Scroll to continue reading
BREAKING NEWS

Riset Guru Besar ITS Ungkap Potensi Bakteri Lokal Bersihkan Tanah Tercemar

KILAS JAVA, SURABAYA – Pencemaran lingkungan masih menjadi persoalan yang membayangi berbagai kawasan di Indonesia. Limbah industri, tumpahan minyak, hingga kontaminasi logam berat terus menggerus kualitas tanah, air, dan udara. Di tengah tantangan tersebut, Guru Besar ke-249 Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), Prof. Ipung Fitri Purwanti ST MT PhD, menawarkan pendekatan yang lebih ramah lingkungan melalui pengembangan teknologi bioremediasi berbasis bakteri.

Alih-alih mengandalkan metode kimia yang berpotensi menimbulkan dampak lanjutan, teknologi ini memanfaatkan mikroorganisme sebagai agen alami untuk menguraikan senyawa pencemar. Pendekatan tersebut dinilai lebih berkelanjutan karena bekerja mengikuti mekanisme biologis yang telah berlangsung di alam.

Guru Besar Departemen Teknik Lingkungan ITS itu menjelaskan, bioremediasi merupakan metode pemulihan lingkungan dengan memanfaatkan aktivitas mikroorganisme untuk menurunkan konsentrasi polutan hingga berada pada tingkat yang aman. 

Selama lebih dari dua dekade menekuni bidang remediasi lingkungan, ia mengembangkan berbagai penelitian yang berfokus pada pemulihan tanah, air, dan udara tercemar menggunakan bakteri, baik yang hidup secara mandiri maupun yang bersimbiosis dengan tanaman.

Menurut Ipung, penelitian dimulai dengan mengisolasi bakteri yang secara alami telah bertahan hidup di lokasi tercemar. Mikroorganisme tersebut kemudian dikembangkan di laboratorium sebelum dimanfaatkan kembali untuk mengolah lokasi lain yang memiliki karakteristik pencemaran serupa.

"Proses ini lebih efektif karena memanfaatkan mikroorganisme yang telah beradaptasi dengan lingkungan tercemar," ujarnya.

Pendekatan tersebut, kata dia, memungkinkan bakteri bekerja lebih optimal dibandingkan mikroorganisme dari lingkungan yang berbeda. Kemampuan adaptasi itu menjadi faktor penting dalam mempercepat proses degradasi berbagai senyawa berbahaya yang terkandung dalam tanah maupun air.

Dalam berbagai penelitian, Ipung memanfaatkan sejumlah spesies bakteri, antara lain Bacillus cereus, Bacillus subtilis, Pseudomonas aeruginosa, dan Staphylococcus gallinarum. Dari beberapa jenis tersebut, Staphylococcus gallinarum menjadi salah satu temuan yang paling menjanjikan.

Bakteri itu berhasil diisolasi dari tanah yang terkontaminasi limbah kerosin hasil pengolahan aspal. Berdasarkan hasil pengujian, mikroorganisme tersebut menunjukkan tingkat resistensi sekaligus kemampuan degradasi polutan yang lebih baik dibandingkan beberapa bakteri lainnya.

"Bakteri tersebut memiliki kemampuan resistensi dan degradasi yang lebih baik dibandingkan beberapa bakteri lain," kata Ipung.

Penelitian tidak berhenti pada pemanfaatan bakteri tunggal. Ia juga mengembangkan konsep konsorsium bakteri dengan mengombinasikan beberapa spesies mikroorganisme dalam satu sistem remediasi. 

Tujuannya untuk mengetahui apakah kolaborasi antarspesies mampu meningkatkan efektivitas penguraian polutan.

Hasilnya menunjukkan bahwa kombinasi bakteri tidak selalu menghasilkan kinerja yang lebih baik. Efektivitas proses sangat ditentukan oleh kemampuan masing-masing mikroorganisme untuk membangun sinergi biologis sekaligus beradaptasi terhadap jenis pencemar yang dihadapi. 

Temuan tersebut memperlihatkan bahwa setiap lokasi membutuhkan pendekatan bioremediasi yang berbeda sesuai karakteristik kontaminannya.

Riset yang dikembangkan Ipung tidak hanya berhenti pada skala laboratorium. Teknologi tersebut telah diuji di sejumlah lokasi lapangan, termasuk kawasan kilang minyak di Sumatera. 

Pengujian menunjukkan kemampuan bakteri dalam menurunkan konsentrasi hidrokarbon yang mencemari tanah, sehingga membuka peluang penerapan teknologi ini pada kawasan industri maupun lokasi bekas pencemaran minyak.

Lebih jauh, Ipung menilai potensi bioremediasi tidak terbatas pada pencemar organik seperti minyak bumi. 

Pengembangan teknologi serupa juga berpeluang diterapkan untuk menangani pencemaran anorganik, termasuk logam berat yang selama ini menjadi tantangan besar dalam pengelolaan lingkungan karena sulit terurai secara alami.

Pengembangan bioremediasi berbasis bakteri tersebut memperkuat posisi riset ITS dalam menghadirkan solusi teknologi yang berpijak pada prinsip keberlanjutan. 

Inovasi ini sejalan dengan agenda Sustainable Development Goals (SDGs), terutama tujuan ke-6 tentang Air Bersih dan Sanitasi Layak, tujuan ke-13 mengenai Penanganan Perubahan Iklim, serta tujuan ke-15 tentang Perlindungan Ekosistem Daratan melalui pemanfaatan teknologi yang lebih ramah lingkungan dan berbasis sumber daya hayati. (Nayla).
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar