Kilas Java, Surabaya - Dunia visual membawa Aasim Ahmad Khan pada satu kesadaran penting: kreativitas tanpa strategi hanya akan menjadi karya yang sunyi. Putra Dr Sirlbiland Khan itu memulai perjalanannya dari desain grafis, lalu mengembangkannya ke gambar bergerak. Namun di tengah proses kreatif tersebut, ia memahami bahwa visual yang kuat harus ditopang riset, strategi komunikasi, dan pemetaan audiens yang presisi agar benar-benar berdampak.
Kesadaran itu membawanya menempuh studi Magister Media dan Komunikasi di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Airlangga. Di kampus inilah cara pandangnya terhadap industri kreatif berubah secara fundamental. Kini, alumnus FISIP UNAIR tersebut berkarier sebagai Graphic Specialist di Muhima Digital, Arab Saudi.
Aasim bukan sosok yang datang tanpa bekal. Ia memiliki latar belakang akademik dan pengalaman profesional di bidang visual communication, filmmaking, photography, dan design. Ia juga terlibat dalam berbagai proyek content production, branding, serta creative media works. Namun menurutnya, pengalaman teknis saja tidak cukup.
“Saya ingin memperdalam media communication strategies dan research-based analysis. Program ini sesuai dengan minat saya di modern communication dan media development,” ujarnya.
Sebagai mahasiswa internasional asal Pakistan, Aasim mengaku memiliki kesan pertama yang hangat terhadap Indonesia. Lingkungan kampus yang inklusif dan kultur akademik yang terbuka membantunya beradaptasi dengan cepat. Diskusi interaktif di kelas menjadi pengalaman yang paling membentuk cara berpikirnya.
Ia menyebut sejumlah dosen yang memberinya pengaruh besar, antara lain Prof Dr Ratih Puspa, Dr Irfan Wahyudi, Dr Yuyun Wahyu Izzati, Prof Dra Rachmah Ida, Prof Titik, dan Dr Suko Widodo. Atmosfer akademik yang kritis namun suportif membuatnya terbiasa menyusun argumen berbasis data, bukan sekadar opini. Dukungan teman-teman lintas negara juga memperkaya perspektifnya di tengah kendala bahasa yang sempat ia alami.
Salah satu pengalaman paling berkesan adalah program cultural exchange di Semarang yang difasilitasi oleh Airlangga Global Engagement. Dalam forum tersebut, ia berdialog dengan mahasiswa dari berbagai negara dan mendalami dinamika pertukaran budaya. Interaksi lintas kultur itu memperluas cara pandangnya tentang komunikasi global.
Dalam tesisnya yang berjudul Navigating Public Relations Practices in Pakistani Startups: Key Insights, Challenges, and Localized Strategic Approaches, Aasim mengkaji praktik public relations pada startup di Pakistan. Ia memetakan tantangan yang dihadapi pelaku industri serta merumuskan pendekatan strategi yang relevan dengan konteks lokal.
Riset itu mengubah orientasinya. Dari yang semula berfokus pada estetika visual, ia mulai memprioritaskan analisis audiens, lanskap media, hingga tujuan komunikasi yang terukur. Ia menyadari bahwa membangun reputasi merek tidak cukup dengan desain menarik. Kepercayaan publik lahir dari strategi yang terstruktur dan berbasis data.
Pengalaman akademik di kelas-kelas interaktif FISIP UNAIR turut mengasah kemampuannya menyusun pesan dan merancang kampanye komunikasi. Diskusi dengan dosen dan mahasiswa internasional membentuk perspektif global yang kini ia terapkan dalam dunia profesional.
Kesempatan berkarier di Arab Saudi tidak datang secara instan. Aasim melakukan riset pasar secara spesifik dengan menargetkan Riyadh. Ia mengidentifikasi perusahaan yang relevan, mempelajari kebutuhan industrinya, lalu secara proaktif menghubungi pimpinan perusahaan melalui LinkedIn dengan menyertakan portofolio terbaiknya.
“Fokus pada tujuan, lakukan banyak riset, dan berani mengambil keputusan,” tuturnya.
Langkah tersebut membuahkan hasil. Ia diterima sebagai Graphic Specialist di Muhima Digital, perusahaan yang bergerak di bidang media kreatif di Arab Saudi. Baginya, kombinasi antara kompetensi teknis, kemampuan adaptasi lintas budaya, dan jejaring profesional menjadi modal utama untuk bersaing di pasar global.
Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Airlangga Global Engagement yang telah membuka jalannya menempuh studi magister di Indonesia. Pengalaman akademik dan internasionalisasi kampus menurutnya menjadi fondasi penting dalam membangun karier lintas negara.
Di tengah dinamika industri kreatif yang semakin kompetitif, perjalanan Aasim menunjukkan bahwa diferensiasi bukan hanya soal bakat, melainkan keberanian menggabungkan kreativitas dengan strategi, riset, dan jejaring global yang terukur. (Nay).

