Notification

×

Iklan

Iklan

FK UNAIR Gandeng Diaspora Medis Belanda, Perkuat Kolaborasi Global Kesehatan

Kamis, 23 April 2026 | April 23, 2026 WIB Last Updated 2026-04-23T12:02:34Z
Kilas Java, Surabaya - Jarak geografis tak lagi menjadi batas dalam pengembangan dunia kedokteran. Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) kembali menegaskan langkahnya menuju panggung global dengan membuka ruang kolaborasi bersama diaspora medis Indonesia yang berkiprah di Eropa.

Bertempat di Ruang Dekan Kampus A, FK UNAIR menerima kunjungan Tan Liang Tik, MD, seorang dokter spesialis bedah plastik yang saat ini berpraktik di Belanda. Kehadiran dokter yang akrab disapa Dokter Tik itu disambut langsung oleh Dekan FK UNAIR, Prof. Dr. Eighty Mardiyan Kurniawati dr SpOG Subsp Urogin-RE, pada Kamis (23/4/2026).

Dalam pertemuan tersebut, Dokter Tik hadir bersama Sekretaris Alumni FK UNAIR, dr Bambang Wicaksono SpBPRE Subsp LBRE(K). Agenda utama kunjungan ini adalah menjajaki peluang kerja sama strategis antara institusi pendidikan kedokteran di Indonesia dengan jaringan profesional kesehatan di Eropa.

Tak sekadar praktisi, Dokter Tik juga dikenal sebagai penggerak Indonesian Diaspora Global Network Health (IDGNH), sebuah organisasi nirlaba yang berfokus pada penguatan kolaborasi lintas negara di bidang kesehatan. Melalui platform digitalnya, organisasi ini berupaya menjembatani kontribusi tenaga medis diaspora untuk pembangunan sektor kesehatan di Indonesia.

Menurut Dokter Tik, keberadaan diaspora bukan hanya soal representasi di luar negeri, melainkan juga tanggung jawab untuk membawa pulang pengetahuan dan pengalaman. Ia menekankan pentingnya transfer ilmu dan teknologi medis sebagai bagian dari kontribusi nyata.

“IDGNH menjadi wadah agar keahlian para diaspora bisa terhubung langsung dengan kebutuhan di dalam negeri, sehingga dampaknya lebih terasa bagi masyarakat,” ujarnya.

Pembahasan dalam pertemuan itu mengerucut pada sejumlah rencana konkret. Di antaranya pengembangan riset bersama, program pertukaran tenaga ahli, hingga peningkatan kapasitas layanan medis berbasis standar internasional. Kolaborasi ini juga membuka peluang keterlibatan institusi kesehatan di Belanda dalam mendukung penguatan akademik dan praktik klinis di FK UNAIR.

Dekan FK UNAIR, Prof. Eighty Mardiyan Kurniawati, melihat inisiatif ini sebagai momentum strategis untuk mempercepat internasionalisasi kampus. Menurutnya, keterlibatan diaspora menjadi salah satu kunci dalam membangun ekosistem pendidikan kedokteran yang adaptif terhadap perkembangan global.

Ia menilai, akses langsung terhadap praktik medis di negara maju akan memberikan pengalaman berharga bagi sivitas akademika, sekaligus memperkaya perspektif dalam pengembangan ilmu kedokteran.

“Kami menyambut baik rencana kolaborasi ini. Ini menjadi peluang bagi mahasiswa dan tenaga medis untuk berinteraksi dengan standar internasional, khususnya yang berkembang di Belanda,” tuturnya.

Langkah ini sekaligus mempertegas posisi FK UNAIR sebagai institusi yang aktif membangun jejaring global, tidak hanya melalui kerja sama formal antar lembaga, tetapi juga dengan memanfaatkan potensi besar diaspora Indonesia yang tersebar di berbagai negara. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update