Majelis Ar-Rohimin: Menjaga Hati dan Pandangan, Dua Nasihat Penting Habib Abu Bakar dan Habib Musthofa
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA – Penyakit hati seperti iri, dengki, dan prasangka buruk kerap menjadi penyebab retaknya hubungan antarsesama. Dalam pandangan Islam, penyakit batin itu bahkan dinilai lebih berbahaya dibandingkan persoalan yang tampak di permukaan karena dapat menggerogoti keimanan seseorang secara perlahan.
Pesan tersebut menjadi pokok tausiah Habib Abu Bakar bin Abdul Qadir Mauladawilah saat menghadiri pengajian rutin Majelis Ar-Rohimin di Jalan Tambak Dalam Baru 1B, Surabaya, Rabu (22/7/2026).
Di hadapan para jemaah, Habib Abu Bakar mengajak umat Islam menjadikan Rasulullah Muhammad SAW sebagai teladan utama dalam membersihkan hati. Menurutnya, seluruh akhlak Nabi merupakan cerminan kesempurnaan yang layak ditiru oleh setiap muslim.
"Hati manusia adalah pusat kehidupan. Kalau hatinya baik, maka ucapan dan perbuatannya juga akan baik," ungkapnya.
Ia kemudian mengingatkan bahwa Rasulullah SAW adalah manusia pilihan sekaligus kekasih Allah SWT yang memiliki akhlak paling mulia.
"Maka sebagai umat Muhammad, patut kiranya kita mencontoh beliau yang mempunyai suri teladan yang baik," katanya.
Menurut Habib Abu Bakar, salah satu tantangan terbesar manusia saat ini bukan semata persoalan ekonomi maupun kehidupan dunia, melainkan bagaimana menjaga kebersihan hati di tengah derasnya arus persaingan, media sosial, dan budaya saling membandingkan diri.
Rasa iri sering kali muncul ketika seseorang merasa tidak puas terhadap nikmat yang telah Allah berikan. Padahal Islam mengajarkan bahwa setiap rezeki telah ditetapkan sesuai hikmah-Nya. Ketika hati dipenuhi rasa syukur, ruang bagi dengki dan kebencian akan semakin sempit.
Dalam tausiahnya, Habib Abu Bakar juga menguraikan golongan orang-orang yang memperoleh kecintaan Allah SWT. Salah satunya ialah mereka yang mencintai ilmu dan menghormati para ulama.
Kecintaan tersebut diwujudkan dengan memperbanyak membaca Al-Qur'an, menghadiri majelis ilmu, mempelajari ajaran agama, serta menjaga hubungan baik dengan para guru yang membimbing umat menuju jalan yang benar.
Menurutnya, majelis ilmu bukan hanya tempat memperoleh pengetahuan, tetapi juga ruang membersihkan hati. Seseorang yang rutin menghadiri pengajian akan lebih mudah mengendalikan hawa nafsu karena selalu diingatkan tentang nilai-nilai keimanan.
Selain mencintai ilmu, Habib Abu Bakar menekankan pentingnya memperbanyak selawat kepada Nabi Muhammad SAW. Selawat merupakan bentuk cinta kepada Rasulullah sekaligus amalan yang membawa keberkahan dalam kehidupan.
"Semoga sebelum kita menghadap Allah, kita bisa bermimpi berjumpa Rasulullah sehingga kita menjadi manusia yang husnul khatimah," ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa hati yang dipenuhi selawat akan lebih mudah merasakan ketenangan. Perasaan dengki, iri, serta prasangka buruk kepada orang lain perlahan akan terkikis karena hati semakin dekat kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.
Dalam kehidupan modern, penyakit hati sering muncul tanpa disadari. Melihat keberhasilan orang lain di media sosial, misalnya, dapat memunculkan rasa tidak puas terhadap kehidupan sendiri.
Islam mengajarkan agar setiap muslim mengubah rasa iri menjadi motivasi untuk berbuat lebih baik tanpa berharap nikmat orang lain hilang.
Sebelum Habib Abu Bakar menyampaikan tausiah, Pengasuh Majelis Ar-Rohimin, Habib Musthofa bin Zein Al-Alydrus, mengingatkan pentingnya menjaga pandangan sebagai salah satu cara menjaga kesucian hati.
Menurutnya, mata merupakan pintu masuk berbagai godaan yang dapat memengaruhi hati dan perilaku seseorang. Karena itu, Islam memberikan perhatian besar terhadap adab dalam memandang.
Ia mengingatkan bahwa laki-laki yang memandang perempuan yang bukan mahram disertai syahwat harus segera bertaubat dan menjaga dirinya dari kebiasaan tersebut.
"Bisa dibayangkan bau surga bisa dicium dari jarak perjalanan ratusan tahun, tetapi tidak dapat dicium oleh orang-orang yang melihat wanita lalu membayangkan bentuk tubuhnya. Naudzubillah," katanya.
Habib Musthofa juga mengajak perempuan menjaga kehormatan dengan berpakaian sesuai syariat dan menjaga adab ketika berada di ruang publik. Menurutnya, laki-laki dan perempuan sama-sama memiliki tanggung jawab menjaga kesucian diri.
Ajaran mengenai menjaga pandangan memiliki dasar yang kuat dalam Al-Qur'an. Allah SWT berfirman dalam Surah An-Nur ayat 30 agar laki-laki beriman menundukkan pandangan dan menjaga kemaluannya.
Perintah serupa juga ditujukan kepada perempuan pada ayat berikutnya. Para ulama menafsirkan bahwa menjaga pandangan merupakan benteng pertama dalam menjaga kehormatan dan menghindarkan diri dari perbuatan maksiat.
Dalam praktik sehari-hari, menjaga mata tidak hanya berarti menghindari melihat aurat atau lawan jenis dengan syahwat. Lebih luas lagi, seorang muslim dianjurkan menghindari tontonan yang mengandung kemaksiatan, membatasi konsumsi konten digital yang merusak moral, serta menggunakan nikmat penglihatan untuk membaca Al-Qur'an, mempelajari ilmu, menyaksikan keindahan ciptaan Allah, dan memperhatikan berbagai tanda kebesaran-Nya di alam semesta.
Habib Musthofa menegaskan bahwa mata merupakan nikmat besar yang akan dimintai pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT. Karena itu, penglihatan hendaknya digunakan untuk hal-hal yang mendatangkan manfaat, memperkuat keimanan, serta mengantarkan seseorang semakin dekat kepada Allah melalui ilmu, ibadah, dan akhlak yang mulia. (Nayla).