Tim Ekspedisi Patriot UNAIR Dampingi Peternak Papua Barat, Dorong Inseminasi Buatan dan Pakan Lokal
0 menit baca
KILAS JAVA, PAPUA - Keberhasilan budidaya ternak tidak semata ditentukan oleh proses pembiakan. Kecukupan nutrisi pakan dan kesehatan reproduksi induk menjadi faktor penting yang menentukan produktivitas peternakan.
Persoalan tersebut menjadi perhatian Tim Ekspedisi Patriot Universitas Airlangga (UNAIR) saat melakukan pendampingan peternakan di wilayah transmigrasi yang mencakup Distrik Prafi, Masni, dan Sidey, Papua Barat.
Tim ahli dari Fakultas Kedokteran Hewan (FKH) UNAIR yang dipimpin Prof Dr Herry Agoes Hermadi Drh MSi dan Prof Dr Erma Savitri memberikan edukasi mengenai formulasi pakan berbasis limbah lokal serta penanganan gangguan reproduksi pada sapi Bali.
Pendampingan itu diarahkan untuk membangun kemandirian peternak melalui pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar wilayah peternakan. Teknologi reproduksi dan pengelolaan pakan menjadi dua aspek yang mendapat perhatian dalam kegiatan tersebut.
Salah satu persoalan yang dihadapi peternak di kawasan terpencil adalah pelaksanaan inseminasi buatan (IB). Menurut Prof Herry, biaya yang tinggi dan keterbatasan pasokan nitrogen cair menjadi kendala karena bahan tersebut diperlukan untuk mengawetkan sperma beku atau frozen semen.
Tim kemudian membawa inovasi berupa vagina buatan yang dirakit dari bahan-bahan sederhana yang mudah diperoleh, antara lain selang radiator, lapisan karet, dan air hangat.
“Agar sperma dikeluarkan dua kali ejakulasi memperoleh hasil 10 CC yang cukup untuk IB 40 ekor induk betina yang dilakukan sinkronisasi birahi, agar dapat secara massal dikawinkan dan kelahiran berbarengan setelah sembilan bulan ke depan,” kata Prof Herry.
Dengan metode tersebut, sperma segar dari sapi jantan dapat langsung ditampung dan diaplikasikan tanpa melalui proses pembekuan. Sperma segar itu disebut dapat bertahan selama 48 jam pada suhu refrigerator dan dapat langsung dimasukkan ke dalam straw untuk kemudian disuntikkan kepada betina yang sedang mengalami birahi.
Prof Herry dan tim juga memberikan pelatihan teknis kepada peternak lokal. Pelatihan tersebut ditujukan agar peternak dapat melakukan inseminasi secara mandiri sehingga tidak terus bergantung pada tenaga medis dari luar daerah.
Menurut Prof Herry, keberhasilan inseminasi buatan juga sangat berkaitan dengan kondisi tubuh dan kecukupan nutrisi sapi. Ia menyebut kondisi body condition score (BCS) sapi Bali perlu berada pada kisaran tiga hingga empat agar proses reproduksi dapat berlangsung optimal.
“Pendampingan inseminasi buatan ini akan berhasil jika sperma yang disuntikkan ke dalam alat kelamin sapi Bali ini BCS-nya tiga sampai empat. Padahal jika kondisi fisik dan nutrisinya dijaga dengan ideal, sapi Bali ini termasuk ras yang sangat mudah untuk berkembang biak, ibaratnya disenggol sedikit saja bisa bunting,” ujarnya.
Selain reproduksi, persoalan pakan menjadi bagian penting dalam pendampingan peternakan di wilayah transmigrasi Papua Barat. Secara geografis, kawasan tersebut memiliki potensi limbah pertanian dan perkebunan yang melimpah.
Jerami padi, misalnya, disebut dapat menghasilkan sekitar delapan ton limbah per hektare. Selain itu, terdapat limbah jagung dan kelapa sawit yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal sebagai sumber pakan ternak.
Prof Herry menjelaskan, jerami memiliki kandungan protein sekitar tiga hingga empat persen. Karena itu, jerami perlu dicampur dengan bahan lain yang memiliki kandungan protein lebih tinggi, termasuk limbah kelapa sawit yang disebut dapat mencapai 16 persen.
Menurut dia, limbah kelapa sawit merupakan potensi besar yang tersedia di wilayah Manokwari. Kandungan protein dan lemaknya dinilai dapat dimanfaatkan sebagai bahan pakan, terutama untuk ruminansia penggemukan sapi yang jumlahnya mencapai ribuan.
“Penggunaan pakan fermentasi berbasis limbah sawit dalam porsi yang tepat dapat menghemat biaya operasional peternakan secara profesional,” ujar Prof Herry.
Ia berharap pendampingan tersebut tidak berhenti sebagai solusi teknis dalam jangka pendek. Pemanfaatan limbah lokal sebagai pakan dan penerapan teknologi reproduksi diharapkan dapat menjadi fondasi bagi kemandirian peternak transmigran dan masyarakat Papua di Manokwari.
“Kami sangat berharap bahwa integrasi antara perbaikan nutrisi pakan melalui limbah lokal dan penerapan teknologi reproduksi tepat guna ini dapat meminimalisir gangguan reproduksi sapi, menekan angka kematian pedet, serta melonjakkan populasi sapi Bali secara signifikan, tidak perlu impor dari Australia,” kata Prof Herry.
Ia menambahkan, pengembangan peternakan yang bertumpu pada potensi lokal sejalan dengan cita-cita ketahanan pangan dan semangat “gemah ripah loh jinawi”. (Nayla).