Mahasiswa ITS Rancang Interior Panti Asuhan, Tingkatkan Kreativitas Balita Lewat Open-Ended Play
0 menit baca
KILAS JAVA, SURABAYA - Ketimpangan jumlah pengasuh dengan anak di sejumlah panti asuhan masih menjadi tantangan dalam pemenuhan kebutuhan tumbuh kembang balita. Keterbatasan pendampingan membuat proses stimulasi kognitif dan kreativitas anak tidak selalu berjalan optimal.
Berangkat dari persoalan tersebut, mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan rancangan interior panti asuhan berbasis konsep open-ended play environment yang memungkinkan anak belajar secara mandiri melalui aktivitas bermain.
Inovasi tersebut digagas Hartaji Ramzani, mahasiswa Departemen Desain Interior ITS. Rancangannya berangkat dari hasil pengamatan di Panti Sosial Asuhan Anak (PSAA) Balita Tunas Bangsa, Jakarta.
Menurut dia, rasio pengasuh dan anak di panti tersebut mencapai satu berbanding enam, lebih tinggi dibandingkan rasio ideal satu berbanding empat.
"Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi perkembangan kemampuan kognitif anak karena interaksi dan pendampingan yang diterima balita menjadi lebih terbatas," ujar Aji, sapaan Hartaji.
Alih-alih mengandalkan penambahan tenaga pengasuh, Aji menawarkan pendekatan melalui desain ruang.
Ia menghadirkan lingkungan bermain yang tidak dibatasi aturan kaku sehingga anak memiliki keleluasaan mengeksplorasi lingkungan sesuai rasa ingin tahu dan imajinasinya.
Konsep open-ended play environment diwujudkan melalui berbagai elemen interior interaktif, seperti pegboard toy yang terpasang pada dinding, furnitur modular yang dapat dipindahkan dan disusun ulang, serta area bermain yang memberikan kebebasan bagi anak untuk berinteraksi dengan ruang. Menurut Aji, desain semacam itu mampu mendorong anak belajar mengambil keputusan, memecahkan masalah sederhana, dan mengembangkan kreativitas tanpa selalu bergantung pada arahan orang dewasa.
"Ruang ini mengajak anak belajar mandiri melalui pengalaman bermain," kata mahasiswa angkatan 2022 tersebut.
Perancangan interior itu difokuskan untuk menumbuhkan tiga aspek utama kreativitas anak usia dini, yakni keterbukaan terhadap pengalaman (openness), kemampuan kreatif (creative abilities), dan kemandirian (independence).
Ketiga aspek tersebut diterjemahkan ke dalam desain melalui penyediaan area eksplorasi yang fleksibel, media bermain multifungsi, hingga penataan furnitur yang tidak membatasi pola aktivitas anak.
Pendekatan tersebut juga mempertimbangkan aspek psikologis balita. Lingkungan yang adaptif dinilai dapat membantu anak mengembangkan rasa percaya diri, keberanian bereksplorasi, sekaligus kemampuan berinteraksi dengan lingkungan sekitar secara lebih alami.
Dari sisi visual, Aji memilih pola geometris berbentuk segitiga dan belah ketupat yang merepresentasikan bentuk atap rumah sebagai simbol rasa aman dan nyaman.
Seluruh sudut furnitur dibuat tumpul dengan tinggi maksimal satu meter untuk meminimalkan risiko cedera.
Sementara itu, penggunaan warna-warna lembut seperti hijau dan merah muda disesuaikan dengan karakter aktivitas motorik di setiap ruang sehingga mampu menciptakan suasana yang kondusif bagi perkembangan anak.
Pengembangan rancangan tersebut dilakukan di bawah bimbingan dosen Departemen Desain Interior ITS, Ajeng Kusumadewi Putri Jatmiko dan Yaritsa Husni Sabiela.
Keduanya mengarahkan agar desain tidak hanya memiliki nilai estetika, tetapi juga mampu menjawab persoalan sosial melalui pendekatan yang inklusif, aman, dan ramah bagi anak usia dini.
Selain menawarkan solusi terhadap keterbatasan pendampingan di panti asuhan, rancangan ini juga selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ketiga tentang kehidupan sehat dan sejahtera, tujuan keempat mengenai pendidikan berkualitas, serta tujuan kesepuluh tentang pengurangan kesenjangan.
Melalui ruang yang dirancang aman, adaptif, dan mendorong eksplorasi, anak-anak di panti asuhan diharapkan memperoleh kesempatan tumbuh kembang yang lebih setara sekaligus memperoleh pengalaman belajar yang mendukung perkembangan kognitif dan kreativitas mereka. (Nayla).