Notification

×

Iklan

Teknologi Elektrokoagulasi ITS Hadirkan Air Bersih bagi Korban Banjir dan Longsor di Aceh

Sabtu, 07 Maret 2026 | Maret 07, 2026 WIB Last Updated 2026-03-06T18:04:58Z
Kilas Java, Surabaya — Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) kembali menunjukkan kiprah kemanusiaannya dengan meresmikan instalasi pengolahan air bersih inovatif di wilayah terdampak banjir bandang dan tanah longsor di Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Fasilitas tersebut dipasang di lingkungan Pesantren Raudhatul Mukarramah Al Aziziyah sebagai upaya membantu masyarakat yang mengalami kesulitan mendapatkan air bersih pascabencana.

Wakil Kepala Pusat Studi Infrastruktur dan Lingkungan Berkelanjutan ITS Dr Catur Arif Prastyanto menjelaskan bahwa pemilihan lokasi instalasi melalui proses kajian dan diskusi panjang antara Tim Tanggap Bencana ITS dan Universitas Syiah Kuala. 

Pertimbangan utama meliputi kedekatan dengan sumber air baku serta kemudahan operasional dan perawatan instalasi di lapangan.

Menurut dosen Departemen Teknik Sipil tersebut, keberadaan sumber air sungai di sekitar pesantren menjadi faktor penting karena sistem yang dibangun dirancang untuk mengolah air dengan tingkat kekeruhan tinggi. Dengan mempertimbangkan kondisi geografis serta kebutuhan masyarakat setempat, instalasi ini diharapkan mampu menjadi solusi jangka menengah hingga panjang bagi penyediaan air bersih.

Teknologi yang digunakan merupakan hasil pengembangan dua pakar Departemen Teknik Lingkungan ITS, Prof Arseto Yekti Bagastyo dan Ervin Nurhayati. Sistem tersebut mampu mengolah air sungai keruh menjadi air bersih dengan kapasitas hingga 2.000 liter per jam.

Instalasi dirancang untuk bekerja secara kontinyu, meskipun dalam kondisi ideal dioperasikan selama delapan hingga sepuluh jam setiap hari. Durasi operasional menyesuaikan ketersediaan air baku serta kebutuhan distribusi air bersih kepada masyarakat sekitar pesantren.

Catur memaparkan bahwa efisiensi sistem ini bertumpu pada metode pemurnian menggunakan prinsip elektrokoagulasi. Teknologi tersebut memungkinkan proses penurunan tingkat kekeruhan air tanpa menggunakan bahan kimia tambahan. Setelah proses tersebut, air kemudian disaring kembali melalui sistem membran untuk meningkatkan kualitas hasil pengolahan.

Pendekatan teknologi ini membuat biaya operasional instalasi relatif lebih rendah dibanding metode konvensional yang mengandalkan bahan kimia. Selain lebih ekonomis, sistem tersebut juga dinilai lebih ramah lingkungan dan mudah dioperasikan oleh masyarakat setempat.

Pelaksanaan proyek kemanusiaan ini melibatkan kolaborasi berbagai pihak di bawah koordinasi Pusat Studi Infrastruktur dan Lingkungan Berkelanjutan ITS yang berada dalam naungan Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat. Sinergi juga terbangun dengan jaringan alumni serta sejumlah mitra industri.

Beberapa pihak yang terlibat antara lain Alumni Teknik Sipil ITS, Ikatan Alumni Teknik Lingkungan ITS, serta perusahaan konstruksi nasional seperti PT Adhi Karya, PT PP, PT Wijaya Karya, dan PT Selaras Alam Varia Energi. Kolaborasi tersebut memperkuat dukungan sumber daya teknis maupun logistik dalam pembangunan instalasi.

Kepala Pusat Studi Infrastruktur dan Lingkungan Berkelanjutan ITS Prof IDAA Warmadewanthi bersama jaringan alumni turut berperan dalam mengidentifikasi wilayah yang paling membutuhkan akses air bersih. 

Keterlibatan alumni menjadi salah satu faktor penting dalam mempercepat proses realisasi program kemanusiaan tersebut.

Agar instalasi dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan, tim ITS juga memberikan pelatihan langsung kepada para santri terkait pengoperasian dan pemeliharaan alat. 

Sistem dirancang sederhana sehingga proses perawatan hanya meliputi pembersihan lumpur dan penggantian elektroda secara berkala.

Pendekatan tersebut memungkinkan pengelola pesantren dan masyarakat sekitar mengoperasikan instalasi secara mandiri tanpa memerlukan keahlian teknis khusus. 

Dengan demikian, fasilitas ini tidak hanya menjadi bantuan darurat, tetapi juga sarana peningkatan kualitas kesehatan masyarakat dalam jangka panjang.

Pengembangan teknologi air bersih ini juga diarahkan untuk mendukung upaya kemandirian produksi dalam negeri. Tim peneliti ITS menilai sistem tersebut berpotensi dikembangkan lebih lanjut, terutama dalam peningkatan efisiensi konversi energi listrik agar operasional instalasi semakin optimal.

Program penyediaan air bersih ini sejalan dengan agenda global pembangunan berkelanjutan atau Sustainable Development Goals, khususnya tujuan ke-6 tentang akses air bersih dan sanitasi layak serta tujuan ke-3 mengenai kehidupan sehat dan kesejahteraan masyarakat. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update