SOTG, Inovasi Mahasiswa ITS, Akses Pembalut yang Lebih Privat di Ruang Publik
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA - Akses terhadap produk sanitasi perempuan di ruang publik belum selalu berjalan seiring dengan kebutuhan penggunanya. Persoalannya bukan hanya soal ketersediaan, tetapi juga bagaimana produk tersebut dapat diperoleh secara cepat, praktis, dan tetap menjaga privasi.
Berangkat dari persoalan itu, sekelompok mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan Sanitary On The Go (SOTG), mesin penjual pembalut otomatis yang mengandalkan teknologi Internet of Things (IoT). Inovasi tersebut dirancang untuk menghadirkan mekanisme pembelian produk sanitasi yang lebih sederhana sekaligus memungkinkan pengelolaan mesin dilakukan secara digital.
Salah satu anggota tim pengembang SOTG, Muhammad Fikri Kusumadinata, mengatakan gagasan tersebut muncul dari pengamatan terhadap akses produk sanitasi di sejumlah ruang publik yang dinilai masih memiliki keterbatasan. Menurut dia, kebutuhan terhadap produk sanitasi dapat muncul sewaktu-waktu sehingga keberadaan akses yang cepat dan mudah menjadi penting.
“Melalui SOTG, kami menghadirkan sistem yang mempermudah pembelian produk sanitasi tanpa mengabaikan privasi,” ujar Fikri.
Mahasiswa Departemen Teknik Elektro Otomasi (DTEO), Fakultas Vokasi ITS, itu menjelaskan SOTG bekerja seperti mesin penjual otomatis dengan sistem yang telah terintegrasi secara digital. Pengguna dapat memilih produk melalui layar sentuh, kemudian menyelesaikan transaksi menggunakan metode pembayaran non-tunai.
Mekanisme tersebut dirancang untuk memangkas tahapan pembelian. Pengguna tidak perlu melalui proses transaksi konvensional yang berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan, terutama ketika produk yang dibutuhkan merupakan bagian dari kebutuhan sanitasi pribadi.
“Prosesnya dibuat sederhana agar pengguna dapat memperoleh produk dengan cepat,” kata Fikri.
Di balik mekanisme pembelian yang tampak sederhana, SOTG memiliki arsitektur sistem yang menghubungkan beberapa lapisan teknologi. Antarmuka pengguna, server lokal, layanan cloud, dan perangkat keras pada mesin bekerja dalam satu ekosistem yang saling terhubung.
Integrasi tersebut memungkinkan informasi mengenai transaksi dan persediaan produk dikelola secara digital. Kondisi mesin pun dapat dipantau dari jarak jauh sehingga pengelola tidak harus melakukan pemeriksaan secara manual setiap saat.
Menurut Fikri, kemampuan pemantauan tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan SOTG. Data yang diperoleh dari mesin dapat digunakan untuk mengetahui kondisi operasional sekaligus membantu pengelola dalam mengantisipasi kebutuhan pengisian ulang produk.
Pengujian yang dilakukan tim menunjukkan sistem mampu menjalankan proses pendistribusian produk dengan performa yang relatif stabil. Mekanisme pengeluaran pembalut berlangsung dalam hitungan detik dengan tingkat konsistensi yang baik. Komunikasi data antarsubsistem juga menunjukkan latensi yang rendah.
Hasil tersebut menjadi pijakan awal bagi tim untuk mengembangkan SOTG lebih lanjut. Bagi Fikri dan lima anggota tim lainnya, mesin tersebut tidak semata-mata diposisikan sebagai perangkat penjual otomatis, melainkan sebagai bagian dari sistem layanan sanitasi yang memanfaatkan konektivitas digital.
Potensi penggunaannya pun tidak terbatas pada satu jenis lokasi. SOTG dinilai dapat ditempatkan di lingkungan pendidikan, fasilitas umum, maupun kawasan perkantoran. Tempat-tempat dengan tingkat mobilitas tinggi menjadi salah satu sasaran penerapan karena kebutuhan terhadap produk sanitasi dapat muncul ketika pengguna sedang berada di luar rumah.
“Terutama pada lokasi yang memiliki mobilitas tinggi,” ujar Fikri.
Pengembangan SOTG juga diarahkan agar teknologi yang digunakan dapat semakin adaptif terhadap kebutuhan pengguna dan pengelola. Tim berharap pengembangan berikutnya dapat memperluas kemampuan sistem sekaligus meningkatkan kesiapan mesin untuk diterapkan pada lingkungan yang lebih beragam.
Inovasi tersebut turut dikaitkan dengan agenda pembangunan berkelanjutan, terutama Sustainable Development Goals (SDGs) poin ketiga tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera serta poin kesembilan mengenai Industri, Inovasi, dan Infrastruktur.
Bagi tim pengembang, tantangan berikutnya bukan sekadar membuat mesin dapat menjual pembalut secara otomatis.
Mereka juga perlu memastikan teknologi tersebut mampu bekerja secara andal ketika ditempatkan di ruang publik, mudah dikelola dari jarak jauh, serta tetap memberikan pengalaman penggunaan yang praktis dan menjaga privasi. (Nayla).