Pemulihan Bencana NTT, ITS Turunkan Tim Ahli dan Salurkan Bantuan Rp400 Juta
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA - Upaya pemulihan wilayah terdampak bencana di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus mendapat dukungan dari berbagai pihak. Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) menjadi salah satu perguruan tinggi yang mengambil peran melalui pengiriman bantuan kebutuhan pokok serta pengerahan Satgas Kemanusiaan untuk membantu masyarakat di sejumlah daerah terdampak.
Pengiriman bantuan tahap kedua dilakukan pada Senin (31/8), setelah sebelumnya mulai disalurkan sejak Kamis (27/8). Tidak hanya membawa kebutuhan logistik, ITS juga menghadirkan dukungan layanan psikososial serta pendampingan pemulihan infrastruktur dengan pendekatan teknologi yang berkelanjutan.
Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen ITS dalam merespons kondisi darurat yang masih dihadapi masyarakat terdampak bencana. Program kemanusiaan ini diperkuat melalui kerja sama antara Direktorat Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat (DRPM) ITS, Yayasan Manarul Ilmi (YMI) ITS, serta Ikatan Alumni (IKA) ITS.
Rektor ITS Prof Dr (HC) Ir Bambang Pramujati ST MScEng PhD menyampaikan bahwa kapasitas keilmuan perguruan tinggi dapat berkontribusi dalam mempercepat proses pemulihan wilayah terdampak.
Menurut Bambang, tim pakar dari satuan tugas telah diterjunkan untuk membantu penanganan infrastruktur yang mengalami dampak bencana. Fokus pendampingan mencakup fasilitas penting seperti dermaga, jalan, hingga jembatan yang menjadi jalur penghubung antarwilayah.
“Karena perguruan tinggi menghadirkan solusi tepat dan nyata bagi masyarakat dan wilayah terdampak agar cepat bangkit,” ujar Bambang.
Direktur Riset dan Pengabdian kepada Masyarakat ITS Fadlilatul Taufany ST PhD mengatakan, pada tahap kedua penanganan ini ITS memusatkan perhatian pada lima wilayah dengan tingkat dampak paling besar. Beberapa daerah yang menjadi sasaran bantuan di antaranya Kabupaten Sikka, Ende, serta Nagekeo.
Dukungan IKA ITS memungkinkan penyaluran anggaran sebesar Rp400 juta yang diwujudkan dalam bentuk kebutuhan logistik, seperti tenda darurat dan selimut. Selain itu, ITS juga menyiapkan paket tas senilai Rp120.000 yang berisi obat-obatan, vitamin, kebutuhan pokok, serta perlengkapan kebersihan atau hygiene kit.
Di sisi lain, Satgas Kemanusiaan ITS juga mengoperasikan dapur umum terbatas di Kabupaten Manggarai Barat dan Manggarai Timur. Dapur tersebut menyediakan sekitar 250 porsi makanan setiap hari bagi masyarakat yang terdampak.
Selain pemenuhan kebutuhan dasar, perhatian terhadap kondisi psikologis masyarakat juga menjadi bagian dari penanganan. Satgas ITS kembali menggelar kegiatan trauma healing untuk membantu proses pemulihan mental para korban bencana.
Koordinator Tim Infrastruktur Satgas Kemanusiaan ITS Dr Ir Mudji Irmawan mengatakan, tim telah melakukan asesmen terhadap kondisi infrastruktur di lapangan. Hasil kajian tersebut menjadi acuan untuk menentukan bentuk intervensi dan kebutuhan penanganan pada tahap selanjutnya.
“ITS berupaya menghadirkan solusi jangka panjang untuk memperkuat resiliensi wilayah NTT dalam menghadapi bencana serupa di masa mendatang,” jelas Mudji yang juga merupakan dosen Departemen Teknik Sipil ITS.
Sementara itu, Ketua Pusat Studi Mitigasi Kebencanaan dan Perubahan Iklim (MKPI) ITS Hepi Hapsari Handayani ST MSc PhD menuturkan, dukungan teknologi menjadi salah satu aspek yang dikembangkan dalam membantu penanganan korban bencana NTT.
Bersama timnya, Hepi merancang sejumlah inovasi, mulai dari pengembangan rumah tahan gempa, sensor deteksi dini, hingga prototipe drone untuk pemetaan kerusakan bangunan.
Ia menjelaskan, teknologi dan modul bangunan tersebut dirancang agar dapat diterapkan secara mudah oleh tenaga lokal dengan biaya yang efisien. Pengembangan itu juga memanfaatkan sensor berbiaya rendah serta prototipe deteksi kerusakan yang telah dilaporkan sebelumnya.
“Hal ini didukung dengan penggunaan sensor berbiaya rendah (low cost) serta prototipe deteksi kerusakan yang pernah sudah dilaporkan,” ujar Hepi.
Program Satgas Kemanusiaan ITS ini turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ketiga tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera melalui layanan kesehatan serta pemulihan psikososial.
Selain itu, penguatan infrastruktur tangguh bencana menjadi bagian dari dukungan terhadap SDGs tujuan ke-11 mengenai Kota dan Permukiman Berkelanjutan. Kolaborasi antara perguruan tinggi, alumni, dan berbagai pihak juga mencerminkan tujuan ke-17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dalam mempercepat penanganan bencana di NTT. (Nayla).