Alumni FK UNAIR Sukses Berkarier di Maladewa, Kelola Program Longevity Kelas Dunia
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA — Profesi dokter tidak lagi identik dengan ruang praktik atau rumah sakit. Perkembangan industri kesehatan global membuka ruang karier yang semakin beragam, termasuk di sektor hospitality premium yang menggabungkan layanan medis, kebugaran, dan gaya hidup sehat.
Jalur karier tersebut ditempuh dr Maria Arni Stella, alumnus Fakultas Kedokteran (FK) Universitas Airlangga (UNAIR), yang kini berkiprah sebagai Wellness Manager di sejumlah resor mewah di Maladewa, yakni Anantara Kihavah dan Heritance Aarah.
Lulusan Program Studi S1 Kedokteran angkatan 2013 itu bertanggung jawab memimpin operasional layanan kesehatan holistik sekaligus merancang program kebugaran bagi tamu dari berbagai negara.
Karier internasional Stella bermula setelah menyelesaikan pendidikan profesi dokter. Alih-alih langsung meniti karier di rumah sakit, ia memilih memperdalam bidang kedokteran estetika di Bali. Kesempatan datang ketika sebuah klinik milik pengusaha asal Australia mengundangnya sebagai visiting practitioner selama tiga bulan.
Dalam penugasan tersebut, Stella memperkenalkan beragam teknologi perawatan kulit modern, mulai dari skin booster, botox, hingga epigenetic test yang memanfaatkan analisis helai rambut untuk memetakan kebutuhan nutrisi dan pola makan sesuai kondisi biologis setiap individu.
Kesempatan yang semula bersifat sementara berkembang menjadi karier jangka panjang. Tingginya minat pasar terhadap layanan yang dikembangkan membuat kontraknya diperpanjang hingga hampir dua tahun. Pengalaman tersebut menjadi batu loncatan menuju posisi strategis sebagai Wellness Manager di industri resor mewah internasional.
Di lingkungan hospitality, peran seorang dokter mengalami perluasan. Tidak hanya menangani aspek medis, tetapi juga membangun pengalaman kesehatan yang menyeluruh melalui interaksi langsung dengan tamu dalam berbagai agenda eksklusif, termasuk festival kesehatan dan program kebugaran personal.
Dari pengalaman itu, Stella melihat perubahan tren kesehatan dunia. Menurutnya, masyarakat global kini tidak lagi sekadar mencari layanan spa atau perawatan estetika, melainkan mulai berorientasi pada longevity, yakni upaya mempertahankan kualitas hidup dalam jangka panjang melalui pendekatan kesehatan preventif dan optimalisasi fungsi sel tubuh.
Berangkat dari kebutuhan tersebut, Stella mengembangkan berbagai program kesehatan berbasis sains di resor tempatnya bekerja. Program itu mencakup pemanfaatan Hyperbaric Oxygen Therapy (HBOT), cryotherapy yang mengombinasikan cold plunge pool dan sauna untuk mempercepat pemulihan tubuh, serta LED Therapy guna mendukung regenerasi sel dan penanganan cedera.
Layanan lain yang dikembangkan meliputi infus vitamin atau IV Therapy, hingga paket retreat kesehatan selama tujuh sampai 14 hari. Program tersebut mengintegrasikan tes epigenetik, penyusunan menu nutrisi bersama executive chef, pendampingan personal trainer, terapi suara atau sound healing, serta pijat limfatik sebagai bagian dari pendekatan kesehatan yang menyeluruh.
Di sisi bisnis, Stella mengaku berhasil mengubah persepsi terhadap fasilitas spa yang selama ini kerap dipandang sebagai layanan pelengkap hotel. Di bawah pengelolaannya, departemen wellness mampu menjadi salah satu penyumbang pendapatan utama sekaligus meningkatkan reputasi layanan resor.
"Dari segi bisnis, kami berhasil mencapai target anggaran sekitar 100 ribu dolar Amerika Serikat setiap bulan secara konsisten. Spa yang awalnya dianggap remeh akhirnya mampu mencatatkan Google Review tertinggi di antara seluruh departemen selama satu tahun penuh," ujarnya.
Pengembangan layanan kesehatan itu juga membuka peluang bagi profesi lain, seperti perawat dan terapis, untuk memasuki pasar kerja internasional melalui pelatihan dengan standar global pada bidang kesehatan preventif dan layanan wellness.
Stella menilai fondasi yang diperolehnya selama menempuh pendidikan di Fakultas Kedokteran UNAIR menjadi bekal penting dalam perjalanan kariernya. Selain membangun kompetensi klinis, pendidikan tersebut dinilainya membentuk pola pikir yang adaptif, terbuka terhadap perubahan, dan memiliki semangat kewirausahaan.
Ia pun mendorong mahasiswa kedokteran agar tidak membatasi diri terhadap peluang karier di luar negeri. Menurutnya, tantangan terbesar justru sering muncul dari keraguan diri sebelum mencoba.
"Jangan duluan mind block mengira kalau ke luar negeri itu susah atau biayanya berat. Ujian kompetensi di Indonesia justru jauh lebih menantang. Kalau ada kesempatan dan itu adalah mimpi kalian, go get it," kata Stella. (Nayla).