Kilas Java, Surabaya - PT Jasa Raharja Kantor Wilayah Utama Jawa Timur memobilisasi kesiapsiagaan penuh untuk mengantisipasi puncak arus perjalanan periode Natal dan Tahun Baru. Menjelang operasi Nataru 2025, strategi pelayanan terpadu dan perlindungan bagi korban kecelakaan lalu lintas telah disiapkan.
Hal ini ditegaskan langsung oleh Kepala PT Jasa Raharja Kantor Wilayah Utama Jawa Timur, Tamrin Silalahi, dalam Media Gathering Bersama insan Pers di Surabaya.
Fondasi dari seluruh strategi ini adalah penguatan kolaborasi yang solid dengan semua pemangku kepentingan terkait, sebuah langkah strategis untuk memastikan kehadiran negara benar-benar terasa di tengah masyarakat.
Kunci dari strategi penanganan kecelakaan selama momen ini terletak pada pola kerja sama lintas sektor. Tamrin menegaskan bahwa sinergi dengan kepolisian, pemerintah daerah, jaringan rumah sakit, dan tokoh masyarakat akan terus diintensifkan.
Sinergi antarinstansi ini dirancang untuk menciptakan sistem respons terpadu yang gesit, khususnya saat arus mudik dan arus balik mencapai puncaknya.
“Selama pelaksanaan pengamanan Nataru, seluruh jajaran Jasa Raharja di Jawa Timur, sebanyak 152 personel, kami pastikan siaga penuh dan siap memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat,” ujarnya. Kesiapan sumber daya manusia ini merupakan modal utama untuk menjamin kecepatan respons di setiap lokasi kejadian.
Pada masa operasi pengamanan Nataru yang berlangsung dari 18 Desember 2025 hingga 4 Januari 2026, pemantauan lalu lintas akan dilakukan secara ketat. Penanganan korban kecelakaan, terutama yang melibatkan angkutan umum, menjadi prioritas dengan jaminan kecepatan.
“Begitu terjadi kecelakaan, petugas kami akan hadir pada kesempatan pertama. Untuk korban luka, kami telah bekerja sama dengan 359 rumah sakit di Jawa Timur, sehingga korban dapat langsung dirujuk ke rumah sakit terdekat tanpa terkendala administrasi,” papar Tamrin. Kerja sama dengan fasilitas kesehatan ini secara signifikan memangkas birokrasi dan memperlancar akses pertolongan medis pertama.
Untuk kasus yang lebih tragis, mekanisme klaim santunan korban jiwa dilakukan dengan pendekatan proaktif. Diterapkanlah sistem jemput bola santunan, di mana petugas secara langsung mendatangi ahli waris di lokasi untuk memproses hak mereka.
Prosedur klaim cepat ini dirancang khusus untuk meringankan beban keluarga di saat yang penuh duka, sekaligus memastikan proteksi asuransi yang dijanjikan tepat sasaran dan tepat waktu.
Lebih dari sekadar penanganan pasca-kecelakaan, upaya pencegahan kecelakaan lalu lintas menjadi fokus yang tidak kalah vital. Bersama Ditlantas Polda Jatim, Jasa Raharja mengoperasikan enam Pos Pelayanan Terpadu di berbagai simpul transportasi seperti terminal dan pelabuhan.
Posko Nataru ini berfungsi ganda, tidak hanya sebagai pos pengawasan tetapi juga sebagai sarana edukasi keselamatan berkendara dan pemeriksaan kesehatan gratis bagi pengemudi.
Upaya pencegahan dini ini dijalankan secara masif dan berjenjang. “Upaya pencegahan kecelakaan kami lakukan secara rutin, tidak hanya di daerah rawan kecelakaan, tetapi juga hingga ke tingkat kecamatan dan kelurahan. Kami bekerja sama dengan camat dan lurah untuk memberikan edukasi langsung kepada masyarakat,” jelas Tamrin.
Edukasi keselamatan berlalu lintas yang menyentuh level paling dasar ini bertujuan membangun budaya sadar keselamatan yang berkelanjutan di kalangan masyarakat luas.
Dampak positif dari pencegahan kecelakaan yang digalakkan melalui berbagai kolaborasi mulai menunjukkan hasil yang nyata. Hingga November 2025, data statistik kecelakaan di jalan raya Jawa Timur mencatat penurunan jumlah kasus sebesar 2,75 persen.
Lebih menggembirakan lagi, angka fatalitas atau korban meninggal dunia turun signifikan sekitar 7 persen. Penurunan ini setara dengan penyelamatan 386 nyawa dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
“Kami bersyukur, ini menunjukkan bahwa kerja bersama dalam pencegahan kecelakaan mulai memberikan dampak nyata,” ungkap Tamrin.
Menariknya, meski angka kejadian kecelakaan menurun, nilai santunan yang dibayarkan justru menunjukkan tren kenaikan. Hingga Januari 2025, penyaluran santunan telah mencapai Rp622 miliar, naik 1,25 persen.
Selanjutnya, hingga November 2025, realisasi pembayaran klaim telah menyentuh angka sekitar Rp614 miliar. “Kenaikan nilai santunan ini mencerminkan komitmen kami untuk terus memberikan pelayanan terbaik dan memastikan hak masyarakat terpenuhi,” tegas Tamrin. Kondisi ini mengindikasikan adanya optimalisasi layanan klaim dan peningkatan kepastian hak masyarakat atas jaminan perlindungan.
Menutup seluruh penyampaiannya, Tamrin Silalahi kembali menegaskan komitmen untuk memperkuat sinergi multisektoral guna menciptakan ekosistem perjalanan yang aman.
“Kami berharap selama periode Nataru ini masyarakat dapat bepergian dengan aman. Namun jika risiko terjadi, Jasa Raharja siap hadir memberikan perlindungan dan pelayanan terbaik,” pungkasnya.
Kesiapan logistik dan personel yang matang ini menjadi bentuk tanggung jawab sosial perusahaan, sekaligus jaminan bagi masyarakat bahwa perlindungan asuransi kecelakaan selalu siap mengawal setiap tahap perjalanan mudik mereka kembali ke rumah.



