Notification

×

Iklan

Iklan

Profesi Dokter Tak Lagi Milik Kalangan Tertentu, Ini Fakta Menarik di Unusa

Kamis, 21 Mei 2026 | Mei 21, 2026 WIB Last Updated 2026-05-21T10:56:19Z
Kilas Java, Surabaya - Dunia kedokteran yang selama ini identik dengan profesi turun-temurun perlahan mulai berubah. Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya (Unusa) mencatat fakta menarik dalam pelantikan dokter terbarunya. Sebanyak 84 persen dokter baru yang dilantik ternyata berasal dari keluarga non-dokter.

Fenomena tersebut menjadi gambaran bahwa akses pendidikan kedokteran kini semakin terbuka bagi masyarakat dari berbagai latar belakang. Tidak lagi didominasi anak dokter atau keluarga dengan tradisi medis yang kuat.

Dalam pengambilan sumpah dokter terbaru, Unusa melantik 16 dokter baru yang siap terjun mengabdi di tengah masyarakat. Sebagian besar di antaranya merupakan generasi pertama dokter di keluarganya.

Dekan Fakultas Kedokteran Unusa, Prof. Dr. Budi Santoso, menyebut profesi dokter selama ini memang kerap dipandang sebagai profesi eksklusif. Selain biaya pendidikan yang tinggi, lingkungan keluarga dokter dinilai memberi keuntungan tersendiri dalam proses pembelajaran.

“Tidak banyak dokter yang berasal dari keluarga non-dokter. Sebab, proses pendidikan kedokteran membutuhkan pengetahuan tambahan dan pengalaman yang sering kali lebih mudah diperoleh dari lingkungan keluarga dokter,” ujarnya.

Menurut Prof. Budi, kondisi tersebut membuat profesi dokter selama bertahun-tahun identik dengan regenerasi dalam lingkup keluarga yang sama.

Namun, ia menegaskan bahwa situasi itu kini mulai berubah. Bahkan dirinya sendiri merupakan dokter generasi pertama dalam keluarganya.

“Saya bukan berasal dari keluarga dokter. Tetapi setelah itu anak saya dan keluarga dekat saya kemudian menjadi dokter. Artinya akses pendidikan ini sebenarnya bisa terbuka dan berkelanjutan,” katanya.

Rektor Universitas Nahdlatul Ulama Surabaya Prof. Tri Yogi Yuwono mengatakan, capaian tersebut menjadi bagian dari komitmen Unusa dalam menghadirkan pendidikan kedokteran yang lebih inklusif dan berkeadilan.

Menurutnya, profesi dokter tidak boleh hanya dapat dijangkau kelompok tertentu. Semua anak bangsa harus memiliki kesempatan yang sama untuk meraih pendidikan tinggi, termasuk di bidang kedokteran.

“Hadirnya mayoritas dokter baru dari keluarga non-dokter adalah bukti bahwa pendidikan kedokteran tidak boleh eksklusif. Kesempatan harus terbuka bagi siapa saja yang memiliki kemampuan dan kemauan kuat,” ujarnya.

Ia menilai keberhasilan tersebut bukan sekadar capaian akademik, tetapi juga bentuk perubahan sosial dalam dunia pendidikan tinggi di Indonesia.

“Kami ingin mengirimkan pesan kuat kepada masyarakat bahwa menjadi dokter bukan monopoli kelompok tertentu. Anak-anak dari keluarga biasa pun memiliki peluang yang sama untuk berhasil,” tegasnya.

Salah satu dokter baru, Benta Malika El Ghameela, mengaku harus beradaptasi lebih keras dibanding mahasiswa yang berasal dari keluarga dokter. Sebab, dirinya tidak memiliki gambaran awal mengenai proses pendidikan kedokteran.

“Kalau berasal dari keluarga dokter, biasanya sudah ada bayangan tentang dunia kuliah kedokteran maupun profesi dokter. Sedangkan saya benar-benar belajar dari awal,” katanya.

Benta yang berasal dari keluarga pedagang mengaku bangga karena langkahnya masuk Fakultas Kedokteran Unusa akhirnya diikuti anggota keluarga lain.

“Setelah saya diterima di FK Unusa, dua sepupu saya ikut masuk kedokteran. Saya seperti membuka jalan bagi keluarga besar bahwa orang biasa juga bisa menjadi dokter,” ujarnya.

Melalui berbagai program pembinaan akademik, pendampingan mahasiswa, hingga penguatan karakter, Unusa terus mendorong terciptanya pendidikan kedokteran yang lebih adaptif dan mudah diakses oleh mahasiswa dari beragam kondisi sosial ekonomi. (Nayla).
TUTUP IKLAN
TUTUP IKLAN
×
Berita Terbaru Update