Kilas Java, Surabaya - Mahasiswa Program Studi Biologi Fakultas Sains dan Teknologi Universitas Airlangga kembali menorehkan capaian akademik di tingkat nasional. Tim Lumilit, yang terdiri dari mahasiswa lintas angkatan 2022 dan 2023, meraih Juara 3 sekaligus penghargaan Best Presenter dalam ajang Biolexion 2.0 yang digelar di Institut Teknologi Bandung.
Tim ini beranggotakan Yusag Abdillah sebagai ketua, bersama Alifa Jeanny Camila, Ainun Azka Rohmatillah, dan Venesa Filda Agnesia. Kolaborasi lintas angkatan yang mereka bangun menjadi fondasi dalam merumuskan gagasan ilmiah yang kompetitif di tengah ketatnya persaingan.
Yusag mengatakan timnya berupaya menghadirkan solusi berbasis biologi molekuler yang aplikatif terhadap persoalan lingkungan laut. Mereka mengembangkan LumiKit, sebuah biosensor yang dirancang untuk memberikan sinyal dini ketika kualitas perairan mulai terdegradasi akibat kontaminasi logam berat.
Dalam kompetisi tersebut, Tim Lumilit mengajukan karya berjudul LumiKit: Biosensor Molekuler Vibrio fischeri Berbasis Quorum Sensing sebagai Sistem Early Detection Pencemaran Laut oleh Nikel di Kawasan Konservasi.
Gagasan ini memanfaatkan bakteri Vibrio fischeri yang dimodifikasi secara in silico menggunakan pendekatan CRISPR-Cas9.
Melalui rekayasa tersebut, intensitas bioluminesensi bakteri akan mengalami penurunan ketika terpapar nikel. Mekanisme ini diharapkan menjadi indikator biologis yang sensitif terhadap perubahan kualitas perairan, khususnya di kawasan konservasi laut yang terdampak aktivitas pertambangan.
Ainun Azka Rohmatillah menuturkan bahwa inovasi tersebut dilatarbelakangi oleh meningkatnya tekanan industri ekstraktif di wilayah timur Indonesia, seperti Sulawesi dan Maluku.
Menurut dia, pendekatan deteksi dini menjadi krusial untuk mencegah kerusakan ekosistem yang lebih luas.
Pengembangan konsep LumiKit tidak berlangsung tanpa hambatan. Keterbatasan literatur spesifik serta kompleksitas teknik CRISPR menjadi tantangan utama yang harus dihadapi tim. Mereka mengandalkan studi mandiri melalui jurnal internasional dan diskusi intensif untuk mematangkan desain molekuler yang diusulkan.
Selama masa persiapan, ritme kerja tim berlangsung padat. Dalam perjalanan menuju Bandung, para anggota memanfaatkan waktu untuk menyempurnakan materi. Ainun dan Venesa memfokuskan diri pada penguatan presentasi, sementara Yusag dan Alifa mengulas ulang landasan teoritis serta validasi desain.
Venesa Filda Agnesia, yang turut meraih penghargaan Best Presenter, menggambarkan proses latihan berlangsung hampir tanpa jeda, termasuk memanfaatkan ruang gerbong makan kereta pada malam hari demi mendapatkan suasana yang lebih kondusif.
Pendampingan akademik turut memperkuat capaian tim. Almando Geraldi, dosen pembimbing, memberikan arahan dalam pendalaman konsep biologi sintetik yang menjadi basis utama inovasi tersebut.
Ajang Biolexion 2.0 mempertemukan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi dengan latar belakang riset yang beragam. Dalam forum itu, Tim Lumilit tidak hanya mempresentasikan gagasan, tetapi juga berhadapan dengan kritik metodologis serta pertanyaan aplikatif dari dewan juri dan peserta lain. (Nayla).

