Notification

×

Iklan

Iklan

Kolaborasi Global di UNAIR, ASEM Day 2026 Bahas Tantangan Partisipasi Lingkungan

Jumat, 24 April 2026 | April 24, 2026 WIB Last Updated 2026-04-24T02:04:16Z
Kilas Java, Surabaya - Universitas Airlangga melalui LPMB UNAIR berkolaborasi dengan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia dan Asia-Europe Foundation (ASEF) menggelar Asia-Europe Meeting (ASEM) Day 2026. Kegiatan ini dibuka pada Rabu, 23 April 2026, di Hall 1 Gedung Manajemen Kampus MERR-C.

Forum ini menjadi ruang temu gagasan antara generasi muda, komunitas, dan penggerak lingkungan untuk membedah tantangan dalam meningkatkan partisipasi publik terhadap program keberlanjutan. Diskusi menghadirkan pengalaman empiris para pelaku lapangan yang selama ini terlibat langsung dalam berbagai inisiatif lingkungan.

Beragam perspektif mengemuka, mulai dari persoalan rendahnya kesadaran masyarakat, perbedaan pola pikir, hingga strategi konkret untuk memperluas jangkauan gerakan keberlanjutan di tingkat akar rumput.

Maulina Gheananta, co-founder 4GoodThings, menyoroti bahwa persoalan mendasar dalam isu lingkungan terletak pada minimnya kesadaran masyarakat, terutama dalam pengelolaan sampah. 

Ia mencontohkan kondisi di kawasan Bantargebang yang menjadi simbol kompleksitas persoalan limbah di Indonesia.

Berangkat dari realitas tersebut, 4GoodThings mengembangkan pendekatan desain berkelanjutan dengan mengolah limbah plastik menjadi produk bernilai guna. Inisiatif ini tidak hanya berorientasi pada solusi ekologis, tetapi juga membuka ruang pemberdayaan ekonomi.

Menurutnya, perluasan dampak gerakan tidak bisa dilepaskan dari edukasi yang berkelanjutan. Institusi pendidikan menjadi target strategis untuk menanamkan kesadaran sejak dini. 

Selain itu, media sosial seperti Instagram dinilai efektif sebagai medium kampanye yang mampu menjangkau generasi muda secara masif.

Ia menegaskan bahwa perubahan tidak selalu dimulai dari langkah besar. Kebiasaan sederhana seperti memilah sampah di rumah dapat menjadi titik awal transformasi, selama dilakukan secara konsisten.

Pandangan lain disampaikan Muhammad Ikhsan Destian, co-founder Pandawara Group. Ia menjelaskan bahwa gerakan yang digagasnya tidak hanya berfokus pada aksi bersih-bersih, tetapi juga pada pembangunan kesadaran kolektif masyarakat.

Pandawara Group mengembangkan sejumlah program, di antaranya Jagabumi, Pancaranata, Ajakarsa, Manahrasa, dan Jaganadara. Setiap program dirancang untuk menyasar aspek berbeda, mulai dari aksi langsung di lapangan hingga penguatan edukasi dan pembangunan komunitas.

Ikhsan menilai bahwa tantangan terbesar bukan sekadar teknis pelaksanaan kegiatan, melainkan perbedaan cara pandang di masyarakat. Tidak semua individu memiliki kesadaran yang sama terhadap urgensi menjaga lingkungan.

Dalam konteks tersebut, pendekatan berbasis aksi dinilai lebih efektif dibandingkan sekadar narasi. Keterlibatan langsung masyarakat, didukung publikasi digital yang masif, menjadi strategi untuk membangun perubahan perilaku secara bertahap.

Ia juga menekankan pentingnya peran generasi muda sebagai motor penggerak perubahan, dengan memulai dari aksi-aksi kecil yang memiliki efek berantai.

Sementara itu, Arnedi Rizki Adidharma, perwakilan The Sanitizers, menggarisbawahi bahwa gerakan lingkungan kerap berangkat dari inisiatif individual yang kemudian berkembang menjadi gerakan kolektif.

Program seperti bersih-bersih rutin mingguan, kegiatan tematik seperti ngabubersih, serta edukasi kepada generasi muda menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran publik secara berkelanjutan.

Ia mengungkapkan bahwa resistensi masyarakat masih menjadi hambatan utama. Tidak sedikit yang berpandangan bahwa aktivitas bersih-bersih tidak akan berdampak signifikan karena sampah akan kembali muncul.

Dalam situasi tersebut, media sosial memainkan peran krusial sebagai alat diseminasi pesan. Konten digital memungkinkan isu lingkungan dikemas secara lebih menarik dan menjangkau audiens yang lebih luas, khususnya kalangan muda.

Pendekatan komunikasi yang adaptif, dikombinasikan dengan aksi nyata di lapangan, menjadi pola yang terus dikembangkan oleh berbagai komunitas lingkungan dalam memperluas partisipasi masyarakat. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update