BREAKING NEWS

Mahasiswa UNAIR Unjuk Inovasi Pengabdian Masyarakat di Genera-Z Berbakti 2026

KILAS JAVA, SURABAYA – Tim Amerta Pertiwi dari Universitas Airlangga (UNAIR) menorehkan prestasi di tingkat nasional setelah berhasil masuk empat besar dalam program Genera-Z Berbakti 2026 yang diselenggarakan Bakti BCA. Melalui kompetisi pengabdian masyarakat tersebut, tim mahasiswa UNAIR mengusung konsep pemberdayaan berbasis desa wisata dengan menawarkan solusi atas persoalan kesehatan, lingkungan, hingga ketahanan pangan di Desa Wisata Patak Banteng, Kabupaten Wonosobo.

Program Genera-Z Berbakti 2026 berlangsung pada 26 Juni hingga 7 Juli 2026. Berbeda dari kompetisi gagasan pada umumnya, peserta tidak hanya mempresentasikan konsep, tetapi juga mengimplementasikan program yang telah disusun di desa binaan BCA. Hasil implementasi tersebut kemudian menjadi dasar penilaian dewan juri untuk menentukan para pemenang.

Tim Amerta Pertiwi diperkuat oleh Usamah dari Fakultas Sains dan Teknologi (FST) angkatan 2024, Muhammad  Adib dari   Fakultas Ilmu Kesehatan, Kedokteran dan Ilmu Alam (FIKKIA 2023), serta Regina Saraswati, (FIKKIA 2024).

Menurut ketua tim, Usamah, penyusunan program diawali dengan pemetaan berbagai persoalan yang dihadapi Desa Wisata Patak Banteng. Meski dikenal sebagai salah satu pintu pendakian menuju Gunung Prau dengan aktivitas ekonomi yang terus berkembang, desa tersebut masih menghadapi sejumlah tantangan mendasar.

"Desa Patak Banteng adalah salah satu wisata dengan roda ekonomi pesat karena menjadi jalur pendakian Gunung Prau. Namun, mereka masih menghadapi masalah krusial seperti pengelolaan sampah, tingginya angka stunting akibat pola asuh yang kurang, pemadaman listrik, hingga gangguan virus pada lahan pertanian warga," ujar Usamah.

Berangkat dari kondisi tersebut, Amerta Pertiwi merancang tiga program utama yang saling terintegrasi. Pilar pertama adalah Rumah Inovasi yang berfokus pada upaya pencegahan stunting melalui edukasi keluarga serta pemberdayaan kader perempuan Srikandi.

Pilar kedua diwujudkan melalui Rumah Kompos yang mengedepankan edukasi pemilahan sampah, pengolahan limbah organik, dan revitalisasi lingkungan. 

Sementara pilar ketiga, Rumah Bibit, diarahkan untuk memperkuat sektor agrowisata melalui penyediaan bibit tanaman sekaligus pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Piko-Hidro (PLTPH) sebagai alternatif energi ramah lingkungan.

Agar program dapat berjalan berkelanjutan, tim membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan di desa. Mereka menggandeng Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis), komunitas Ranger yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan, kader Posyandu, pemerintah desa, hingga tim operasional yang menangani aspek lingkungan dan pertanian.

Selain menghadapi tantangan teknis selama pelaksanaan program, tim juga merasakan tekanan tinggi selama proses kompetisi. 

Seluruh rangkaian kegiatan didokumentasikan dalam format audiovisual sehingga setiap tahapan, termasuk dinamika emosional peserta, terekam sebagai bagian dari perjalanan kompetisi.

"Sembari berkompetisi, kami juga di-shooting. Seluruh proses dari kompetisi terdokumentasi menjadi sebuah cerita yang menginspirasi. Karena itu belakangan banyak video yang memperlihatkan kami berada dalam tekanan bahkan menangis di depan panggung," kata Usamah.

Baginya, pengalaman tersebut menjadi pembelajaran berharga tentang pentingnya ketangguhan, kerja sama, dan kepedulian sosial. 

Ia berharap program yang telah dirancang tidak berhenti pada ajang kompetisi, melainkan terus memberikan manfaat bagi masyarakat Desa Patak Banteng sekaligus membuka ruang bagi mahasiswa UNAIR untuk menghadirkan inovasi pengabdian yang berdampak.

"Sebenarnya pengabdian itu dimulai dari diri sendiri, kemudian baru kepada masyarakat. Intinya, kita harus terus belajar di mana pun kita berada," ujar Usamah. (Nayla).
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar