KILAS JAVA, SURABAYA – Pengabdian kepada masyarakat dan pengembangan kapasitas akademik kerap dipandang sebagai dua jalur yang berjalan terpisah. Namun, Kurnia Ramadhani membuktikan keduanya dapat tumbuh beriringan. Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2005 itu menorehkan perjalanan karier yang konsisten dalam pelayanan kesehatan masyarakat sekaligus aktif memperluas wawasan melalui berbagai program pendidikan dan pelatihan internasional.
Lulusan peminatan Administrasi dan Kebijakan Kesehatan tersebut menyelesaikan studi sarjana pada 2009. Setahun kemudian, ia mengawali karier sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di RSUD Waluyo Jati, Kabupaten Probolinggo. Sebagai penyuluh kesehatan masyarakat, Kurnia terlibat langsung dalam berbagai program promotif dan preventif yang menyentuh kebutuhan masyarakat di tingkat layanan kesehatan.
Semangat belajar yang tinggi mendorongnya melanjutkan pendidikan Magister Promosi Kesehatan pada periode 2013–2015 melalui program beasiswa unggulan. Dalam studi tersebut, ia meneliti pengaruh media terhadap kesehatan reproduksi remaja, isu yang hingga kini masih menjadi perhatian dalam pembangunan kesehatan nasional.
Pengalaman internasional mulai ia peroleh pada 2018 saat mengikuti pelatihan Local Economic Development di Belanda melalui Nuffic Fellowship Programme (NFP). Program tersebut memperkaya perspektifnya mengenai keterkaitan antara pembangunan ekonomi lokal, kesehatan masyarakat, dan pemberdayaan komunitas.
Karier Kurnia terus berkembang seiring bertambahnya tanggung jawab kepemimpinan. Pada periode 2017–2019, ia dipercaya menjabat Kepala Seksi Pelayanan Kesehatan dan Keperawatan RSUD Tongas.
Di tahun yang sama, ia juga mengikuti program Global Change Leader di Kanada yang memperluas pemahamannya tentang kepemimpinan sosial dan pembangunan berkelanjutan.
Awal 2019 menjadi titik penting dalam perjalanan profesionalnya. Saat itu, Kurnia dihadapkan pada pilihan antara melanjutkan studi doktoral atau menerima amanah sebagai Kepala Puskesmas Tongas. Ia memilih tetap berada di garis depan pelayanan kesehatan dengan memimpin puskesmas tersebut.
Selama enam tahun memimpin Puskesmas Tongas, yakni pada 2019 hingga 2025, Kurnia bersama tim menghadirkan berbagai inovasi berbasis masyarakat. Salah satunya adalah penguatan kapasitas kader kesehatan dalam pendampingan ibu hamil dan peningkatan cakupan imunisasi.
Selain itu, ia mendorong penyediaan makanan tambahan posyandu berbasis desa yang memanfaatkan sumber daya lokal untuk mendukung perbaikan status gizi masyarakat.
Tidak hanya itu, pendekatan inovatif juga dilakukan melalui pemberdayaan pedagang sayur keliling sebagai agen edukasi gizi. Strategi tersebut menjadi jembatan penyebarluasan informasi kesehatan secara langsung kepada keluarga di tingkat akar rumput.
Di saat yang sama, berbagai program peningkatan konsumsi pangan lokal dan pencegahan anemia pada remaja juga terus dikembangkan.
Ketika pandemi COVID-19 melanda, Kurnia turut menggagas layanan konsultasi kesehatan gratis untuk memastikan masyarakat tetap memperoleh akses informasi kesehatan yang memadai. Setelah pandemi mereda, inovasi berlanjut melalui pengembangan chatbot berbasis WhatsApp yang digunakan sebagai media edukasi dan pendampingan pencegahan stunting.
Perhatian besarnya terhadap kesehatan ibu melahirkan program “Mbakyu Sahabat Bumil”. Program yang memperoleh dukungan Samya Stumo Fellowship for Global Health tersebut berfokus pada peningkatan kapasitas kader dalam mendampingi ibu hamil hingga masa nifas melalui edukasi, pemantauan kondisi kesehatan, serta kunjungan rumah secara berkala.
Melalui kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan, program tersebut berhasil memperkuat sistem pendampingan ibu hamil di wilayah kerja Puskesmas Tongas. Upaya itu turut berkontribusi pada pencapaian nol angka kematian ibu selama periode pelaksanaan program.
Inovasi yang dikembangkan Kurnia mendapatkan perhatian di tingkat internasional. Pada 2024, ia memperoleh kesempatan mempresentasikan program “Mbakyu Sahabat Bumil” dalam Women’s Health Conference di Singapura. Forum tersebut menjadi ruang berbagi praktik baik mengenai penguatan kesehatan ibu berbasis komunitas.
Saat ini, Kurnia tengah menempuh studi doktoral pada Department of Health Sciences, University Medical Center Groningen, bagian dari University of Groningen. Penelitiannya berfokus pada pengembangan intervensi pencegahan anemia remaja di Indonesia, sebuah isu kesehatan yang masih menjadi tantangan dalam pembangunan sumber daya manusia nasional.
Di tengah aktivitas akademik dan penelitian yang dijalani, Kurnia tetap membawa semangat pengabdian yang telah ia bangun sejak awal karier. Pengalaman di lapangan, kepemimpinan dalam pelayanan kesehatan primer, hingga keterlibatan dalam forum internasional menjadi modal penting dalam mengembangkan pendekatan kesehatan masyarakat yang lebih adaptif, inklusif, dan berkelanjutan. (Nayla).

