Kilas Java, Surabaya - Ramadan kerap dimaknai sebatas kewajiban spiritual. Padahal, di balik ritual menahan lapar dan dahaga, terdapat dimensi psikologis yang berkelindan erat dengan kesehatan mental dan stabilitas emosi.
Di tengah ritme hidup yang kian cepat, tekanan pekerjaan, serta paparan media sosial yang nyaris tanpa jeda, puasa menghadirkan ruang jeda untuk mengatur ulang diri.
Psikolog Klinis sekaligus dosen di Universitas Airlangga, Dian Kartika Amelia Arbi, MPsi, Psikolog, menjelaskan bahwa puasa tidak hanya berdampak secara spiritual, tetapi juga biologis dan psikologis. Secara ilmiah, puasa berkaitan dengan perubahan hormonal yang berpengaruh langsung pada kondisi psikis seseorang.
Ia memaparkan, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa praktik puasa dapat memicu peningkatan hormon endorfin. Hormon ini dikenal berperan dalam menghadirkan rasa nyaman, meningkatkan perasaan positif, serta membantu menekan stres secara alami.
Meski temuan ilmiah masih menunjukkan variasi hasil, mekanisme menahan diri selama puasa dinilai mendorong tubuh memproduksi respons biologis yang mendukung suasana hati lebih stabil.
“Pada dasarnya puasa merupakan sebuah latihan untuk meningkatkan kontrol diri. Puasa melatih individu untuk menahan diri dalam melakukan sesuatu secara berlebih. Jika rutin dilakukan, hal ini akan berdampak signifikan pada penguatan kontrol diri seseorang,” ujar Dian.
Konsep kontrol diri atau self-control, lanjutnya, menjadi inti dari ibadah puasa. Dalam perspektif psikologi, kemampuan ini merupakan fondasi penting kesehatan mental. Individu yang mampu mengenali dorongan emosionalnya, lalu mengelolanya secara sadar, cenderung memiliki ketahanan psikologis yang lebih baik.
Latihan menahan keinginan makan, minum, hingga respons emosional selama Ramadan, secara tidak langsung melatih regulasi diri.
Di tengah tekanan tugas akademik maupun beban kerja yang berpotensi memicu kecemasan, kemampuan ini menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas emosi.
Dian juga menyinggung konteks terapi. Hingga kini, belum terdapat penelitian kuat yang menempatkan puasa sebagai metode utama dalam penanganan gangguan psikologis.
Puasa tidak dapat disamakan dengan intervensi klinis seperti psikoterapi atau farmakoterapi. Namun, dalam praktiknya, puasa kerap menjadi aktivitas pendukung yang bersifat komplementer.
Karakteristik puasa yang dijalankan secara tepat dinilai mampu mendorong pola hidup lebih teratur, termasuk pengaturan waktu tidur dan konsumsi makanan. Pola hidup yang lebih disiplin tersebut berkontribusi pada keseimbangan fisik dan mental.
Ketika dikombinasikan dengan penguatan kontrol diri yang berlangsung selama satu bulan penuh, puasa berpotensi memperkuat daya tahan psikologis individu, khususnya kalangan mahasiswa yang tengah berada dalam fase transisi menuju kedewasaan.
Di tengah derasnya arus distraksi digital dan tuntutan produktivitas tanpa henti, Ramadan menghadirkan momentum refleksi.
Puasa bukan sekadar ritual menahan diri, melainkan proses pembelajaran emosional yang melibatkan kesadaran, disiplin, dan pengelolaan impuls secara sadar. (Nay).

