Notification

×

Iklan

Iklan

Rupiah Tembus Rp17.600 per Dolar AS, Pakar UNAIR Beber Penyebab Utama

Selasa, 19 Mei 2026 | Mei 19, 2026 WIB Last Updated 2026-05-19T14:03:24Z
Kilas Java, Surabaya – Nilai tukar rupiah kembali berada dalam tekanan berat setelah menembus level Rp17.600 per dolar Amerika Serikat (AS) pada pertengahan Mei 2026. Pelemahan tersebut menjadi salah satu tekanan terdalam yang dialami rupiah dibanding mata uang negara berkembang lain di kawasan Asia Tenggara.

Kondisi itu dipicu kombinasi tekanan global dan domestik yang memicu meningkatnya ketidakpastian pasar. Gejolak geopolitik di Timur Tengah hingga kebijakan suku bunga AS menjadi faktor dominan yang menekan pergerakan rupiah dalam beberapa pekan terakhir.

Guru Besar Ekonomi Moneter Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menjelaskan bahwa investor global saat ini cenderung menarik modal dari negara berkembang dan mengalihkannya ke aset safe haven di AS.

Menurut Rahma, eskalasi konflik antara AS dan Iran yang mengganggu jalur perdagangan di Selat Hormuz turut memicu lonjakan harga minyak dunia. Dampaknya cukup signifikan bagi Indonesia yang masih bergantung pada impor energi.

“Indonesia sebagai negara importir minyak harus mengeluarkan lebih banyak dolar AS untuk memenuhi kebutuhan energi domestik. Tekanan terhadap rupiah pun menjadi semakin besar,” ujarnya, Selasa (19/5).

Rahma menilai faktor global memiliki kontribusi dominan terhadap pelemahan rupiah saat ini. Sementara faktor domestik memperbesar tekanan yang sudah terbentuk akibat situasi eksternal.

“Dalam dinamika nilai tukar saat ini, faktor global memiliki bobot pengaruh sekitar 70 hingga 80 persen terhadap tekanan rupiah. Faktor domestik lebih berperan sebagai amplifier di tengah badai eksternal,” katanya.

Selain tensi geopolitik, tingginya inflasi AS dan ekspektasi suku bunga acuan The Fed yang masih bertahan tinggi juga memperbesar arus modal keluar dari pasar domestik. Investor dinilai lebih memilih menempatkan dana pada instrumen berdenominasi dolar AS yang dianggap lebih aman dan memberikan imbal hasil tinggi.

Di sisi lain, pasar turut mencermati pelebaran defisit APBN akibat meningkatnya subsidi energi. Kebutuhan dolar AS untuk pembayaran dividen perusahaan dan kewajiban utang luar negeri pada triwulan II-2026 juga disebut memperbesar tekanan terhadap kurs rupiah.

“Pasar membenci ketidakpastian. Ketika disiplin fiskal diragukan, tekanan terhadap rupiah akan berlipat ganda,” tegasnya.

Rahma menambahkan, langkah intervensi yang dilakukan Bank Indonesia masih sangat penting untuk menjaga stabilitas pasar dan mencegah kepanikan seperti yang pernah terjadi pada krisis 1998.

Menurut dia, instrumen swap dan forward, termasuk Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), kini menjadi tulang punggung intervensi bank sentral karena mampu meredam gejolak pasar tanpa menguras cadangan devisa secara tunai.

“Jika indikatornya menahan rupiah agar tidak melemah sama sekali, tentu belum efektif. Namun untuk menjaga orderly market dan mencegah kepanikan, intervensi BI sangat krusial,” jelasnya.

Rahma menekankan bahwa penguatan fundamental ekonomi nasional tidak cukup hanya mengandalkan intervensi di pasar valuta asing. Stabilitas nilai tukar, kata dia, harus ditopang penguatan sektor riil dan peningkatan investasi asing langsung atau foreign direct investment (FDI).

Ia menilai produktivitas sektor riil akan menjadi penentu utama ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan global yang terus bergerak dinamis.

“Stabilitas nilai tukar yang kokoh lahir dari sektor riil yang produktif. Rupiah tidak akan kehilangan harga dirinya jika current account ditopang oleh produktivitas nyata,” tandasnya. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update