AI Mengubah Dunia Kerja, Unusa Rancang Kurikulum Baru Cetak Lulusan Masa Depan
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA – Kemajuan Artificial Intelligence (AI) diperkirakan akan mengubah wajah dunia kerja dalam beberapa tahun ke depan. Menyadari perubahan tersebut, Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mulai merancang ulang kurikulumnya agar lulusan tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu bersaing pada era ketika banyak pekerjaan rutin diambil alih teknologi.
Langkah tersebut dibahas dalam Sarasehan Redesain Kurikulum bertema "Kurikulum Berdampak Berbasis Outcome Based Education (OBE) untuk Lulusan Unggul dan Berdaya Saing" yang digelar Selasa (4/8/2026).
Kegiatan ini menghadirkan Ketua Yayasan Rumah Sakit Islam Surabaya (YARSIS) Prof. Mohammad Nuh, Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono, serta Staf Ahli Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Prof. Hermawan Kresno Dipojono.
Prof. Hermawan menilai, perguruan tinggi tidak lagi cukup hanya memperbarui materi perkuliahan. Kampus harus mengubah cara mendidik agar mahasiswa memiliki kompetensi yang tetap dibutuhkan ketika otomatisasi dan AI semakin mendominasi berbagai sektor.
Menurutnya, lulusan masa depan harus menjadi robot-proof, yakni memiliki kemampuan yang tidak mudah digantikan mesin. Kemampuan berpikir kritis, kreativitas, kolaborasi, kepemimpinan, empati, hingga penyelesaian masalah menjadi kompetensi utama yang perlu dibangun selama proses pendidikan.
"Robot dan AI akan mengambil alih pekerjaan yang bersifat rutin. Karena itu, perguruan tinggi harus mempersiapkan lulusan yang memiliki kemampuan berpikir kritis, berkolaborasi, berinovasi, berempati, serta mampu menyelesaikan persoalan nyata. Kompetensi seperti inilah yang sulit digantikan oleh teknologi," kata Prof. Hermawan.
Dalam paparannya, ia juga memperkenalkan konsep Digital Khalifah 2050. Konsep tersebut menekankan pentingnya membangun generasi yang menguasai teknologi digital tanpa kehilangan nilai moral, spiritual, dan kepemimpinan.
Menurut Prof. Hermawan, Indonesia membutuhkan sumber daya manusia yang mampu mengendalikan teknologi, bukan sekadar mengikuti perkembangannya. Penguatan kualitas manusia, inovasi digital, dan kemandirian ekonomi dinilai menjadi fondasi penting menuju Indonesia Emas 2045.
Ketua YARSIS Prof. Mohammad Nuh mengingatkan bahwa transformasi kurikulum tidak boleh berhenti pada pemenuhan kebutuhan industri. Perguruan tinggi juga harus memastikan proses pendidikan menghasilkan manusia yang memberi manfaat bagi masyarakat.
Karena itu, pengembangan Unusa sebagai Islamic Sustainable Digital University diarahkan untuk membangun budaya belajar sepanjang hayat. Mahasiswa didorong menjadi true learner yang mampu terus berkembang mengikuti perubahan ilmu pengetahuan dan teknologi.
Di sisi lain, Rektor Unusa Prof. Tri Yogi Yuwono menjelaskan bahwa filosofi tersebut diwujudkan melalui redesain kurikulum berbasis Outcome Based Education (OBE).
Pendekatan ini menempatkan capaian pembelajaran lulusan sebagai dasar penyusunan kurikulum sehingga selaras dengan kebutuhan masyarakat, dunia usaha, perkembangan teknologi, dan misi pengabdian perguruan tinggi.
Menurutnya, mahasiswa juga perlu memperoleh pengalaman belajar yang lebih adaptif melalui kolaborasi lintas disiplin, penyelesaian persoalan nyata, serta penguatan literasi digital dan kepemimpinan.
Dengan cara itu, lulusan tidak hanya menguasai teori, tetapi juga mampu beradaptasi terhadap perubahan yang berlangsung sangat cepat.
Melalui transformasi kurikulum berbasis OBE, Unusa menegaskan kesiapannya menjawab tantangan era AI sekaligus memperkuat kualitas pendidikan tinggi.
Redesain kurikulum ini menjadi bagian dari strategi kampus untuk mencetak lulusan yang berdaya saing, relevan dengan kebutuhan zaman, dan mampu berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. (Nayla).