konten yang terus mengalir. 

Dari perspektif komunikasi, Suko merujuk pada Teori Kultivasi yang diperkenalkan oleh George Gerbner. Teori ini menjelaskan bahwa paparan media yang berulang dalam jangka panjang dapat membentuk cara pandang seseorang terhadap realitas sosial.

Dalam konteks media sosial, paparan konten mengenai kebahagiaan, popularitas, pencapaian akademik, hingga relasi romantik yang tampak sempurna perlahan menjadi standar pembanding. Remaja yang berada dalam fase pencarian identitas berisiko menjadikan gambaran tersebut sebagai ukuran umum kehidupan. 

Ketika realitas pribadi tidak sejalan dengan gambaran ideal itu, muncul celah yang dapat memicu tekanan batin.

Suko menilai situasi menjadi kian rumit ketika pengalaman pribadi yang rapuh bertemu dengan konten yang selaras secara emosional. 

“Media sosial bukan hanya ruang informasi, tapi ruang amplifikasi emosi. Remaja yang sedang mengalami putus hubungan atau tekanan akademik akan lebih rentan terhadap pesan yang sesuai dengan kondisi emosionalnya,” terangnya.

Algoritma platform digital, yang bekerja berdasarkan preferensi dan riwayat interaksi pengguna, turut memperkuat lingkaran tersebut. Konten yang serupa akan terus muncul, menciptakan ruang gema yang menguatkan persepsi dan emosi tertentu. Dalam kondisi psikologis yang tidak stabil, situasi ini berpotensi memperdalam rasa terisolasi, gagal, atau tidak berharga.

Karena itu, ia menegaskan literasi digital tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan teknis mengakses dan memilah informasi. Literasi digital, menurutnya, harus menyentuh kesadaran emosional dan kemampuan reflektif. 

Remaja perlu dibekali kecakapan mengenali kondisi psikologisnya sendiri serta memahami bahwa realitas media sosial kerap merupakan konstruksi yang terkurasi.

Peran keluarga dan sekolah menjadi krusial. Mekanisme deteksi dini terhadap perubahan perilaku, seperti penurunan drastis prestasi, menarik diri dari pergaulan, atau ekspresi putus asa di ruang digital, harus dibangun secara sistematis. Guru dan orang tua dituntut tidak hanya mengawasi, tetapi juga membuka ruang dialog yang aman.

Di sisi lain, media massa juga memikul tanggung jawab etik. Pemberitaan kasus bunuh diri perlu menghindari sensasionalisme, tidak merinci metode, serta menyertakan informasi mengenai layanan konseling atau bantuan psikologis. Pendekatan yang empatik dinilai lebih konstruktif dibanding eksploitasi tragedi.

Suko mengingatkan, keterhubungan digital tidak otomatis menghadirkan kedekatan emosional. “Remaja bisa terhubung dengan ratusan orang secara daring setiap hari, tetapi tetap merasa sendirian secara emosional. Kita harus memastikan mereka tidak hanya terhubung, tetapi juga didengar,” katanya. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update