Green Productive Market, Inovasi Mahasiswa UNAIR Hadapi Panas Perkotaan di Pasar Surabaya
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA - Panas yang menyengat di pasar tradisional bukan sekadar soal kenyamanan. Bagi pedagang sektor informal, suhu tinggi dapat berimbas pada kualitas dagangan, minat pengunjung, hingga perputaran ekonomi. Persoalan itu mendorong mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga (UNAIR) menggagas Green Productive Market (GPM), sebuah konsep yang memadukan kebijakan lingkungan dengan kebutuhan aktivitas ekonomi di pasar tradisional.
Gagasan tersebut mengantarkan tim UNAIR meraih empat penghargaan dalam Temu Administrator Muda Indonesia (Temu AdMI) 2026 di Universitas Warmadewa, Sabtu, 8 Agustus 2026. Tim itu menyabet Juara 1 Policy Brief, Juara 1 Makalah Penelitian, Juara 1 Presentasi Makalah Penelitian, serta Best Delegate.
Tim terdiri atas Vaneza Ika Artamevia sebagai ketua, bersama Mada Ariane Pudjanadi dan Amanda Naila Majida. Mereka mengusung penelitian berjudul Green Productive Market: Penguatan Kebijakan Ruang Terbuka Hijau untuk Ketahanan Panas Pasar Tradisional di Tengah Fenomena Urban Heat Island Kota Surabaya.
Penelitian tersebut berangkat dari persoalan panas perkotaan yang dirasakan langsung dalam aktivitas perdagangan. Tim meneliti empat pasar tradisional di Surabaya, yakni Keputran Utara, Kayoon, Gembong Tebasan, dan Kapasan.
Dari wawancara yang dilakukan, panas disebut turut mengganggu aktivitas ekonomi di pasar. Dampaknya antara lain menurunkan minat kunjungan, mempercepat sayuran layu, serta membuat warna pakaian lebih cepat memudar. “Panas juga membuat sayuran lebih cepat layu dan warna pakaian lebih cepat memudar,” ujar Vaneza.
Melalui GPM, tim menawarkan konsep Photovoltaic-Green Roof (PV-Green Roof), yakni perpaduan antara atap hijau dan panel surya. Konsep ini dirancang untuk membantu menekan suhu kawasan pasar sekaligus menghasilkan energi terbarukan tanpa memerlukan pembukaan lahan baru.
Menurut tim, penerapan PV-Green Roof juga dapat meningkatkan kualitas udara dan mengurangi limpasan air hujan yang berpotensi menyebabkan banjir. Untuk menyesuaikan dengan karakter bangunan pasar, mereka mengusulkan penggunaan atap hijau ekstensif yang memiliki struktur dan media tanam lebih ringan.
Konsep tersebut ditujukan untuk mengurangi dampak Urban Heat Island sekaligus mendukung pengelolaan bangunan yang lebih ramah lingkungan. Kebutuhan pemeliharaannya pun relatif sederhana.
Namun, GPM tidak berhenti pada intervensi fisik bangunan. Tim juga mendorong Pemerintah Kota Surabaya menetapkan pasar tradisional sebagai kawasan prioritas dalam kebijakan adaptasi panas. Bagi mereka, dampak panas perkotaan tidak dirasakan secara merata dan cenderung lebih kuat di kawasan dengan tingkat kerentanan tinggi.
“Penetapan pasar sebagai kawasan prioritas dapat membantu pemerintah mengarahkan program penghijauan dan mitigasi panas secara lebih tepat sasaran,” ujarnya.
GPM sekaligus menawarkan model tata kelola kolaboratif yang mempertemukan pemerintah, pengelola pasar, pedagang, akademisi, dan sektor swasta. Kolaborasi itu diarahkan untuk memperkuat perlindungan bagi pedagang sektor informal, menjaga kualitas produk, meningkatkan kenyamanan pengunjung, serta mendukung keberlanjutan lingkungan dan ekonomi lokal.
Bagi tim, GPM merupakan upaya menjembatani kebijakan lingkungan dengan kebutuhan masyarakat yang menghadapi dampak perubahan iklim secara langsung. Mereka berharap kebijakan ruang terbuka hijau tidak berhenti pada pembahasan inklusivitas secara umum, tetapi juga memberi perhatian khusus kepada kawasan prioritas yang membutuhkan perlindungan.
“Kami berharap kebijakan ruang terbuka hijau tidak hanya membahas inklusivitas secara umum, tetapi juga secara khusus menyasar kawasan prioritas yang benar-benar membutuhkan perlindungan,” pungkasnya. (Nayla).