Bank Jago Ungkap Pentingnya Review Investasi Meski Sudah Menggunakan Auto-Debit
0 menit baca
KILAS JAVA, JAKARTA - Kemudahan teknologi membuat aktivitas investasi semakin praktis. Salah satunya melalui fitur auto-debit yang memungkinkan investor menyisihkan dana secara otomatis sesuai jadwal tanpa perlu melakukan transaksi secara manual setiap bulan.
Namun, kemudahan tersebut tidak berarti investasi dapat sepenuhnya ditinggalkan. Portofolio tetap perlu dipantau dan dievaluasi secara berkala agar strategi investasi yang dijalankan tetap sesuai dengan tujuan finansial dan profil risiko investor.
Prinsip ini dikenal dengan istilah set and don’t forget, yaitu investasi dibuat berjalan secara otomatis, tetapi tetap membutuhkan perhatian melalui evaluasi berkala.
“Investasi bukan sekadar konsistensi menyisihkan uang, tetapi juga memastikan dana yang ditempatkan tetap relevan dengan tujuan finansial,” ujar Nyoman Sukmawati, Head of Wealth Management Bank Jago.
Menurut dia, terdapat sejumlah alasan yang membuat portofolio investasi perlu ditinjau ulang. Perubahan tujuan keuangan, dinamika kondisi pasar, hingga pergeseran profil risiko investor menjadi faktor yang dapat memengaruhi strategi investasi.
Investor ritel tidak perlu melakukan pemantauan setiap hari. Namun, terdapat beberapa hal penting yang perlu diperhatikan secara berkala, salah satunya adalah komposisi aset.
Nilai aset yang mengalami perubahan dapat menyebabkan komposisi portofolio ikut bergeser dari strategi awal. Dalam kondisi tertentu, investor dapat melakukan rebalancing agar alokasi aset kembali sesuai dengan strategi investasi dan profil risiko yang dimiliki.
Perubahan kondisi pribadi juga dapat memengaruhi keputusan investasi. Seorang investor yang sebelumnya berstatus single, misalnya, mungkin memiliki alokasi investasi yang lebih agresif. Setelah menikah, memiliki tanggungan, atau mengalami perubahan kondisi keuangan, kebutuhan dan toleransi risikonya dapat berubah sehingga penyesuaian portofolio diperlukan.
Selain komposisi aset, investor juga perlu memperhatikan kinerja investasi. Penilaian terhadap portofolio tidak cukup hanya berdasarkan apakah nilai investasi sedang berada dalam kondisi merah atau hijau. Investor perlu mempertimbangkan periode investasi, kondisi pasar, serta benchmark sebagai pembanding.
Sebagai contoh, apabila sebuah reksa dana saham mengalami penurunan 8 persen dalam satu bulan, sementara benchmark pada periode yang sama turun 10 persen, maka kinerja investasi tersebut secara relatif masih lebih baik dibandingkan benchmark meskipun nilai investasinya mengalami penurunan.
Hal lain yang perlu menjadi perhatian adalah tujuan penggunaan dana. Semakin dekat dana tersebut akan digunakan, semakin penting bagi investor untuk mempertimbangkan kembali tingkat risiko yang diambil.
Sebagai contoh, investor yang menargetkan dana Rp100 juta untuk uang muka rumah dalam tiga tahun perlu menyesuaikan strategi investasinya ketika tenggat penggunaan dana semakin dekat. Strategi yang sesuai pada awal periode belum tentu tetap relevan karena volatilitas pasar dapat memengaruhi kesiapan dana.
Tantangan lain dalam melakukan evaluasi investasi muncul ketika aset investor tersebar di berbagai platform. Kondisi tersebut membuat investor harus membuka sejumlah aplikasi berbeda untuk melihat reksa dana, saham, maupun aset investasi lainnya.
Melalui Aplikasi Jago, investor dapat melihat nilai total aset yang tersebar di seluruh platform brokerage yang terdaftar di Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) dalam satu tampilan melalui fitur portofolio investasi yang terhubung dengan KSEI. Investor juga dapat melihat rincian aset yang dimiliki pada masing-masing platform brokerage.
“Dengan melihat portofolio secara lebih menyeluruh, investor dapat lebih mudah memahami bagaimana asetnya tersebar dan kemudian mengevaluasi apakah komposisinya masih sesuai dengan tujuan finansial. Harapannya, investor tidak hanya konsisten berinvestasi, tetapi juga semakin sadar bagaimana mereka menempatkan uang sesuai dengan tujuannya,” jelas Nyoman Sukmawati.
Pendekatan set and don’t forget memberikan ruang bagi investor untuk memanfaatkan otomatisasi dalam membangun kebiasaan investasi, sekaligus tetap melakukan evaluasi secara berkala agar strategi yang diterapkan tetap selaras dengan kebutuhan finansial yang berubah. (Nayla).