BREAKING NEWS

Mahasiswa FK UNAIR Ikuti Professional Exchange di Slovakia, Pelajari Bedah Saraf Berteknologi AI

KILAS JAVA, SURABAYA – Kesempatan belajar langsung di rumah sakit Eropa menjadi pengalaman berharga bagi Hanifa Lathfi Amali, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga (FK UNAIR) angkatan 2023. 

Selama satu bulan, ia mengikuti program professional exchange di Kramáre Hospital, Bratislava, Slovakia, melalui Student Exchange Program (SCOPE) IFMSA dengan fokus pada observasi bedah saraf modern.

Program tersebut mempertemukan mahasiswa kedokteran dari berbagai negara untuk memperoleh pengalaman klinis sekaligus memperluas wawasan internasional. Lathfi menjadi salah satu dari enam delegasi Indonesia yang berhasil lolos melalui serangkaian seleksi, mulai dari tes bahasa Inggris hingga wawancara.

Keikutsertaannya juga mendapat dukungan dari kampus dan organisasi mahasiswa yang mendorong pelaksanaan program outbound internasional. Seluruh peserta diwajibkan melakukan persiapan, termasuk memiliki asuransi kesehatan serta menyimpan kontak darurat internasional sebagai bagian dari prosedur keselamatan.

Selama menjalani program di Kramáre Hospital, Lathfi mengikuti aktivitas klinis sejak pagi bersama dokter spesialis bedah saraf. Kegiatan diawali dengan morning round untuk mengevaluasi kondisi pasien, membahas hasil operasi sebelumnya, sekaligus menyusun rencana tindakan medis pada hari itu.

"Di morning round, kami berdiskusi mengenai hasil operasi sebelumnya dan merencanakan tindakan yang akan dilakukan hari itu, termasuk teknik pembedahan yang akan digunakan," ujar Lathfi.

Pengalaman tersebut memberinya kesempatan melihat secara langsung anatomi tubuh manusia yang sebelumnya hanya dipelajari melalui buku ajar. Ia juga mengamati penggunaan berbagai teknologi medis mutakhir yang mendukung tindakan bedah saraf.

Di antaranya ialah mikroskop bedah dengan fitur fluoresensi dan teknologi pemetaan tumor menggunakan ultrasonografi berbasis Artificial Intelligence (AI). Perangkat tersebut membantu dokter meningkatkan akurasi selama prosedur operasi.

Menurut Lathfi, salah satu pengalaman paling berkesan adalah menyaksikan tindakan transsphenoidal pituitary adenoma resection, yakni operasi pengangkatan tumor otak melalui tulang sphenoid di dalam rongga hidung tanpa membuka tempurung kepala pasien.

"Ada satu momen yang sangat berkesan, yaitu tindakan transsphenoidal pituitary adenoma resection. Dokter mengambil tumor di otak itu lewat tulang sphenoid di dalam hidung, jadi tidak perlu membuka kepala pasien. Selain itu, ada juga teknik menjahit selaput otak menggunakan lapisan tulang tengkorak. Itu sangat keren," tuturnya.

Meski didukung fasilitas medis yang modern, kendala komunikasi tetap menjadi tantangan selama menjalani observasi klinis. Tidak semua tenaga kesehatan di rumah sakit tersebut menggunakan bahasa Inggris dalam aktivitas sehari-hari.

Lathfi menceritakan, dirinya bersama peserta lain sempat mengalami kesalahpahaman ketika meminta pakaian scrub berlengan panjang karena mengenakan hijab. 

Permintaan itu justru dipahami sebagai permintaan kapas steril oleh seorang perawat senior.

"Pernah suatu kali kami meminta baju scrub sekali pakai yang berlengan panjang karena berhijab. Perawatnya mengangguk, tapi yang dibawa ternyata malah kapas-kapas steril. Akhirnya kami tertawa dan tetap memakai baju scrub seadanya," kenangnya.

Selain memperoleh pengalaman klinis, program professional exchange juga menjadi ruang pertukaran budaya. 

Sebanyak 25 mahasiswa kedokteran dari berbagai negara seperti Spanyol, Brasil, Meksiko, Tunisia, Kanada, dan Mesir mengikuti kegiatan yang berlangsung di Bratislava.

Panitia lokal menyelenggarakan berbagai agenda nonakademik, mulai dari welcome party, tur kota Bratislava dan Trnava, berenang di Danau Danube, hingga kegiatan memasak dan mencicipi makanan khas dari masing-masing negara.

"Komite lokal di sana mengadakan banyak sekali acara. Mulai dari welcome party, jalan-jalan keliling kota Bratislava dan Trnava, berenang bersama di Danau Danube, sampai memasak dan saling mencicipi masakan khas negara masing-masing di acara National Food and Beverage Party," kata Lathfi.

Pengalaman internasional tersebut turut mendukung penguatan kompetensi mahasiswa dalam aspek akademik, kolaborasi global, serta komunikasi lintas budaya yang sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya poin 3 tentang kesehatan, poin 4 mengenai pendidikan berkualitas, dan poin 17 terkait kemitraan global.

Menutup pengalamannya, Lathfi mendorong mahasiswa lain untuk memanfaatkan kesempatan mengikuti program internasional sejak masa preklinik. 

Menurutnya, pengalaman belajar di luar negeri menjadi bekal penting untuk memperluas perspektif, meningkatkan kemampuan bahasa Inggris, sekaligus membangun jejaring profesional yang akan bermanfaat dalam perjalanan karier sebagai dokter. (Nayla).
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar