Notification

×

Iklan

Iklan

Menaker Yassierli: Anak Muda Harus Punya Market Entry Readiness Hadapi Persaingan Global

Kamis, 12 Maret 2026 | Maret 12, 2026 WIB Last Updated 2026-03-11T17:55:44Z
Kilas Java, Bekasi – Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengajak generasi muda, khususnya Generasi Z dan milenial, memperkuat daya saing dengan membangun tiga kesiapan utama atau triple readiness. Konsep tersebut mencakup penguatan technical skills, soft skills, serta market entry readiness atau kesiapan memahami dinamika pasar kerja.

Pesan itu disampaikan Yassierli saat menutup Pesantren Kilat Ramadan bagi anggota Gerakan Pramuka tingkat Penegak dan Pandega se-Jabodetabek di Balai Besar Pelatihan Vokasi dan Produktivitas Bekasi, Jawa Barat, Minggu, 8 Maret 2026.

Menurut dia, tiga kesiapan tersebut semakin penting karena dunia kerja sedang berada dalam fase ketidakpastian global. Persaingan tenaga kerja antarnegara kian ketat, sementara disrupsi teknologi terus berkembang dengan cepat. Dalam kondisi tersebut, generasi muda dituntut lebih adaptif agar tidak tertinggal saat memasuki pasar kerja.

“Menghadapi tiga tantangan tersebut, tidak cukup hanya dengan technical skills dan soft skills. Anak muda harus memiliki market entry readiness atau kesiapan dalam memahami dinamika pasar kerja global,” ujar Yassierli.

Ia menilai perkembangan teknologi telah mengubah lanskap industri secara mendasar. Otomatisasi dan kecerdasan buatan kini bukan sekadar alat bantu produksi, tetapi telah memengaruhi cara perusahaan beroperasi dan mengambil keputusan.

Teknologi seperti Artificial Intelligence, kata Yassierli, mendorong meningkatnya kebutuhan terhadap tenaga kerja dengan keterampilan tinggi. 

Perusahaan tidak lagi hanya mencari pekerja yang mampu mengoperasikan teknologi, tetapi juga mereka yang mampu merancang, mengelola, serta berkolaborasi dengan sistem berbasis AI.

“Fenomena ini memicu lonjakan kebutuhan tenaga kerja berketerampilan tinggi. Perusahaan kini mencari sumber daya manusia yang mampu bekerja berdampingan dengan teknologi cerdas,” katanya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti proyeksi kebutuhan keterampilan masa depan. Dari sebelas keterampilan inti yang diperkirakan paling dibutuhkan pada 2030, delapan di antaranya justru termasuk kategori human skills, yakni kemampuan yang berkaitan dengan kapasitas kognitif, sosial, serta pengelolaan diri.

Delapan keterampilan tersebut meliputi kepemimpinan dan pengaruh sosial, berpikir analitis, berpikir kreatif, ketahanan serta fleksibilitas, rasa ingin tahu dan pembelajaran sepanjang hayat, motivasi serta kesadaran diri, empati dan kemampuan mendengarkan aktif, hingga manajemen talenta.

Pesantren Kilat Ramadan yang berlangsung pada 7–8 Maret 2026 itu merupakan kolaborasi antara Kementerian Ketenagakerjaan Republik Indonesia, Kwartir Nasional Gerakan Pramuka, dan Majelis Ulama Indonesia. Kegiatan tersebut diikuti sekitar 300 peserta dari berbagai wilayah di Jabodetabek.

Selain pembinaan nilai dan karakter selama Ramadan, peserta juga memperoleh pengenalan terhadap berbagai bidang pelatihan vokasi yang tersedia di BBPVP Bekasi. Materi yang diperkenalkan mencakup pelatihan refrigerasi, pengelasan, elektronika, pariwisata, hingga teknologi informasi.

“Saya yakin konten Sanlat ini berbeda dengan Sanlat yang lain. Ini adalah Sanlat spesial karena adik-adik diarahkan untuk siap menghadapi triple readiness,” kata Yassierli.

Ia berharap model kolaborasi antara pemerintah, organisasi kepemudaan, dan lembaga keagamaan tersebut dapat direplikasi oleh berbagai institusi pendidikan. Menurut dia, pembinaan generasi muda perlu diarahkan pada penguatan keterampilan yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja yang terus berubah.

“Kita ingin anggota Pramuka dan pemuda Indonesia siap bertarung di pasar kerja masa depan, baik di level nasional maupun internasional,” ujarnya. (Nay).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update