Suhu Surabaya Terasa Lebih Dingin Saat Kemarau, Ini Penjelasan Ilmiahnya
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA – Kota Surabaya selama ini lebih dikenal sebagai wilayah pesisir dengan suhu udara yang cenderung panas. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, banyak warga merasakan hawa dingin yang lebih kuat dibandingkan biasanya, terutama pada malam hingga menjelang pagi.
Fenomena tersebut memunculkan pertanyaan karena terjadi di kota yang identik dengan cuaca terik.
Secara meteorologis, kondisi tersebut bukanlah anomali cuaca, melainkan bagian dari fenomena musiman yang dikenal masyarakat Jawa sebagai bediding.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menjelaskan bahwa bediding merupakan karakteristik musim kemarau yang dipengaruhi oleh dinamika atmosfer regional.
Fenomena ini diperkirakan masih berlangsung hingga memasuki September 2026.
Fenomena bediding terjadi ketika angin monsun Australia bertiup menuju wilayah Indonesia dengan membawa massa udara yang lebih dingin dan kering.
Pada saat yang sama, langit cenderung cerah sehingga hampir tidak ada lapisan awan yang berfungsi menahan panas dari permukaan bumi.
Akibatnya, panas yang tersimpan pada siang hari dengan cepat terlepas ke atmosfer ketika malam tiba. Proses pelepasan panas tersebut menyebabkan suhu udara turun lebih signifikan dibandingkan musim hujan.
Surabaya memang tidak mengalami penurunan suhu sedrastis kawasan pegunungan seperti Batu, Bromo, atau Malang.
Namun, kelembapan udara yang lebih rendah pada musim kemarau membuat udara terasa lebih sejuk, bahkan menusuk pada dini hari.
Di sisi lain, kontras suhu antara siang yang panas dan malam yang lebih dingin membuat perubahan temperatur terasa lebih ekstrem oleh tubuh manusia.
Selain dipengaruhi angin monsun Australia, minimnya curah hujan juga berkontribusi terhadap penurunan suhu malam hari.
Langit yang bersih dari awan memungkinkan radiasi panas bumi langsung lepas ke atmosfer tanpa banyak hambatan.
Kondisi tersebut merupakan mekanisme alami yang lazim terjadi selama puncak musim kemarau di berbagai wilayah Jawa Timur.
Dari perspektif kesehatan, perubahan suhu yang cukup tajam dapat memengaruhi daya tahan tubuh. Kelompok yang paling rentan adalah anak-anak, lansia, serta individu dengan riwayat penyakit saluran pernapasan seperti asma atau bronkitis.
Udara yang lebih dingin dan kering berpotensi memperburuk gejala gangguan pernapasan apabila tubuh tidak mampu beradaptasi dengan baik.
Masyarakat tidak perlu menganggap fenomena ini sebagai kondisi yang berbahaya.
Meski demikian, sejumlah langkah antisipatif tetap perlu dilakukan. Menggunakan pakaian yang lebih hangat saat malam dan dini hari menjadi cara sederhana untuk menjaga suhu tubuh tetap stabil.
Konsumsi air putih tetap harus diperhatikan karena udara kering dapat mempercepat dehidrasi meskipun cuaca terasa dingin.
Asupan makanan bergizi, waktu istirahat yang cukup, serta aktivitas fisik secara teratur juga membantu mempertahankan sistem imun selama periode bediding.
Bagi masyarakat yang beraktivitas pada pagi buta maupun malam hari, penggunaan jaket atau pakaian berlapis menjadi pilihan yang disarankan.
Pengendara sepeda motor juga perlu menggunakan pelindung tambahan untuk mengurangi paparan angin dingin secara langsung.
Sementara itu, orang tua dianjurkan memastikan anak-anak memperoleh kehangatan yang cukup ketika tidur, terutama saat suhu udara mulai menurun menjelang dini hari.
Di balik udara malam yang terasa lebih dingin, Surabaya tetap mengalami suhu tinggi pada siang hari.
BMKG masih memprakirakan suhu maksimum dapat mencapai sekitar 33 derajat Celsius ketika cuaca cerah. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa bediding bukan berarti suhu harian secara keseluruhan menjadi rendah, melainkan memperlebar selisih antara suhu siang dan malam sehingga perubahan temperatur terasa lebih mencolok bagi masyarakat. (Nayla).