Wisuda ITS ke-134, Hasna Nur Shadrina Jadi Lulusan Termuda
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA - Hasna Nur Shadrina meraih gelar sarjana dari Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) pada usia 19 tahun 7 bulan. Lulusan Departemen Teknik Lingkungan itu dinobatkan sebagai wisudawan termuda dalam Wisuda ke-134 ITS yang berlangsung pada Sabtu, 10 Oktober 2026.
Pencapaian tersebut tidak lepas dari perjalanan pendidikan Hasna yang ditempuh lebih cepat dibandingkan kebanyakan anak seusianya. Perempuan kelahiran 28 Maret 2007 yang tumbuh di Kota Tangerang itu memulai pendidikan taman kanak-kanak pada usia 3 tahun dan sekolah dasar pada usia 5 tahun.
Kecepatan belajarnya berlanjut melalui program akselerasi di jenjang sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. Hasna menempuh kelas 4 hingga kelas 6 SD hanya dalam waktu dua tahun. Ia kemudian kembali mengikuti program percepatan saat SMP sehingga dapat menyelesaikan jenjang tersebut dalam dua tahun.
“Lalu, saya kembali ikut percepatan (akselerasi, red) saat SMP jadi hanya 2 tahun,” ujarnya.
Rangkaian pendidikan yang berlangsung lebih cepat itu turut membentuk kemampuan Hasna dalam beradaptasi dengan lingkungan sosial yang dihuni teman-teman berusia lebih tua. Namun, tantangan berbeda muncul ketika ia mulai menjalani perkuliahan di ITS pada usia 16 tahun.
Merantau dari Tangerang ke Surabaya membuat Hasna harus belajar mengelola kebutuhan hidup secara mandiri, jauh dari orang tua. Proses adaptasi tersebut terbantu oleh keberadaan teman-teman yang juga merantau sehingga ia tidak sepenuhnya menghadapi perubahan lingkungan seorang diri.
“Proses saya untuk beradaptasi terbantu banget karena punya teman-teman yang sama-sama merantau, jadi terasa lebih mudah,” ungkapnya.
Selain tantangan kehidupan mandiri, Hasna menghadapi tuntutan akademik di Departemen Teknik Lingkungan ITS yang memiliki ritme perkuliahan padat dan kompetitif. Ia memilih menghadapi tekanan tersebut dengan menjaga konsistensi dalam menyelesaikan setiap tahapan studi.
Tantangan paling berat datang ketika memasuki pengerjaan tugas akhir. Penelitiannya menuntut serangkaian pengujian laboratorium intensif serta tiga tahapan sidang, yakni seminar proposal, seminar progres, dan seminar hasil.
Dalam penelitian tersebut, Hasna mengangkat persoalan mikroplastik di Sungai Kalimas, Surabaya. Topik ini menarik perhatiannya karena mikroplastik termasuk emerging pollutant atau pencemar baru yang keberadaannya semakin mengkhawatirkan.
Ia juga menyoroti belum adanya regulasi resmi untuk mengatasi persoalan lingkungan di lokasi wisata seperti Sungai Kalimas.
“Namun, hingga saat ini belum ada regulasi resmi untuk mengatasi persoalan lingkungan di lokasi wisata seperti Sungai Kalimas,” terang Hasna.
Keberhasilan menyelesaikan pendidikan tinggi pada usia muda itu tidak terlepas dari dukungan lingkungan di sekitarnya. Keluarga, teman seperjuangan, dosen, hingga teknisi laboratorium turut membantu Hasna selama menjalani perkuliahan dan menyelesaikan penelitian.
Setelah menuntaskan studinya di ITS, Hasna belum menetapkan target jangka panjang secara pasti. Dalam tiga bulan ke depan, ia berencana memperdalam pengalaman laboratorium dengan bergabung dalam proyek riset dosen yang berfokus pada Toxic Site Identification.
Sembari mempertimbangkan pilihan berkarier secara profesional atau melanjutkan studi, Hasna ingin memanfaatkan masa awal setelah kelulusan untuk mengeksplorasi potensi dan memperluas pengalaman. (Nayla).